Pembatasan Pemain Asing di Liga Inggris, Bagus Atau Jelek?

7

  George Dyke, Ketua FA, berencana membatasi jumlah pemain asing di Liga Inggris. Argumentasi yang sering digunakannya adalah, betapa menyedihkannya Manchester City memenangkan Premier League musim kemarin dengan hanya 2 pemain pribumi Inggris bermain sebagai starter reguler. Baru-baru ini Dyke merilis rencana utama untuk membantu menghidupkan kembali sepakbola Inggris. Sebagian besar dalam bentuk pembatasan jumlah pemain asing […]

Pembatasan Pemain Asing di Liga Inggris, Bagus Atau Jelek? - berita Internasional Liga Inggris

 

George Dyke, Ketua FA, berencana membatasi jumlah pemain asing di Liga Inggris. Argumentasi yang sering digunakannya adalah, betapa menyedihkannya Manchester City memenangkan Premier League musim kemarin dengan hanya 2 pemain pribumi Inggris bermain sebagai starter reguler.

Baru-baru ini Dyke merilis rencana utama untuk membantu menghidupkan kembali sepakbola Inggris. Sebagian besar dalam bentuk pembatasan jumlah pemain asing di Liga Inggris; dan pada saat yang sama mereformasi sistem pemain pinjaman dan merilis prosedur yang lebih ketat lagi untuk pemberian visa bagi pemain non-Uni Eropa.

Rencana ini bahkan datang sebelum Piala Dunia di Brasil, pada saat di setiap pub dan di setiap meja makan semua orang memperdebatkan kualitas skuad Inggris dan peluangnya di turnamen.

Inggris tersingkir untuk kesekian kalinya di level penyisihan grup di Brasil.

Sepakbola adalah salah satu ekspor terbesar budaya Inggris, dengan 643 juta rumah tangga di seluruh dunia menonton pertandingan Liga Premier secara teratur.

Kehadiran pemain Uni Eropa dan non-Uni Eropa yang terus tumbuh merupakan bentuk bebasnya pergerakan tenaga kerja dan modal dalam bisnis global sepakbola. Namun rencana Dyke datang pada saat iklim politik saat ini di Inggris tengah skeptis perihal kebijakan imigrasi dan naiknya prasangka terhadap orang asing secara keseluruhan.

Ini bukan pertama kalinya ada usul mengenai pembatasan pemain asing di Premier League. Pemain Manchester United Rio Ferdinand tahun lalu pernah menulis sebuah artikel, yang menyatakan bahwa memiliki begitu sedikit pemain Inggris di liga akan  mengurangi kualitas tim Inggris.

Statistik mencerminkan keprihatinan ini. Premier League memiliki salah satu jumlah terendah pemain pribumi dibandingkan liga lainnya di Eropa. Hanya 32,2% adalah pemain asli Inggris, kontras dengan musim 1992/93 di mana hanya ada 11 pemain asing.

Masuknya pemain asing datang bersamaan saat harga hak siar televisi untuk pertandingan Liga Premier terus meroket, dengan Sky Sports dan BT Live menghabiskan rekor pembelian 3 milyar pound (setara Rp 61,3 trilyun) untuk hak-hak siar TV periode 2013-16.

Ini berarti bahwa setiap klub Liga Premier akan menerima tambahan 60 juta pound (Rp 1,2 trilyun) per tahun untuk bagian mereka dari hak siar televisi, yang akan dengan cepat dihabiskan untuk biaya transfer dan gaji, membawa pemain-pemain asing terbaik ke tanah Inggris.

Ini telah mengubah alasan awal di balik pembelian pemain asing, dari keinginan asli untuk mendapatkan pemain yang lebih ‘murah’ untuk klub, menjadi alasan untuk membeli pemain terbaik di dunia.

Sementara beberapa melihat kehadiran pemain asing sebagai negatif bagi sepakbola Inggris, pemain seperti James Milner dan Frank Lampard melihatnya sebagai sesuatu yang positif. Menurut mereka, bermain bersama banyak pemain kelas dunia membuat mereka menjadi pemain yang lebih baik, karena harus terus berjuang untuk mendapatkan tempat di tim.

Perdebatan ini sering mengabaikan manfaat ekonomi seperti naiknya jumlah iklan dan semakin terkenalnya nama tim, serta manfaat bagi tim yang meliputi pengetahuan dan keterampilan lain yang tidak selalu dimiliki pemain Inggris.

Banyak penggemar akan setuju bahwa ada terlalu banyak pemain asing di Liga Premier namun para gilabola yang sama melihat pemain asing di klub mereka sebagai aset, sering mengadopsi figur pemain asing itu sebagai identitas mereka.

Menyalahkan banyaknya jumlah pemain asing untuk penurunan kualitas skuad Inggris sama dengan menyalahkan kaum imigran untuk penurunan kesempatan kerja atau upah. Mengecilkan masalah yang sesungguhnya. Pada tahun 1994 Inggris juga hanya memiliki beberapa pemain asing saja, namun Inggris tetap saja tidak bisa lolos ke Piala Dunia. Ini menumpulkan argumen yang dibuat oleh Dyke.