Piala Dunia 2018, Bisakah Rusia Memberantas Rasisme?

41

Rusia tersingkir di penyisihan grup Piala Dunia 2014 tanpa mencatat satu kemenangan pun. Dengan menjadi tuan rumah 2018, Rusia tak perlu kuatir ikut kualifikasi wilayah Eropa. Tuan rumah dipastikan dapat satu tempat. Isu utama di Rusia bukanlah kualitas sepakbolanya, atau infrastruktur stadionnya, melainkan rasisme. Di laga Liga Champions CSKA Moskow vs Manchester City November tahun lalu, […]

Internasional Piala Dunia  - Piala Dunia 2018, Bisakah Rusia Memberantas Rasisme?

Rusia tersingkir di penyisihan grup Piala Dunia 2014 tanpa mencatat satu kemenangan pun. Dengan menjadi tuan rumah 2018, Rusia tak perlu kuatir ikut kualifikasi wilayah Eropa. Tuan rumah dipastikan dapat satu tempat.

Isu utama di Rusia bukanlah kualitas sepakbolanya, atau infrastruktur stadionnya, melainkan rasisme.

Di laga Liga Champions CSKA Moskow vs Manchester City November tahun lalu, suara-suara monyet bermunculan saat Yaya Toure membawa bola. Tindakan itu berbuah sanksi dari badan sepakbola Eropa, UEFA.

Insiden itu memperlihatkan bahwa rasisme dan juga kekerasan menjadi masalah utama dalam dunia sepakbola mereka.

Musim lalu juga ada insiden pengibaran bendera berlambang swastika saat pertandingan kandang Spartak Moskow dan insiden suporter Zenit St Peyersburg memasuki lapangan dan memukul seorang pemain lawan.

“Sepakbola Rusia akan melakukan segala upaya untuk memerangi (rasisme),” kata Sorokin. “Hal ini ada di mana-mana, kami juga tidak terkecuali. Jadi kami akan melakukan apa yang kami bisa.”

Beberapa gilabola klub-klub Rusia telah menunjukkan mereka seperti berada “di planet yang berbeda dalam hal pola pikir mereka,” kata Piara Powar, kepala anti-diskriminasi FARE, sebuah kelompok yang melakukan monitoring atas Rusia menjelang 2018. “Kami memiliki penggemar sepak bola yang mengamuk, yang ingin menyerang etnis minoritas. Jadi dalam hal ini, saya berpikir bahwa seluruh masalah itu ada di sini dan itu semakin buruk.”

Tahun lalu, Rusia mengesahkan Undang-undang Penggemar, yang memperkenalkan larangan memasuki stadion untuk para pembuat onar di acara-acara olahraga. Powar mengatakan hukum diberlakukan ‘sangat ketat’ tetapi perlu disertai dengan inisiatif pendidikan.

Kekhawatiran lain untuk Rusia adalah kinerja timnasnya, yang tersingkir di babak penyisihan grup di Brasil tanpa memenangkan satu pun laga. Kinerja yang buruk itu telah menempatkan pelatih Fabio Capello dalam pertanyaan, sementara fokus baru sedang diberikan untuk mengembangkan pemain muda untuk 2018, dan bahkan untuk melakukan naturalisasi bagi pemain asing, saran yang masih diperdebatkan dalam beberapa bulan terakhir di pemerintahan. Namun yang pasti, sebagai tuan rumah, Rusia tidak perlu kuatir soal babak kualifikasi.