Qatar Mulai Ingkari Beberapa Janjinya Sendiri

27

Saat berusaha mendapatkan Piala Dunia 2022 Qatar membuat banyak janji-janji. Mereka berjanji membuat 12 stadion baru, menjalankannya di musim panas, dan menerapkan teknologi maju berpendingin ruangan guna melawan suhu udara yang mendekati 50 derajat Celcius Sekarang, kurang dari empat tahun setelah FIFA menunjukkan sebagai negara tuan rumah, Qatar mulai mengingkari janji-janjinya tersebut. Pada tahun 2010 negara itu mengajukan proposal […]

Internasional Piala Dunia  - Qatar Mulai Ingkari Beberapa Janjinya Sendiri

Saat berusaha mendapatkan Piala Dunia 2022 Qatar membuat banyak janji-janji.

Mereka berjanji membuat 12 stadion baru, menjalankannya di musim panas, dan menerapkan teknologi maju berpendingin ruangan guna melawan suhu udara yang mendekati 50 derajat Celcius

Sekarang, kurang dari empat tahun setelah FIFA menunjukkan sebagai negara tuan rumah, Qatar mulai mengingkari janji-janjinya tersebut.

Pada tahun 2010 negara itu mengajukan proposal penawaran yang berisi rencana pembangunan 12 stadion baru dengan anggaran $ 4 Milyar dari pemerintah Qatar. Bahkan rencana itu terasa sangat baik karena dijanjikan bahwa bagian-bagian dari 12 stadion itu akan bisa dibongkar setelah Piala Dunia usai dan akan digunakan untuk pembangunan hingga 22 stadion sepak bola di negara-negara berkembang di seluruh dunia.

Masih ada lagi.

Karena turnamen tetap akan diselenggarakan pada bulan Juni/Juli maka stadion akan dilengkapi dengan baru “sistem pendingin tanpa karbon yang berteknologi tinggi” yang dikembangkan oleh “mitra internasional yang terkenal.”

Proposal menyebutkan bahwa teknologi pendinginan akan membuatnya terasa seperti 26-27 derajat Celcius di dalam stadion.

Qatar sejauh ini tidak punya stadion yang memadai dan iklim panas gurun pasir membuat bermain sepakbola di luar ruangan di musim panas menjadi tidak mungkin.

Kekuatan janji-janji telah menyebabkan Amerika Serikat kalah dalam persaingan untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.

Sekarang setelah proses pemungutan suara selesai, janji-janji itu mulai diingkari.

Beberapa waktu lalu Bloomberg melaporkan bahwa Qatar akan membatalkan sepertiga dari proyek stadion, membangun hanya delapan stadion (jumlah minimum yang diizinkan menurut aturan FIFA) bukan 12 seperti janji semula.

Penyelenggara mengaku bahwa mereka mengevaluasi ulang rencana stadion dalam rangka “mencerminkan ukuran negara,” tetapi tidak akan mengatakan berapa banyak stadion mereka yang direcanakan untuk dibangun.

Tidak jelas bagaimana pengurangan sepertiga jumlah dalam proyek stadion akan mempengaruhi rencana untuk membangun 22 stadion di seluruh dunia. Mungkin itu juga akan batal terjadi.

Masalah yang lebih mendesak adalah bahwa musim panas yang menyengat akan memaksa FIFA untuk memindahkan turnamen ke musim dingin, dengan atau tanpa pendingin ruangan. FIFA selalu memiliki kekhawatiran tentang panas.

Dalam evaluasi resmi dari tawaran Qatar, FIFA menyebut “adanya resiko potensi kesehatan” dan mengatakan bahwa teknologi pendinginan yang Qatar janjikan tidak pernah diuji dalam stadion besar.

“Langkah-langkah kontrol iklim belum digunakan di stadion Piala Dunia berukuran FIFA.”

Ini adalah pernyataan yang luar biasa. FIFA mengakui bahwa efektivitas pendinginan di stadion-stadion Qatar bergantung pada teknologi yang belum diuji. Bahkan teknologi pendinginan berbasis tenaga surya itu sendiri belum ada, padahal Piala Dunia tinggal delapan tahun lagi.

FIFA terus memperlunak sikapnya pada musim dingin Piala Dunia. Pada tahun 2011 Presiden FIFA Sepp Blatter menyatakan bahwa turnamen akan tetap diselenggarakan di musim panas dan setiap perubahan pada jadwal harus datang dari Qatar.

Sekarang ia bicara sebaliknya.

Blatter mengatakan pada Januari bahwa itu “tidak mungkin” untuk mengadakan Piala Dunia di suhu berbahaya tersebut. FIFA akan memberikan suara pada perubahan jadwal ke musim dingin sekitar tahun 2015, katanya.

Memindahkan Piala Dunia ke bulan Januari 2022 atau 2023 akan menjadi mimpi buruk bagi sejumlah liga sepakbola profesional, TV partner, dan jangkauan acara di Amerika Serikat.

Semua liga profesional utama di seluruh Eropa harus berhenti selama dua bulan – menciptakan masalah baru penjadwalan dan mengganggu beberapa tim yang paling menguntungkan di dunia.

Di AS, sudah bisikan bahwa Fox Sports akan marah jika turnamen dipindah ke musim dingin.

Perusahaan membayar $ 425.000.000 untuk hak menyiarkan Piala Dunia 2018 dan 2022. Seorang juru bicara mengatakan kepada Bloomberg dalam sebuah pernyataan bahwa pihaknya membayar hak siar untuk musim panas, bukan musim dingin:

“FIFA telah memberitahu kami bahwa mereka sedang mempertimbangkan dan akan melakukan voting untuk memindahkan Piala Dunia 2022. Fox Sports membeli hak siar Piala Dunia dengan pemahaman mereka akan berlangsung di musim panas sebagaimana sejak tahun 1930-an.”

Sebuah Piala Dunia musim dingin akan berbenturan dengan acara-acara NFL Playoffs, musim NBA, dan musim NHL di Amerika Utara.