Kolor putus, celana melorot, tapi gooool!

Ini merupakan sebuah kebetulan yang aneh. Adegan ini terjadi di partai semifinal antara Italia vs Brasil di Piala Dunia 1938. Waktu itu pemain Italia Giuseppe Meazza bersiap menendang sebuah penalti yang dihadiahkan wasit asal Swis, Hans Wutrich, setelah pemain bertahan Domingos da Guia menendang penyerang Italia, Piola.

Ketika Meazza melangkah ke titik penalti, karet kolor penahan celananya yang longgar putus dan celananya itu lalu merosot jatuh sampai ke mata kaki. Seluruh stadion tenggelam dalam gelak tawa. Juga kiper Brasil, Walter.

Tapi seolah tidak terganggu, Meazza menarik celana dengan tangan kirinya, menaruh bola di titik 12 pas dengan tangan kanannya, serta menendangnya dengan keras. Kiper Brasil yang rupanya masih ingin tertawa karena adegan celana merosot tadi hanya bisa melongo melihat gawangnya kebobolan. Italia menang 2-1 di laga itu dan maju ke final.

Cerita unik lainnya datang dari Piala Dunia 1954. Tim nasional Turki lolos dari babak kualifikasi Piala Dunia tahun 1954 itu setelah menang undian kocokan macam arisan melawan Spanyol.

Di laga kandangnya, Spanyol menang 4-1. Namun di Istanbul, giliran Turki menang 1-0. Keduanya sama-sama pernah menang sekali. Waktu itu sistem perbedaan gol belum lazim. Musti ada pertandingan ketiga di tempat netral, Roma. Hasilnya? 2-2.

Maka untuk menentukan siapa yang akan maju ke Swiss, diadakanlah undian dengan nama kedua kesebelasan dimasukkan ke dalam potongan sedotan. Anak seorang pegawai stadion Roma, bernama Luigi Franco Gemma berusia 14 tahun, diminta tolong mengambil salah satu potongan sedotan. Hasilnya: Turki. Gemma lalu dianggap pahlawan dan diundang ke Swiss oleh tim Turki.

Mundur lagi ke Piala Dunia tahun 1950. India diundang ikut ke Piala Dunia 1950 karena tiga tim Asia lainnya yang diundang berpartisipasi, yakni Burma, Filipina, dan Indonesia tidak bersedia ikut.

India belakangan juga mengundurkan diri setelah dilarang bermain bola dengan kaki telanjang. Pada masa itu, pemain-pemain India terbiasa bermain tanpa sepatu. Namun peraturan pertandingan melarang laga dilangsungkan tanpa sepatu. Piala Dunia di Brasil tahun 1950 itu akhirnya hanya berlangsung dengan 13 tim saja. Waktu itu gengsinya masih belum sebesar sekarang ini. Kondisi politik global pasca Perang Dunia II menyebabkan Jerman dilarang ikut. Kondisi ekonomi menyebabkan sejumlah negara enggan ikut, misalnya saja Perancis.

Dalam sejarah ada saja sejumlah pemain yang terluka gara-gara terlalu girang namun bodoh saat merayakan sebuah gol. Salah satu yang paling konyol adalah Lomana Lua Lua.

Pemain Portsmouth asal Ghana ini merayakan golnya ke gawang Arsenal dalam sebuah laga tahun 2006 dengan meloncat ke belakang (somersault) beberapa kali. Akibatnya pergelangan kakinya cedera dan ia harus absen selama tiga pekan. Kejadian serupa menimpa Celestine Babayaro. Pemain Chelsea ini juga punya ciri yang sama. Namun ketika merayakan golnya dalam sebuah laga pra-musim, ia mematahkan salah satu kakinya dan harus absen selama beberapa bulan berikutnya.

Loncat ke Spanyol. Dalam sebuah laga di Divisi 2 Spanyol antara Badajoz vs Leganés, tahun 1999, terjadi sebuah peristiwa memalukan.

Dalam sebuah kesempatan tim Badajoz melancarkan sebuah serangan kilat melalui sayap. Ke-11 pemain Leganés sudah salah langkah semua sehingga serangan itu kemungkinan besar akan berakhir dengan sebuah gol.

Tiba-tiba saja entah dari mana ada sebuah kaki menghalangi laju bola itu. Tackle itu bersih dan bola gagal diteruskan dari kaki pemain Badajoz itu ke gawang. Sayangnya, yang melakukan tackel adalah pelatih Leganés Enrique Martin dari pinggir lapangan. Sang pelatih diganjar hukuman tidak boleh mendampingi pemainnya selama 10 laga ke depan.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR