Si Penjagal Hidung Dihukum 6 Bulan Dan Diseret Ke Pengadilan

6

Masih ingat si brandal Brandao, si penjagal hidung? Striker klub Bastia Prancis asal Brasil, Brandao, dijatuhi hukuman larangan bermain sepakbola selama enam bulan oleh komisi disiplin sepakbola Liga Prancis Jumat dinihari WIB karena menanduk pemain Paris Saint-Germain Thiago Motta. Brandao sendiri sudah dilarang main sepakbola profesional sejak tanggal 21 Agustus, lima hari setelah ia menghantam hidung Thiago Motta dengan jidatnya […]

Internasional Xtra Time  - Si Penjagal Hidung Dihukum 6 Bulan Dan Diseret Ke Pengadilan
Masih ingat si brandal Brandao, si penjagal hidung? Striker klub Bastia Prancis asal Brasil, Brandao, dijatuhi hukuman larangan bermain sepakbola selama enam bulan oleh komisi disiplin sepakbola Liga Prancis Jumat dinihari WIB karena menanduk pemain Paris Saint-Germain Thiago Motta.

Brandao sendiri sudah dilarang main sepakbola profesional sejak tanggal 21 Agustus, lima hari setelah ia menghantam hidung Thiago Motta dengan jidatnya di koridor Parc des Princes usai laga Ligue 1 kedua klub.

Dia baru bisa turun bermain pada tanggal 21 Februari 2015.

Hukuman di atas hanya soal larangan bermain di lapangan hijau. Untuk tindakannya yang direkam kamera CCTV di dalam stadion itu sendiri, pemain 34 tahun itu juga akan menghadapi tuduhan pidana di pengadilan.

Brandao yang asal Brasil itu akan muncul di depan pengadilan pada 3 November atas tuduhan melakukan serangan terencana di arena olahraga dan menyebabkan korbannya terpaksa libur kerja selama tujuh hari.

Jika terbukti bersalah, Brandao bisa dikurung dalam penjara dan dijatuhi denda.

Brandao menolak berkomentar setelah muncul selama dua jam di persidangan, meninggalkan pengacaranya Olivier Martin untuk berbicara atas namanya.

“Hari ini kita menjelaskan alasan mengapa ia melakukan tindakan ini, provokasi yang dihadapinya sebagai pemain dan bahkan dari para penonton, kondisi psikologis yang dialaminya ketika keluar dari lapangan permainan,” kata Martin yang menyebut kliennya telah menjadi korban “penghinaan rasis.”

“Kami menjelaskan dan menunjukkan kepada komisi bahwa tidak ada perencanaan dalam gerakan ini, bahwa itu adalah respon refleks terhadap stres dan frustrasi yang dia hadapi.”

Martin menambahkan bahwa ia tadinya berharap larangan itu hanya terbatas pada delapan pertandingan.

Lihat sendiri video insiden itu. Benarkah “tidak ada perencanaan” seperti yang disebut oleh pengacaranya? Sudah terlihat di video ia menunggu kedatangan Thiago Motta.