Prediksi Final Jerman vs Argentina, Kegeniusan Satu Orang versus Mesin

  • Ini hanya sebuah nasihat kecil saja, buat kamu-kamu yang sudah 100% yakin banget bahwa Jerman bakal menang di partai final Piala Dunia, Senin dinihari WIB nanti. Ini merupakan analisa mendalam dan panjang (dan agak boring) dari seorang penulis yang dimuat di koran New York Times. Nama penulisnya Rob Hughes. Ia membandingkan mesin Jerman dengan kegeniusan […]

Internasional Liga Jerman Piala Dunia  - Prediksi Final Jerman vs Argentina, Kegeniusan Satu Orang versus Mesin

Ini hanya sebuah nasihat kecil saja, buat kamu-kamu yang sudah 100% yakin banget bahwa Jerman bakal menang di partai final Piala Dunia, Senin dinihari WIB nanti.

Ini merupakan analisa mendalam dan panjang (dan agak boring) dari seorang penulis yang dimuat di koran New York Times. Nama penulisnya Rob Hughes. Ia membandingkan mesin Jerman dengan kegeniusan yang selalu lahir di tim Argentina. Diego Maradona di masa lalu, Lionel Messi di masa kini. Mampukan kegeniusan satu orang mengalahkan efisiensi dan disiplin satu mesin?

Ia menulis begini (terjemahan bebas):

Apa yang diajarkan Piala Dunia kepada kita adalah, jangan menerima segala sesuatu apa adanya. Spanyol datang sebagai juara bertahan, dan tersisih di babak pertama. Brazil percaya pada keuntungan sebagai tuan rumah dan Neymar akan membawa mereka melewati segala tantangan; tetapi Neymar cedera, dan Selecao kalah memalukan oleh Jerman.

Jadi Jerman adalah favorit untuk mengalahkan Argentina di final hari Minggu? Boleh saja bilang begitu kalau kamu mau. Tapi saya tidak akan bertaruh satu sen pun melawan tim yang mencakup Lionel Messi di dalamnya dan sistem pertahanan yang belum kebobolan selama tiga pertandingan terakhir, dua di antaranya melalui perpanjangan waktu.

Kita semua menunggu laga ke-64 dan sekaligus laga terakhir di Rio de Janeiro, di mana atap bulat dari Estádio do Maracanã menyerupai halo putih di bawah dasar patung batu raksasa Kristus Penebus. Apa yang akan terjadi, kita tidak bisa memprediksi. Tujuh gol Jerman yang menyingkirkan Brasil (lima dari mereka terjadi dalam rentang 18 menit di babak pertama) mungkin menunjukkan bahwa Mannschaft memiliki semua senjata, serta keuntungan dari menikmati satu hari ekstra untuk istirahat dan mempersiapkan diri untuk final.

Bagaimanapun, sejarah memberitahu kita bahwa tidak pernah ada tim Eropa yang telah memenangkan Piala Dunia di benua Amerika. Dan Argentina, pemenang Piala Dunia di Buenos Aires pada tahun 1978 dan di Mexico City pada tahun 1986, tahu persis bagaimana caranya untuk menang di bagian dunia ini.

Sebenarnya banyak yang sudah dihasilkan dari ketelitian ala Jerman dalam sepakbola. Mereka menjelajahi seluruh negeri, mengumpulkan anak-anak yang berbakat dan, sama pentingnya dengan itu, guru-guru yang akan mengajar mereka, untuk mengangkat derajat sepakbola sedikit demi sedikit, setelah kegagalan di Piala Eropa 14 tahun silam.

Dengan cara itulah Asosiasi Sepakbola Jerman dan klub-klub besar memberi penekanan pada anak-anak remaja untuk berkembang ke arah yang kita lihat saat ini. Sebagian besar pemain-pemain tim nasional saat ini tumbuh bersama dalam turnamen-turnamen remaja global, yang setiap langkahnya dilakukan untuk membuat Jerman “Turniermannschaft,” sebuah tim yang siap sedia berlaga untuk turnamen.

Kanselir Angela Merkel, penggemar sejati dari sepakbola, berencana untuk berada di stadion Maracanã untuk laga yang sangat ditunggu akhir pekan ini. Tidak diragukan lagi Merkel sangat menyadari bahaya yang mengintai dari balik seragam biru muda Argentina.

Si jenius Messi, yang berusaha untuk membuat turnamen ini mengkonfirmasi statusnya setara legenda Diego Maradona, menyadari adanya momen-momen inspiratif yang tidak sesuai logika. Tentu jika para pemain kedua kubu dibandingkan, Jerman memiliki lini tengah yang terus berusaha menguasai bola dan, jika Argentina tidak berhati-hati, mereka akan lewat dan bergerak cepat seperti pisau panas memotong mentega.

Jerman memiliki Thomas Müller, yang bisa menyerang secara tiba-tiba, dari tempat yang tak terduga, dan yang memiliki stamina untuk terus berlari sampai ia menemukan peluang. Jerman memiliki Miroslav Klose yang luar biasa, pencetak gol paling produktif sepanjang sejarah. Ke-16 gol Klose dalam empat turnamen Piala Dunia datang dari area penalti, tapi tidak terdeteksi adalah senjata utamanya, kemampuannya untuk mengintai secara diam-diam sampai ia punya kesempatan menyerang.

Klose kini berusia 36 tahun. Ia bisa memberi tim satu jam penuh sampai energinya habis. Dan tanpa terbantahkan dia adalah satu-satunya striker utama Jerman di acara ini.

Argentina punya Messi, yang bisa muncul dari mana saja yang ia suka. Tim Tango memiliki Gonzalo Higuain, Ezequiel Lavezzi, Ricardo Palacio, dan jika fit, Sergio Agüero dan Ángel María yang kesemuanya mampu memecah kebuntuan. Tapi kebugaran adalah isu utama di sini.

Hari-hari itu telah lama hilang, yakni ketika klub-klub Amerika Selatan bisa mempertahankan pemain bintang mereka. Sementara saat ini banyak dari antara mereka memiliki musim yang panjang dan sulit untuk klub-klub di Spanyol, Inggris dan Italia, lagi-lagi Jerman lebih unggul untuk urusan ini.

Bundesliga adalah liga kaya raya. Bayern Munich adalah yang terkaya dari mereka semua, dan tujuh anggota tim Jerman – Müller, Manuel Neuer, Philipp Lahm, Jérôme Boateng, Bastian Schweinsteiger, Toni Kroos dan Mario Götze – semuanya bermain di tim Munich yang sudah memastikan gelar juara liga domestik mereka sejak Maret lalu.

Memastikan juara liga sejak Maret itu mungkin akan membantu untuk menghemat banyak energi, terutama untuk sebuah turnamen panjang dan panas dekat dengan khatulistiwa. Jika akademi Bayern tidak bisa mendidik mereka untuk soal itu, Bayern Munich mampu untuk membelinya kok.

Sesungguhnya Bayern Munich telah menunjukkan tipe kekuatan dan kekejaman tanpa ampun yang sama, seperti yang Jerman pamerkan melawan Brasil pekan ini. Sebagian besar pemain di tim nasional saat ini berada di balik kaos merah Bayern pada musim semi tahun 2013 ketika Bayern Munich mengempeskan gaya tiki taka Barcelona.

Bayern waktu itu menang 7-0, hasil dua leg di Liga Champions. Messi adalah bagian dari skuad Barca, tetapi sebagai pemain yang menderita cedera otot paha yang terus menghantuinya musim itu.

Bayern mengambil keuntungan penuh atas hal itu, dan hal serupa pernah terjadi masa lalu. Kembali ke tahun 1974, ketika Jerman Barat mengalahkan Belanda untuk memenangkan Piala Dunia, skuad dibangun di sekitar enam orang pemain Bayern – Sepp Maier, Paul Breitner, Hans-Georg Schwarzenbeck, Gerd Müller, Uli Hoeness dan sang pemimpin, Franz Beckenbauer.

Belanda juga memiliki pemain-pemain bagus. Dan mereka punya, seperti halnya Argentina hari ini, pemain yang paling artistik di zamannya, Johan Cruyff. Kerja sama tim Jerman, efisiensi, ketelitian, semangat kolektif, sebut saja apa saja yang Anda mau, berhasil mengalahkan Belanda waktu itu. Pengaruh Cruyff itu, akhirnya, tak bersisa.

Tapi Maradona telah melakukannya untuk Argentina, memimpin tim nasional untuk meraih gelar juara dunia 1986 di Meksiko. Beberapa mengatakan itu adalah hasil karya satu orang saja, si Tangan Genius pada tahun itu. Tapi menurut ingatan saya sendiri, beberapa pemain bagus Argentina yang dewasa dan sangat bisa diandalkan bersedia merendahkan diri mereka untuk menjaga ketertiban di belakang sementara sang pemain bintang menyerang dengan riang gembira.

Tidak ada pertanyaan, Maradona membuat perbedaan. Siapa lawannya hari itu di Stadion Azteca di partai final? Jerman Barat.

Dan siapakah dua petarung di final Piala Dunia berikutnya, di Roma? Jerman Barat dan Argentina lagi, tapi kali ini dengan hasil yang sangat berbeda. Jerman menang 1-0 hasil tendangan penalti. Maradona ada di lapangan, namun tampil buruk, tidak bisa menjadi bintang seperti di Meksiko.

Gantilah Messi untuk Maradona, dan Jerman baru untuk tim lama, dan Argentina-Jerman kembali bertarung di Maracanã, lusa dinihari WIB.