Selain Qatar, Piala Dunia di Negara Ini Juga Ditinjau Ulang

18

    Tahun 2010 adalah tahun ketika FIFA (badan sepakbola dunia) mengambil keputusan soal lokasi negara penyelenggara Piala Dunia berikutnya setelah Brasil tahun 2014. Waktu itu ada dua negara sekaligus yang ditetapkan. Yang pertama adalah Qatar untuk tahun 2022, dan yang kedua adalah Rusia sebagai pemenang Piala Dunia 2018. Nah, sekarang setelah gosip-gosip soal suap dari pihak […]

Internasional Piala Dunia  - Selain Qatar, Piala Dunia di Negara Ini Juga Ditinjau Ulang

 

 

Tahun 2010 adalah tahun ketika FIFA (badan sepakbola dunia) mengambil keputusan soal lokasi negara penyelenggara Piala Dunia berikutnya setelah Brasil tahun 2014. Waktu itu ada dua negara sekaligus yang ditetapkan. Yang pertama adalah Qatar untuk tahun 2022, dan yang kedua adalah Rusia sebagai pemenang Piala Dunia 2018.

Nah, sekarang setelah gosip-gosip soal suap dari pihak Qatar muncul ke permukaan, ada kemungkinan keputusan Piala Dunia 2018 di Rusia pun akan ditinjau ulang. Alasannya, keseluruhan proses di sidang-sidang FIFA saat itu kemungkinan diwarnai suap dan kecurangan.

Komisi yang bertugas membuktikan kecurangan itu akan melaporkan hasilnya ke Komite Eksekutif FIFA bulan Juni ini, dan FIFA akan bertemu ulang 7 hari setelah penutupan Piala Dunia Brasil, 14 Juli nanti, untuk memutuskan nasib Qatar, dan kemungkinan juga Rusia.

Rumor soal suap yang dilakukan oleh pihak Qatar memang mencengangkan karena melibatkan banyak sekali perwakilan negara, yang bertugas memberi suara untuk menentukan tuan rumah 2018 dan 2022.

Usulan untuk pemungutan suara ulang bagi Piala Dunia 2018 dikemukakan oleh mantan menteri olahraga dari Partai Buruh Inggris, Gerry Sutcliffe. Ia di tahun 2010 itu datang ke sidang FIFA mewakili Inggris untuk mempromosikan kesanggupan negara kelahiran sepakbola itu menjadi tuan rumah 2018.

Ia mengatakan, pada saat itu dia secara pribadi dijamin oleh presiden FIFA Sepp Blatter bahwa seluruh proses tender 2018 dan 2022 akan berlangsung ‘terbuka dan adil’, dan sekarang terasa ‘sangat pahit’ bahwa ternyata keputusan-keputusan itu diwarnai korupsi.

Mengacu pada tahapan waktu ketika korupsi telah menyebabkan lima dari 22 anggota Komite Eksekutif FIFA (Exco) mengundurkan diri atau dilarang berkecimpung di sepak bola seumur hidupnya, Sutcliffe mengatakan, “Tidak ada bukti atau bukti kuat bahwa tawaran Rusia itu sendiri korup, tapi FIFA adalah begitu korup pada waktu itu, dan dengan adanya keraguan atas penawaran pihak Qatar, sulit untuk percaya (bahwa Piala Dunia) 2018 merupakan keputusan bersih. Jika seluruh proses korup, itu harus ditinjau ulang lagi.”