Protes Hasil Voting Ballon d’Or Makin Kisruh

2

Pelatih Qatar dan Kuwait sebelumnya sudah mengungkap kecurigaan mereka terkait kecurangan voting Ballon d’Or, kini kisruh itu berlanjut. Para peserta voting yang lain kini mengikuti jejak mereka. Jadinya semakin banyaklah para voters yang menyatakan kecurigaan kecurangan gelaran ballon d’Or tahun 2013. Seperti diberitakan sebelumnya, Pelatih Qatar Fahad Al Zaraa mengaku dipaksa oleh Presiden federasi sepakbola di negaranya untuk memilih Cristiano Ronaldo sebagai pilihan […]

Protes Hasil Voting Ballon d'Or Makin Kisruh - berita Internasional Pelatih Qatar dan Kuwait sebelumnya sudah mengungkap kecurigaan mereka terkait kecurangan voting Ballon d’Or, kini kisruh itu berlanjut. Para peserta voting yang lain kini mengikuti jejak mereka. Jadinya semakin banyaklah para voters yang menyatakan kecurigaan kecurangan gelaran ballon d’Or tahun 2013.

Seperti diberitakan sebelumnya, Pelatih Qatar Fahad Al Zaraa mengaku dipaksa oleh Presiden federasi sepakbola di negaranya untuk memilih Cristiano Ronaldo sebagai pilihan utama, alasannya karena ada desakan dari Sepp Blatter. Pelatih Kuwait Jorvan Vieira juga mengaku suara pilihannya telah diubah tanpa sepengetahuannya.

Belum tuntas, kini giliran pelatih timnas Fiji Juan Carlos Buzzetti yang ikutan menyampaikan protesnya. Dalam rilis resmi hasil voting FIFA, disitu tertulis kalau Buzzetti memilih Cristiano RonaldoFranck Ribery dan Robert Lewandowski.

“Saya pilih Cristiano, Lionel Messi lalu Ribery. Saya tak mungkin memilih Lewandowski, dia belum sejajar dengan tiga pemain pilihan saya,” ujar Buzzetti dengan ketus kepada BT.

Masih ada lagi protes dari pelatih timnas Albania Giovanni Di Biasi, ia juga sangat kesal karena pilihannya telah dirubah. Di rilis FIFA, Di Biasi tercatat memilih Zlatan Ibrahimovic di tempat pertama.

“Saya memberikan lima poin untuk Ronaldo, tiga kepada Messi dan satu kepada Ibrahimovic. Saya tidak memberikan lima poin kepada Ibrahimovic. Ini semua omong kosong dan kebohongan saja,” kata Di Biasi kepada Dagbladet.