Berita Bola - Derby paling berdarah: Real Madrid vs Barcelona -

“Catalonia adalah sebuah negara tersendiri, dan FC Barcelona adalah tentara mereka,” kata Sir Bobby Robson, warga Inggris mantan pelatih Barcelona.

Persaingan Barça melawan dominasi Real Madrid di La Liga Spanyol mewakili semangat kaum separatis Catalan melawan dominasi Castilian. Keduanya adalah 2 kota terbesar di Spanyol. Barcelona menjadi ibukota Daerah Otonom Catalonia, semacam daerah istimewa seperti Jogja dan Aceh, memiliki bahasa daerahnya sendiri, campuran Spanyol dan Perancis, dan sejak dulu menginginkan kemerdekaan dan pemisahan dari pusat (Madrid).

Madrid selaku ibukota dan kediaman keraton Spanyol tentu saja tidak bersedia.

Karena itu persaingan keduanya bukan hanya masalah bola saja, tapi juga mewakili semangat perlawanan vs ideologi kemapanan, keinginan merdeka vs persatuan wilayah, kemandirian dari tekanan pusat vs daerah otonom yang patuh sepenuhnya pada pusat.

Barcelona dan semua kesuksesannya adalah mewakili citra pemberontakan, pemisahan, kejayaan Catalonia, serta ide pendirian sebuah negara sendiri. Sebaliknya semua kemenangan Real Madrid adalah simbol kemapanan, dukungan raja serta semua perangkatnya, kekuasaan terpusat, dan ide negara kesatuan.

Pertikaian antara 2 kota ini bertambah buruk pada era kepemimpinan Jenderal Fransisco Franco yang memimpin Spanyol secara otoriter selama 36 tahun, antara 1939 sampai 1975.

Pada satu tahapan dalam pemerintahannya, ia melarang penggunaan bahasa Catalonia di depan umum. Ia juga mengubah nama FC Barcelona, serta melarang penggunaan bendera Barcelona yang berdasarkan pada bendera Catalonia, setrip merah dan kuning.

Pada masa itu, stadion di mana Barcelona berkandang merupakan satu-satunya lokasi di mana bahasa dan bendera Catalonia digunakan serta berkibar.

Hingga kini persaingan keduanya masih terjadi dan ditunggu-tunggu. El Clásico namanya. Menampilkan permainan menyerang, hasil dari laga El Clásico  juga kadang tidak kurang mengherankannya. Misalnya skor 3-3 tahun 2007, 4-1 untuk Madrid tahun 2008, serta 6-2 untuk Barça tahun 2009.

Skor head-to-head mereka sepanjang masa termasuk laga persahabatan adalah 104 vs 91 untuk keunggulan Barcelona, dengan 55 laga draw. Dan kebencian antara keduanya sudah terkenal ke seluruh negeri sehingga kalau keduanya tengah tanding, seluruh negeri itu dan mungkin seluruh Eropa, pun seperti terbelah menjadi dua. Sebagian memihak Barça, lainnya bertaruh untuk Madrid.

Jika mengabaikan laga persahabatan, skornya adalah 87 vs 85 untuk Real Madrid, dengan 46 draw.

Permusuhan juga diwujudkan dalam bentuk gengsi-gengsian berebut pemain kelas dunia. Transfer Kaka ke Madrid, diikuti oleh Ronaldo dengan nilai transfer yang memecahkan rekor dunia saat ini sebenarnya tidak lebih dari usaha mengelus ego dan menyelamatkan muka Madrid setelah rival terbesarnya itu di musim 2008-2009 berhasil merebut gelar Juara Champion Eropa, Copa del Rey, dan juara La Liga. Ini adalah tim Spanyol pertama yang bisa merebut 3 gelar sekaligus, baik di dalam negeri maupun di kancah Eropa.

Kemenangan lain Madrid di masa lalu adalah ketika di tahun 2000 pemain asal Portugal Luis Figo setuju untuk pindah dari Nou Camp ke Barnebeu dengan nilai transfer 65 juta Euro. Peristiwa itu dirayakan besar-besaran oleh fans Madrid dan dianggap sebagai sebuah pengkhianatan besar oleh fans Barça. Ketika Figo balik ke kandang Barcelona untuk sebuah laga di bawah kostum Madrid, ia dicaci maki, disoraki, dan dilempari benda-benda aneh, termasuk satu kepala bangkai babi.