UEFA Pastikan Akan Hukum Dua Negara Ini Untuk Kerusuhan Tadi Malam

  • Tadi malam pecah kerusuhan di dalam stadion di Stadion Partizan Belgrade, Serbia, ketika laga kualifikasi Euro 2016 antara tuan rumah Serbia vs Albania. Kerusuhan yang melibatkan pemain, ofisial, dan penonton kedua belah pihak dipicu munculnya sebuah drone (pesawat tak berawak) di atas stadion yang melintas ke sana dan ke mari mengibarkan bendera Albania dengan tulisan […]

Internasional Piala Eropa  - UEFA Pastikan Akan Hukum Dua Negara Ini Untuk Kerusuhan Tadi Malam

Tadi malam pecah kerusuhan di dalam stadion di Stadion Partizan Belgrade, Serbia, ketika laga kualifikasi Euro 2016 antara tuan rumah Serbia vs Albania.

Kerusuhan yang melibatkan pemain, ofisial, dan penonton kedua belah pihak dipicu munculnya sebuah drone (pesawat tak berawak) di atas stadion yang melintas ke sana dan ke mari mengibarkan bendera Albania dengan tulisan Albania Raya, serta memperlihatkan peta kawasan yang lebih luas dari negara Albania itu sendiri, mencakup antara lain Kosovo, bekas provinsi Serbia yang menyatakan merdeka pada tahun 2008.

Laga itu kemudian dibatalkan wasit Martin Atkinson dari Inggris karena dinilai sudah tidak bisa dilanjutkan lagi.

Presiden UEFA Michel Platini telah memastikan bahwa kedua negara yang terlibat rusuh itu, Serbia dan Albania, akan dikenakan sanksi keras.

Badan sepak bola Eropa itu juga mengkonfirmasi telah menerima laporan dari wasit Martin Atkinson, delegasi pertandingan, pengamat dan petugas keamanan mengenai kekacauan di Belgrade, dan bahwa fakta-fakta itu telah diteruskan kepada komite disiplin UEFA.

Bek Serbia Stefan Mitrovic meloncat, meraih bendera dari drone, yang memicu pertempuran antara anggota kedua belah pihak, sebelum hooligan Serbia turun menyerbu lapangan, menyerang pemain Albania.

Beberapa saat kemudian pemain Albania menolak untuk kembali ke lapangan setelah wasit Atkinson awalnya menskors pertandingan, meninggalkan dia dengan tidak ada opsi lain kecuali membatalkannya.

“Sepakbola seharusnya saling mendekatkan orang dan sepakbola tidak boleh dicampur dengan politik apa pun,” kata Presiden UEFA Michel Platini.

“Adegan di Belgrade semalam tidak dapat dimaafkan.”

Presiden FIFA Sepp Blatter menambahkan, “Sepakbola tidak boleh digunakan untuk pesan-pesan politik. Saya sangat mengutuk apa yang terjadi di Belgrade tadi malam.”

Hubungan antara kedua negara telah lama rapuh atas persoalan Kosovo, mantan provinsi Serbia yang dihuni oleh hampir dua juta orang, sebagian besar etnis Albania. Pada tahun 2008 Kosovo, yang diberikan otonomi luas selama pemerintahan Yugoslavia, menyatakan kemerdekaan.

UEFA tidak menjaga kedua negara terpisah selama undian untuk kualifikasi Euro 2016 karena tak satu pun dari kedua asosiasi sepakbola meminta mereka demikian, sebagaimana halnya Spanyol dan Gibraltar, serta Rusia dan Ukraina.

Menurut UEFA “tidak ada alasan yang jelas” bahwa keduanya harus terpisah, karena mereka dinilai berada di tengah-tengah hubungan diplomatik normal, tidak terlibat dalam konflik bersenjata, juga mereka tidak meminta demikian.