Timnas Jerman Dikecam Karena Tarian Ejek Argentina

11

Lihat di sini video saat pemain-pemain Jerman merayakan keberhasilan mereka merebut Piala Dunia. Sebuah panggung besar didirikan di belakang monumen Brandenburg Gate yang sangat terkenal di Berlin, ibukota Jerman Bersatu saat ini. Lalu sejumlah pemain menarikan sebuah dansa sederhana dengan dua lirik berbeda. Lirik pertama berbunyi: “Ini adalah bagaimana gauchos (Argentina) berjalan, (orang) gauchos berjalan seperti […]

Timnas Jerman Dikecam Karena Tarian Ejek Argentina - berita Internasional Liga Jerman Piala Dunia

Lihat di sini video saat pemain-pemain Jerman merayakan keberhasilan mereka merebut Piala Dunia. Sebuah panggung besar didirikan di belakang monumen Brandenburg Gate yang sangat terkenal di Berlin, ibukota Jerman Bersatu saat ini. Lalu sejumlah pemain menarikan sebuah dansa sederhana dengan dua lirik berbeda.

Lirik pertama berbunyi: “Ini adalah bagaimana gauchos (Argentina) berjalan, (orang) gauchos berjalan seperti ini!” disertai gaya berjalan sedikit membungkuk-bungkuk.

Lalu setelah itu lirik kedua: “Ini adalah bagaimana Jerman berjalan, (orang) Jerman berjalan seperti ini!” disertai cara berjalan tegak dan tangan mengangkat ke atas.

Tarian seperti itu yang kelihatan tidak apa-apa, biasa saja, rupanya dikecam banyak pihak di Jerman. Tarian itu disebut sebagai bentuk ejekan terhadap Argentina. Kata “gaucho” adalah terjemahan bahasa Spanyol untuk “koboi”.

Komentator televisi mencaci para pemain karena tarian ejekan itu. Apa yang salah?

Jerman memang masih rada-rada sensitif untuk urusan ejek mengejek bangsa lain. Merasa diri sebagai bangsa yang terhormat, terbuka, dan toleran, mereka rada megharamkan budaya ejek mengejek seperti ini. Setidaknya tidak secara terbuka, tidak di depan publik.

Perasaan seperti ini berasal dari sisa Perang Dunia II ketika refleksi mendalam atas diri mereka menyesali tragedi kekejaman Nazi dan Adolf Hitler, yang menyebabkan jutaan manusia meninggal di seantero Eropa.

Mengibarkan bendera Jerman dan menyanyikan lagu kebangsaan secara terang-terangan baru membaik sejak Piala Dunia 2006 ketika tim Jerman bisa melaju ke semifinal dan kalah, dan kemudian merebut posisi ketiga. Saat itulah patriotisme Jerman mulai bangkit kembali, terutama di kalangan anak-anak muda yang tidak tercemari rasa bersalah dari sisa-sisa generasi tua yang hidup di zaman Perang Dunia II.

Saksikan videonya di sini:

Di negara di mana patriotisme secara vokal pada sebagian besar masyarakat masih tabu, berbagai surat kabar ramai-ramai mengistilahkan tarian para pemain muda ‘itu sebagai “tidak punya selera” dan memberikan cerminan buruk terhadap Jerman.

Enam dari pemain termasuk Mario Goetze, satu-satunya pencetak gol saat menang 1-0 atas Argentina, melakukan tarian ejekan yang sering terlihat di tribun-tribun stadion, di sebuah panggung besar di depan 400 ribu penggemar yang mengibaskan bendera.

Beberapa surat kabar Jerman menyebut tampilan angkuh yang direkam media-media dunia itu merupakan noda setelah kemenangan Piala Dunia yang sempurna.

“Perayaan kemenangan di Gerbang Brandenburg berubah menjadi gol bunuh diri raksasa,” kata harian konservatif Frankfurter Allgemeine Zeitung dengan nada kesal.

“Dengan ejekan yang kasar terhadap sang lawan di final, juara dunia Jerman merusak citra sebuah bangsa yang toleran dan berpikiran terbuka.”

Surat kabar kiri-tengah Tagesspiegel yang terbit di Berlin menyebut penampilan itu “tidak punya selera” dan menyebut kelakuan itu sebagai menutupi perilaku ramah tim di lapangan di Brasil.

“Sikap rendah hati Jerman telah berakhir. Sukacita mereka tidak cukup. Mereka baru menemukan kepuasan penuh saat mereka sedikit menyiksa pecundang yang tengah berkabung,” katanya.

“Mungkin itulah yang akan tertinggal di kepala banyak orang di luar Jerman soal Piala Dunia ini. Dan kemudian tepuk tangan ingar-bingar penonton. Mereka mungkin tidak bermaksud begitu, dan itu mungkin benar. Tapi mereka menunjukkan bahwa dalam sepak bola yang ada bukan hanya orang bodoh, tetapi orang bodoh terkutuk.”

Kritik-kritik pedas semacam itu memicu perdebatan di Twitter di bawah hashtag #gauchogate, dengan banyak netizen menyerang balik perihal apa yang mereka lihat sebagai mengamuknya para pendekar pembela kebenaran politis.

Seorang pengguna dengan akun @suburp mengatakan, “Dalam (bahasa) Jerman ada kata #schadenfreude [kegembiraan karena kemalangan orang lain] tetapi mengimbanginya dengan kegembiraan dan kebanggaan nasional yang sehat. Ini hanya FUSSBALL (sepakbola). Regt euch ab. (Tenanglah).”

Koran Die Welt mengatakan tarian itu tidak menandai merujuk pada peristiwa tertentu tetapi menambahkan, “Kita tidak perlu melebih-lebihkan (kemenangan) itu”

Seorang anggota senior dari Partai Hijau yang beroposisi, Juergen Trittin, setuju bahwa tarian itu telah bersifat “tidak sportif” namun reaksi yang muncul itu terlalu reaktif.

Trittin mengatakan, rakyat Jerman bangga dengan tim sepakbola mereka yang menang, “Tetapi mereka juga telah belajar dari sejarah mengerikan mereka sendiri.”

Kepala Federasi Sepakbola Jerman (DFB) Wolfgang Niersbach mengatakan ia menyesal jika ada pihak-pihak yang tersinggung.

“Mohon maaf jika ada yang menerima hal ini dengan cara yang salah,” katanya dalam sebuah pernyataan.

Niersbach mengatakan ia akan mengirim surat ke rekan Argentina-nya Julio Grondona “untuk membuat jelas lagi bahwa tindakan ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk tidak menghormati.”

“Kami sangat menghormati Argentina, memiliki hubungan terbaik dengan federasi setempat dan berharap untuk bertemu satu sama lain lagi di pertandingan di Dusseldorf,” mengacu pada laga kedua tim berikutnya pada 3 September mendatang.

Dia mengatakan tarian itu muncul “secara spontan dari emosi dan sukacita” sekitar gelar Piala Dunia keempat Jerman.

“Mereka semua itu adalah olahragawan yang pantas dan adil, yang tidak akan mengolok-olok siapa pun dan hanya ingin berpesta bersama  fans,” kata Niersbach.