Laga memalukan: Bagaimana Argentina kalah 1-6 (II)

Apakah itu saja faktor penentunya? Tentu juga ada faktor kesalahan Diego Maradona selaku pelatih tim Argentina. Ia memutuskan datang mendarat di La Paz hanya berselang 2 jam saja sebelum laga. Itu adalah sikap pandang enteng terhadap tim lawan. Dan mungkin kebodohan karena pendidikan yang rendah.

Apakah Maradona pernah mendengar soal acute mountain sickness? Dia sih cuma duduk diam dan berdiri di pinggir lapangan. Skuad Argentina, yang di antaranya diperkuat Lionel Messi, yang harus lari serta berjuang menyuplai oksigen ke dalam darah agar otot-ototnya mudah bergerak.

Maradona selalu mengatakan dalam berbagai kesempatan sebelumnya, “Musuh Argentina adalah Bolivia, bukan ketinggian.” Kalah 1-6 adalah hasil dari arogansinya.

Bolivia adalah salah satu tim paling lemah di Amerika Latin. Tidak sepatutnya tim sebesar Argentina kalah dari negeri ini. Cile adalah contoh yang benar. Dalam musim kualifikasi yang sama mereka memutuskan datang dan berlatih selama satu pekan sebelum laga guna menyesuaikan diri dengan udara La Paz di ketinggian 3.600 meter. Hasilnya? Mereka menang 2-0 atas tuan rumah.

BACA JUGA  Karir Karim Benzema Tergantung Pelatih Prancis

Tidak melulu dalam bola. Amerika Serikat mendirikan salah satu pelatnasnya di Colorado Springs, Colorado, di ketinggian sekitar 6.000 kaki atau 2.000 meter, dan melatih atlet-atlet olimpiadenya sana. Apa untungnya? Dingin? Jauh dari mana-mana? Mencegah atlet kelayapan?

Dalam jangka menengah, berlatih di ketinggian akan menyebabkan otak dan tubuh memerintahkan stafnya untuk menciptakan lebih banyak sel darah merah, serta membikin banyak infrastruktur baru berupa jaringan kapiler di sekitar paru-paru. Tubuh juga bereaksi dengan membuat operasi plastik, memperbesar bagian dada, memberi ruangan lebih bagi paru-paru, guna menarik lebih banyak oksigen dan membuang karbondioksida.  Semuanya demi tujuan rencana pembangunan, menyediakan suplai oksigen yang cukup bagi seluruh tubuh. Stamina fisik dan mental akan meloncat ke level lebih tinggi saat kembali ke elevasi rendah, dan bertahan beberapa pekan lamanya, sebelum normal kembali.

BACA JUGA  Hasil Bola Tadi Malam Selengkapnya

Relevansinya untuk Indonesia? Atlet yang berasal dari pegunungan tinggi seperti Sumatera Barat, Jawa Barat bagian selatan, Jawa Tengah dan Timur bagian pegunungan, serta Toraja dan Minahasa di Sulawesi, dan demikian juga Papua Pegunungan sebenarnya berpotensi untuk dilatih menjadi atlet-atlet bagus. Kapiler-kapiler darah mereka sudah melebar, paru-parunya besar, dan memiliki sel darah merah dalam jumlah banyak.

TINGGALKAN KOMENTAR