Skotlandia Merdeka, Dua Klub Ini Menangis

Besok, 18 September adalah hari pelaksanaan referendum bagi sekitar 4,3 juta rakyat Skotlandia yang sudah berusia di atas 16 tahun. Referendum ini akan menanyakan sikap para pemilih soal kemerdekaan wilayah di utara Inggris itu, apakah “Ya” menyetujui pemisahan dari Inggris, atau “Tidak” tetap bersama-sama induknya. Terdapat tiga wilayah di sekitar Inggris yang selama ini menyatakan […]

Internasional Liga Inggris  - Skotlandia Merdeka, Dua Klub Ini Menangis
Besok, 18 September adalah hari pelaksanaan referendum bagi sekitar 4,3 juta rakyat Skotlandia yang sudah berusia di atas 16 tahun.
Referendum ini akan menanyakan sikap para pemilih soal kemerdekaan wilayah di utara Inggris itu, apakah “Ya” menyetujui pemisahan dari Inggris, atau “Tidak” tetap bersama-sama induknya.

Terdapat tiga wilayah di sekitar Inggris yang selama ini menyatakan diri bersatu di bawah nama Inggris Raya (Great Britain), yakni Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara. Mereka menerima mata uang Inggris, pound, dan menerima pemerintahan Inggris atas mereka.

Untuk laga-laga sepakbola seperti olimpiade mereka maju dengan satu baju saja yakni Inggris Raya, tapi untuk peristiwa lain seperti turnamen Euro dan Piala Dunia, keempat wilayah maju sendiri-sendiri.

Hal ini disebabkan keempat wilayah ini sudah menggelar laga-laga sepakbola internasional di tahun 1872. Dua belas tahun kemudian, tahun 1884, asosiasi sepakbola nasional Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia meluncurkan turnamen British Home Championship, yang diperebutkan hampir setiap tahun selama abad berikutnya.

Jadi kehadiran empat tim dari Inggris dan sekitarnya di ajang Euro dan Piala Dunia merupakan penghormatan untuk usaha mereka menciptakan sepakbola modern.

Itu sebabnya mengapa kita tidak pernah melihat Gareth Bale dan Ryan Giggs maju membela The Three Lions. Mereka berasal dari Wales.

Cardiff, lokasi laga Piala Super Cup Eropa antara Real Madrid vs Sevilla, berlokasi di Wales.

Jika pihak “Ya” menang maka Skotlandia memisahkan diri dari Inggris. Maka itu bisa berarti mimpi buruk untuk dua klub asal Glasgow, Skotlandia, yang sejak lama menginginkan bergabung ke Liga Inggris.

Pendukung Rangers, dengan akar loyalis mereka, secara umum memilih ‘Tidak’. Celtic, dengan tradisi republikan mereka yang keras, secara luas dianggap mendukung suara ‘Ya’.

Tapi fans Celtic juga menghadapi dilema karena mereka tahu bahwa jika jadi merdeka pada 18 September besok, mimpi mereka selama bertahun-tahun akan punas. Celtic sejak lama telah melobi untuk bergabung dengan Liga Inggris. Mereka sebenarnya sudah bersiap-siap memulai petualangan di sepakbola Inggris melalui Liga Satu atau Liga Dua lalu perlahan-lahan naik ke atas sampai ke kasta teratas, Premier League.

Ambisi mereka didasarkan pada persepsi bahwa sepakbola domestik Skotlandia sudah hampir mati dan menyebabkan kualitas mereka tidak kunjung membaik.

Apalagi sejak Rangers dijatuhi sanksi administratif karena masalah kepemilikan klub, masalah menjadi lebih akut dan Skotlandia Premiership secara efektif telah menjadi liga yang dikuasai satu tim saja, Celtics.

Jalan keluar Celtic untuk menolong mereka berkompetisi secara lebih keras adalah untuk bermigrasi ke selatan dari perbatasan Skotlandia dan bermain melawan raksasa-raksasa Premier League.

Langkah tersebut juga akan mengubah keuangan klub dari pendapatan hak siar televisi yang luar biasa besar.

Jika Skotlandia memilih ‘Ya’, maka mimpi-mimpi itu akan punah dalam waktu semalam.

Jika Skotlandia menjadi sebuah negara yang merdeka, Celtic dan Rangers akan terjebak di utara perbatasan tanpa bisa banyak bergerak, menjadi klub yang kualitasnya begitu-begitu saja sampai bertahun-tahun mendatang.

Sepakbola.cc