Tim Sepakbola Ini Diejek, Dikucilkan, Dikarantina, Diusir Gara-gara Ebola

59

Bagaimana rasanya turun bermain sepakbola mewakili tim nasional Sierra Leone? Kata-kata tajam terlontar dari tribun Stadion Mazembe dan menerpa telinga Michael Lahoud dan rekan setim sepakbola Sierra Leone nya, “Ebola! Ebola!” Selama 90 menit, Lahoud mengatakan, penonton yang menghadiri kualifikasi Piala Afrika bulan ini di Republik Demokratik Kongo tidak kunjung surut. Di jalan-jalan Lubumbashi, massa menunjuk-nunjuk para pemain dan […]

Internasional  - Tim Sepakbola Ini Diejek, Dikucilkan, Dikarantina, Diusir Gara-gara Ebola

Bagaimana rasanya turun bermain sepakbola mewakili tim nasional Sierra Leone?

Kata-kata tajam terlontar dari tribun Stadion Mazembe dan menerpa telinga Michael Lahoud dan rekan setim sepakbola Sierra Leone nya, “Ebola! Ebola!”

Selama 90 menit, Lahoud mengatakan, penonton yang menghadiri kualifikasi Piala Afrika bulan ini di Republik Demokratik Kongo tidak kunjung surut. Di jalan-jalan Lubumbashi, massa menunjuk-nunjuk para pemain dan berteriak, “Ebola, keluar!”

Lahoud, 28 tahun, adalah lulusan sebuah sekolah di Amerika Serikat yang kini bermain di lini tengah untuk MLS Philadelphia Union dan sesekali mewakili negara kelahirannya di kancah internasional.

Dalam perjalanan terakhir ke Afrika, ia telah menyaksikan dan mengalami ketakutan, prasangka dan rasa panik yang dibawa oleh wabah terburuk dari virus Ebola sejak penemuannya pada tahun 1976.

Liberia, Sierra Leone dan Guinea, adalah sejumlah negara tetangga di Afrika Barat yang paling dengan mencatatkan 3.000 kematian dan 6.000 kasus. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperingatkan bahwa pandemi bisa memuncak sampai dengan 20.000 orang pada bulan November 2015.

Apa akibat dari pemberitaan besar-besaran soal penyakit itu?

Tim Sierra Leone telah mengalami dikarantina di airport, memenangkan sebuah laga gara-gara tim lawan tidak mau datang, kehilangan hak sebagai negara tuan rumah pada laga-laga sepakbola internasional, dan harus menjalani tes medis saat laga-laga tandang. Kompetisi liga domestik tidak berjalan.

Pengalaman semacam itu telah menyebabkan Lahoud “marah, bingung, rendah diri, terkejut. Sebagian besar dari kami telah bermain secara profesional di Eropa atau Amerika Serikat, tetapi setelah mereka melihat paspor Sierra Leone, segalanya berubah.”

“Saya dalam posisi yang unik, menjadi baik orang Afrika dan warga Amerika Serikat,” katanya saat mengunjungi Washington akhir pekan lalu.

“Hal ini dipandang sebagai masalah Afrika, tetapi bisa menjadi masalah dunia.”

Lahoud telah tinggal di Amerika Serikat selama lebih dari 20 tahun, seorang pengungsi yang melarikan diri dari negara yang hancur oleh perang saudara. Timbulnya kembali wabah Ebola telah memperkuat ikatan dengan tanah kelahirannya.

Pada saat-saat sebelum pertandingan di Pantai Gading bulan ini, pelatih Sierra Leone pada saat itu, seorang warganegara Irlandia Utara 29 tahun bernama Johnny McKinstry, memberikan inspirasi.

“Dia mengatakan kepada kami untuk berpikir tentang rumah 6 juta yang tidak memiliki apapun dan kehilangan harapan. Sekali lagi, Sierra Leone menjadi berita untuk alasan yang salah,” kata Lahoud “Itu menyadarkan saya dengan kuat. Ini memotivasi saya dan memberi saya tujuan.”

Pada bulan Agustus, pemain Sierra Leone sedang transit di Nairobi dalam perjalanan ke Seychelles untuk kualifikasi Piala Afrika. Selagi para pemain bersiap untuk naik pesawat, mereka dihentikan di pintu gerbang. Kuatir Ebola akan menyebar ke pulau-pulau mereka, otoritas imigrasi Seychelles telah melarang siapa pun dari Sierra Leone masuk meskipun tidak ada orang di delegasi itu melakukan kontak dengan orang sakit.

“Sebuah pertandingan sepak bola,” kata Lahoud, “berubah menjadi situasi politik” yang melibatkan Kenya dan pemerintah Seychelles serta duta besar Sierra Leone di Nairobi.

Badan sepak bola Afrika memerintahkan Seychelles untuk memainkan pertandingan. Seychelles menolak. Pada akhirnya, Sierra Leone dianugerahi kemenangan dan lolos ke babak penyisihan grup kejuaraan benua Afrika itu.

Sementara krisis diplomatik dimainkan, tim itu dikunci di dalam sebuah ruangan kecil dan gelap, dikarantina di bandara selama berjam-jam dan terjebak di negara itu selama beberapa hari, bolak-balik ke berbagai hotel setiap malam.

Di Pantai Gading, ketika orang yang lewat bertanya siapa mereka, para pemain menahan diri untuk menyebutkan Sierra Leone.

Seperti Lahoud, banyak rekan tim berbicara atau berpakaian seperti orang Amerika atau Eropa dan membawa paspor kedua. Penerimaan penonton di Abidjan tidak sekeras di Kongo empat hari kemudian, yang tercatat sebagai kandang baru bagi tim Sierra Leone karena krisis kesehatan tersebut.