Salah satu tahapan dalam sejarah El Clasico adalah penandatangan Alfredo Di Stefano. Ini juga jadi pemicu konflik kedua belah pihak.

Ketika pemain asal Argentina itu pertama kali datang ke Spanyol pada tahun 1953, ia tidak menuju ke ibukota Madrid tetapi ke Catalonia, di mana Barcelona bersiap melakukan transfernya.

Klub ini bahkan memiliki foto di situsnya saat Di Stefano mengenakan seragam strip Barcelona bersebelahan dengan pahlawan tim saat itu: pencetak gol Ladislao Kubala kelahiran Hungaria.

Ladislao Kubala (kiri) dan Alfredo Di Stafeno (kanan) dengan seragam Barcelona

Tetapi penandatanganan Di Stefano berubah dari sesuatu yang sederhana menjadi kompleks.

Dia telah meninggalkan klub River Plate di kota asalnya Buenos Aires untuk pindah ke klub Millonarios di Kolombia pada tahun 1949, namun klub Argentina mengklaim bahwa ia masih tercatat sebagai pemain mereka.

Barcelona bernegosiasi dengan River Plate dan mencapai kesepakatan untuk membeli pemain itu dari mereka. Namun Barcelona gagal untuk mencapai kesepakatan tersebut dengan Millonarios, yang sudah terlanjur menjual hak atas Di Stefano ke Real Madrid.

Federasi Sepakbola Spanyol mencoba untuk menyelesaikan sengketa dengan suatu keputusan luar biasa, Di Stefano harus memainkan masing-masing dua musim untuk Real Madrid dan Barcelona selama empat tahun.

Namun ide itu ditolak oleh Nou Camp.

Mereka yang membela Barcelona mengatakan, diktator Francisco Franco yang berkuasa di Spanyol kala itu kemudian turun tangan untuk membantu Madrid merebut pemain itu dari rival sengit mereka, Barcelona.

“Itu adalah penghinaan bagi Barca,” kata wartawan Jordi Finestres, seorag penulis sebuah buku tentang kisah Di Stefano ini.

Sejarawan dari FC Barcelona mengatakan klub akhirnya menjual hak penuh atas Di Stefano ke Real Madrid di bawah tekanan dari otoritas kediktatoran Franco.

“Semua rintangan yang mungkin ditaruh sudah diletakkan di jalan Barca untuk menghentikannya menandatangani Di Stefano ketika telah mengikuti prosedur yang benar dalam bernegosiasi dengan River Plate, majikan yang sah,” kata Finestres.

Alfredo Relano, editor koran olahraga Madrid As, menganggap bahwa cerita itu “semua hasil penemuan dari akhir 1970-an”.

“Ini adalah masalah yang sangat rumit dan sangat mudah untuk mengklaim bahwa Barca membeli Di Stefano dan kemudian Franco memutuskan ia harus berakhir dengan Real Madrid. Tapi gagasan bahwa para pendukung Franco menekan Barca adalah palsu,” katanya.

“Franco tidak begitu tertarik membantu Madrid saat itu karena tidak pernah memenangkan gelar apa pun sampai Di Stefano tiba.”

Namun spekulasi perihal bagaimana sejarah sepak bola akan berubah jika Di Stefano bergabung untuk Barcelona dan bukan Madrid telah mempesona fans,.

Di Stefano menginspirasi Real Madrid untuk lima gelar Piala Eropa dan tidak pernah melihat lagi ke belakang. Pada bulan Mei 2014 itu Real Madrid memenangkan rekor gelar Eropa ke-10.

Ladislao Kubala (kiri) dan Alfredo Di Stefano (kanan) dengan seragam Barca dan Real Madrid

Sebelum semua itu, pada tahun 1950, prospek Barcelona menyatukan dua maestro sepakbola hari itu dalam skuad yang sama adalah luar biasa menggiurkan. Tapi ketegangan politik menggantung di atas wilayah separatis Catalonia dalam hubungannya dengan Madrid.

“Barca, yang dipimpin oleh Ladislao Kubala memenangkan segalanya waktu itu dan Real Madrid tidak pernah memenangkan liga sejak 1933,” kata Finestres.

“Ide bahwa Barca memiliki Kubala dan Di Stefano membuat banyak ketakutan bagi kaum pendukung Franco Spanyol.”