Begini Cara Jiang Lizhang Bawa Granada Jadi Jawara Eropa

80

Setelah dibeli oleh miliuner asal Tiongkok, Jiang Lizhang, kini Granada bersiap untuk menjadi klub mentereng di kompetisi Eropa dalam tiga musim kedepan.

Setelah dibeli oleh miliuner asal Tiongkok, Jiang Lizhang, kini Granada bersiap untuk menjadi klub mentereng di kompetisi Eropa dalam tiga musim kedepan.

Liga Spanyol  - Begini Cara Jiang Lizhang Bawa Granada Jadi Jawara Eropa

Klub asal Andalusia ini dibeli oleh perusahaan Link International Sports Limited yang dimiliki oleh Lizhang, seharga 37 juta euro atau setara Rp553 miliar dari pemilik sebelumnya Gino Pozzo.

Kesepakatan antara keduanya sudah dicapai pada 21 Mei lalu, namun dewan penasihat olahraga Spanyol baru memberikan restunya pekan lalu.

Pada Rabu (15/6) kemarin, Lizhang berkunjung ke kota Granada untuk mengambil alih secara resmi klub yang bermarkas di Stadion Los Carmenes ini.

Dalam wawancaranya bersama Marca, Lizhang memiliki ambisi untuk menjadikan Granada seperti klub-klub Spanyol lainnya yang sudah sering malang melintang di kompetisi Eropa.

Namun untuk langkah awal, pria berkacamata ini tidak ingin melihat klub barunya terseok-seok lagi di zona degradasi musim depan.

“Proyek saya terdiri dari dua bagian, di dalam dan di luar lapangan. Di dalam lapangan, semua tergantung kepada tim teknis.”

“Musim depan kami ingin meraih kepastian secepat mungkin (posisi atas) dan tidak menderita dengan berada di dasar klasemen.”

“Harapan kami adalah dalam tiga tahun kedepan bisa membawa Granada berlaga di kompetisi Eropa. Di sisi lain, kami akan mengubah manajemen dan marketing, serta menguatkan hubungan dengan suporter dan institusi-institusi sehingga bisa mendatangkan sponsor.”

Sama seperti yang terjadi di Atletico Madrid dimana Wang Jianlin menginginkan adanya pemain Tiongkok di skuat Los Rojiblancos, Jiang Lizhang pun memiliki ambisi serupa.

“Kami ingin meraih kesuksesan. Tapi niatan kami adalah membentuk sendiri pemain bintang di skuat kami. Tujuan kami adalah membentuk tim sepak bola yang memiliki kombinasi pemain lokal Granada dan Tiongkok, sehingga kami bisa mengembangkan bisnis.”

Bagi Lizhang, kesuksesan Vichai Srivaddhanaprabha bersama Leicester City menjadi inspirasi tersendiri, meski ia pun mengaku siap untuk bersabar seperti taipan asal Thailand tersebut.

“Saat sekarang kami akan memberesi hal-hal mendasar. Kami tidak ingin terlalu cepat dalam segala hal agar segalanya berada di posisi yang tepat dalam semua kategori. Leicester City tidak menjadi juara Liga Inggris dalam waktu sekejap. Mereka telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk memperbaiki segala hal dan kemudian menjadi juara. Kami ingin meniru mereka.”

Sama seperti Everton, Atletico Madrid dan Valencia CF, Lizhang pun melihat pentingnya sebuah stadion demi pemasukan klub dan memberikan suasana berbeda kepada suporter.

Akan tetapi untuk saat ini ia belum memfokuskan diri atau membuat target untuk membangun atau memperbaharui Stadion Los Carmenes.

“Nanti kami akan memperbaiki suasana stadion agar dapat memberikan pengalaman yang tidak terlupakan kala menyaksikan pertandingan. Ketika skuat sudah kompetitif, maka akan dengan sendirinya menarik penonton dan kami akan memperbesar stadion.”