Piala Dunia 2018 di Rusia Jalan Terus, Tegas FIFA

FIFA telah menolak seruan untuk memindahkan Piala Dunia 2018 dari Rusia dan menegaskan bahwa  turnamen tersebut “dapat menyebabkan perubahan positif.”

Dugaan keterlibatan Rusia dalam menembak jatuh sebuah pesawat Malaysia Airlines MH17 atas Ukraina pekan lalu mendorong seruan dari beberapa anggota parlemen di Jerman untuk meninjau hak Rusia sebagai tuan rumah.

Pada hari Jumat, FIFA mengeluarkan pernyataan yang mengatakan badan organisasi itu “menyesalkan segala bentuk kekerasan” dan akan mendukung debat damai dan demokratis perihal Piala Dunia.

“Sejarah telah memperlihatkan, memboikot acara olahraga atau kebijakan isolasi atau konfrontasi bukan cara yang paling efektif untuk memecahkan masalah,” kata FIFA, menambahkan bahwa perhatian global pada Piala Dunia “dapat menjadi katalis yang kuat untuk dialog yang konstruktif antara masyarakat dan pemerintah.”

Konflik antara Ukraina dan pemberontak separatis pro-Rusia meningkat dari hari ke hari setelah Piala Dunia berakhir di Brasil.

Pada tanggal 13 Juli 2014 di Rio de Janeiro, Presiden Rusia Vladimir Putin menghadiri upacara penyerahan tuan rumah Piala Dunia  dari mitra Brasilnya, Dilma Rousseff. Keduanya kemudian duduk di samping Presiden FIFA Sepp Blatter untuk menonton laga final di Stadion Maracana, yang dimenangkan oleh Jerman.

Menteri Olahraga Rusia Vitaly Mutko mengatakan Piala Dunia di negaranya “dapat menjadi kekuatan untuk kebaikan.”

“FIFA percaya bahwa ini akan menjadi kasus untuk Piala Dunia 2018 di Rusia,” kata organisasi tersebut.

Blatter sudah menolak seruan untuk melucuti Rusia sebagai tuan rumah turnamen tersebut setelah peristiwa pencaplokan semenanjung Krimea awal tahun ini.

“Kita sudah memilih dan memberikan Piala Dunia kepada Rusia dan kita akan maju terus dengan pekerjaan kami,” kata Blatter bulan  Maret lalu.

Dalam pernyataan terpisah Jumat, Mutko mengatakan boikot yang dipimpin Amerika Serikat saat Olimpiade Moskow 1980 merupakan sebuah kesalahan.

Rusia telah mengumumkan anggaran sebesar Rp 231,5 Milyar guna membangun dan merenovasi 12 stadion dan proyek konstruksi lainnya untuk Piala Dunia pertama di Eropa Timur tersebut.

“FIFA telah menyatakan berkali-kali bahwa olahraga harus terpisah dari politik,” kata Mutko. “Dengan menjadi penyelenggara acara seperti ini, kami melakukannya untuk atlet dari seluruh dunia, bagi para pemain, dan untuk para gilabola.”

Advertisement