Keluarga Pemain Sepakbola

Sepakbola adalah olahraga terpopuler di dunia. Tak sedikit anak dari pemain mengikuti jejak ayahnya bermain sepakbola. Berikut ini beberapa contoh ayah dan anak yang sukses sebagai pemain sepakbola. Keluarga Cruyff Johan Cruyff dianggap sebagai salah satu pesepakbola tercerdas di dunia. Di tingkat klub, Johan sukses bersama Ajax Amsterdam dan FC Barcelona. Ia tumbuh di akademi […]

Keluarga Pemain Sepakbola

Sepakbola adalah olahraga terpopuler di dunia. Tak sedikit anak dari pemain mengikuti jejak ayahnya bermain sepakbola. Berikut ini beberapa contoh ayah dan anak yang sukses sebagai pemain sepakbola.

Keluarga Cruyff

Keluarga Cruyff

Johan Cruyff dianggap sebagai salah satu pesepakbola tercerdas di dunia. Di tingkat klub, Johan sukses bersama Ajax Amsterdam dan FC Barcelona. Ia tumbuh di akademi muda Ajax.

Johan membawa kejayaan untuk Ajax dengan memenangkan European Cup (sekarang Liga Champions) tiga kali berturut-turut. Pada tingkat Eredivisie (Liga Belanda),ia juga membawa Ajax juara enam kali dalam rentang tujuh musim (1966/1966-1973).

Johan membantu klubnya menguasai Eropa, menggoda Barcelona, klub Spanyol. Ia pun langsung menjadi pemain kesayangan rakyat Catalan karena dalam konferensi pers di awal berlaga untuk Barcelona, Johan berkata bahwa ia memilih Barcelona karena tak mungkin bermain untuk klub yang dekat dengan diktator Spanyol, Jenderal Franco. Siapa lagi klub yang disindirnya kalau bukan Real Madrid. Di Barcelona pula Johan Cruyff kelak menjadi ayah.

Johan membawa perubahan besar untuk Barcelona. Musim pertama kedatangannya langsung menghasilkan gelar juara La Liga bagi Barcelona. Sebelum ada Johan, dalam 14 tahun Barcelona belum meraih prestasi. Johan masih menghadirkan satu gelar lagi untuk El Barca, yaitu juara Copa del Rey 1978.

Kemudian Johan menunjukkan kecintaannya terhadap Barcelona dan Catalan, dengan menamai anaknya Jordi, yang penuh dengan cita rasa Catalan. Jordi Cruyff lahir pada 9 Februari 1974. Ketika dia lahir, Jordi seolah sudah harus menentang dunia yang akan membanding-bandingkannya dengan sosok sang ayah.

Jordi memulai karier di Barcelona B, kala sang ayah menangani tim senior Barcelona sebagai pelatih. Dua tahun dimatangkan di tingkat junior, Jordi akhirnya melakoni debut bersama klub kebanggaan rakyat Catalan pada September 1994.

Adanya sang ayah di sisi membuat penampilan Jordi cemerlang. Namun, seiring dengan pemecatan sang ayah, posisi Jordi di Barcelona semakin terancam.

Akhirnya, pada 1996, Jordi menandatangani kontrak bersama Manchester United, tempatnya memulai karier baru tanpa bayang-bayang sang ayah. Jordi lagi-lagi memulai karier dengan cemerlang bersama MU.

Sayangnya, Jordi mendapat cedera berulang-ulang, sehingga ia tidak lagi mendapatkan tempat di skuad Sir Alex Ferguson. Empat musim berseragam United (dan sempat dipinjamkan ke Celta Vigo), akhirnya Jordi pindah.

Nampaknya, perjalanan karier Jordi terus diperbandingkan dengan sang ayah. Ia beberapa kali berganti klub sebelum gantung sepatu pada 2011 di klub Liga Malta, Valletta. Sepanjang hidup, Jordi cuma memperkuat timnas Belanda 9 kali. Lebih sedikit jika dibandingkan dengan karier timnas ayahnya.

Keluarga Mazinho

Keluarga Mazinho

Mazinho yang berposisi sebagai gelandang, adalah salah satu pemain yang membawa Brazil menjuarai Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Ia pernah mengembara ke tanah Spanyol dan memperkuat tiga klub dalam enam musim. Ia juga pernah bermain di Liga Italia, untuk Lecce dan Fiorentina.

Istri Mazinho seorang atlet voli bernama Valeria Alcantara. Mereka mempunyai dua anak bernama Thiago dan Rafinha Alcantara. Kedua anaknya tumbuh bersama Barcelona.

Thiago yang berperan sebagai gelandang, menjadi salah satu tulang punggung Barcelona era Pep Guardiola yang begitu rakus dengan gelar. Thiago sudah merasakan nikmatnya meraih 5 gelar dalam 6 kompetisi pada tahun 2011 lalu, saat usianya masih tergolong belia. Ia juga diproyeksikan akan menggantikan peran Xavi Hernandez, salah satu pemain yang menjadi legenda Barcelona bahkan sebelum pensiun.

Adik Thiago, Rafinha Alcantara mulai mendapatkan tempat di tim senior Barcelona pada musim 2011/2012. Sang adik bermain sebagai gelandang serang. Bisa dikatakan, Thiago dan Rafinha Alcantara sudah mencapai popularitas yang setara dengan ayah mereka.

Keluarga Busquets

Keluarga Busquets

Carles Busquets adalah kiper cadangan The Dream Team Barcelona ketika menjuarai Liga Champions pertama kalinya pada 1992. Saat itu, ia menjadi deputi untuk Andoni Zubizarreta, salah satu kiper legendaris Spanyol.

Namun dipertengahan dekade 1990-an Zubizarreta meninggalkan Barcelona untuk bergabung dengan Valencia. Kesempatan ini digunakan Carles untuk menunjukkan bakatnya. Tapi Carles pun tetap tidak bisa menempati posisi pertama.

Akhirnya manajemen memutuskan untuk mencari kiper yang lebih terkenal. Pilihan tiba pada Victor Baia (Portugal) dan Ruud Hesp (Belanda). Apalagi di akhir era 1990-an, datanglah Louis Van Gaal, pelatih Belanda yang seolah ingin memasukkan semua pemain Belanda ke dalam kubu Barcelona.

Carles Busquets bermain 99 kali untuk Barcelona, kemudian pindah ke Lleida. Kebanggaan Busquets berseragam Barcelona kelak akan dilanjutkan oleh sang anak, Sergio Busquets. Sergio datang ke Barcelona pada waktu yang tepat. Musim 2008/2009, ia memulai debut di tim Barcelona yang lebih mengandalkan produk akademi La Masia.

Saat usia Sergio 20 tahun, ia sudah menjadi jangkar tim sekelas Barcelona. Musim pertama Sergio berseragam Barcelona dilakoni dengan sukses, dengan penampilannya sebanyak 41 kali di seluruh kompetisi.

Pada musim berikutnya, Sergio selalu tampil di atas 40 kali permusimnya. Sergio dikenal dengan sosoknya yang begitu mudah jatuh oleh “embusan angin”, namun ia tetap merupakan bagian penting dalam kejayaan Barcelona di akhir dekade 2000-an hingga awal 2010-an.

Sergio sukses memboyong gelar Liga Champions 2009 dan 2011. Dengan catatan ini, Sergio dan Carles tercatat sebagai anak dan ayah ketiga yang sama-sama mampu memenangi gelar Liga Champions sepanjang sejarah.

Sepakbola.cc