Laporan Soal Suap dan Korupsi FIFA Tertunda Lagi
Laporan soal suap dan korupsi di tubuh FIFA seharusnya sudah keluar awal September ini, tapi tertunda lagi. Ada apa gerangan?

Kepala penyelidik FIFA Michael Garcia seharusnya sudah menyampaikan laporan soal dugaan pelanggaran etika dalam proses lelang Piala Dunia, namun tampaknya telah tertunda lagi.

Berkasnya seharusnya diserahkan ke bagian komite peradilan etika FIFA “pada minggu pertama September”, menurut pernyataan FIFA tanggal 21 Juli lalu.

Garcia mulai menyusun laporannya pada minggu kedua bulan Juni setelah Kongres FIFA berakhir dan tadinya diharapkan akan disampaikan kepada hakim etika FIFA Hans-Joachim Eckert pada akhir Juli.

Hari ini (Rabu WIB) firma hukum milik Garcia, Kirkland & Ellis LLP, tidak akan mengkonfirmasi atau menyangkal bahwa laporan Garcia tertunda. Tidak ada keterangan tambahan soal waktu, kata kantor New York itu.

Sementara itu, FIFA mengatakan tidak tahu menahu apakah laporan itu telah selesai dan apakah akan dikirimkan tepat waktu.

“Seperti yang Anda tahu, Komite Etik itu bersifat independen dan oleh karena itu kita tidak dapat memberitahu Anda soal kerangka waktu apa pun dari keputusan mereka,” kata juru bicara FIFA.

Namun pernyataan FIFA tersebut sebenarnya mirip dengan statemen bulan Juli lalu, yang dengan cepat diikuti dengan dikeluarkannya pernyataan lainnya atas nama komite etika, mengkonfirmasikan tenggat waktu September 2014.

Pernyataan FIFA hari Rabu WIB ini terkesan sangat berhati-hati, merujuk pada langkah-langkah berikutnya dalam penyelidikan lelang Piala Dunia itu.

“Kami meminta Anda melihat Kode Etik FIFA. Komisi investigasi dari Komite Etik FIFA akan menyerahkan laporan investigasinya ke komisi peradilan Komite Etik,” lanjut juru bicara FIFA.

“Komisi peradilan kemudian akan meninjau berkas penyelidikan dan membuat keputusan. Harap dicatat bahwa sesuai dengan pasal 36 dari Kode Etik, hanya keputusan akhir dari komisi peradilan ini yang dapat dipublikasikan (kepada umum).”

Garcia, seorang mantan jaksa Amerika, telah menghabiskan hampir dua tahun menyelidiki dugaan pelanggaran etika dan suap dalam proses tender untuk Piala Dunia 2018 dan 2022.

Di tengah klaim dan kontra-klaim berbagai ketidakpantasan, Rusia dan Qatar mendapatkan hak tuan rumah mereka untuk 2018 dan 2022. Negara Teluk itu telah membantah keras tuduhan adanya suap itu yang dilancarkan oleh media Inggris, Sunday Times.

Rekomendasi sanksi dari Garcia, yang mungkin tidak akan pernah dipublikasikan untuk umum, bisa termasuk pembatalan hak tuan rumah Qatar. Tapi lebih mungkin Garcia akan menyarankan dijatuhkannya sanksi individual di balik pelanggaran etika  itu, jika memang dia memiliki bukti konkret yang cukup untuk melakukannya.

Penundaan laporan datang beberapa hari setelah Presiden UEFA Michel Platini memutuskan untuk tidak maju menantang pencapresan Sepp Blatter yang telah berusia 78 tahun dalam pipres FIFA berikutnya di Mei 2015 nanti.

Pada Kongres FIFA di Sao Paulo pada bulan Juni 2014, Garcia mengatakan bahwa tim investigasi etika telah mewawancarai setiap tim yang mengajukan penawaran, dan semua anggota Komite Eksekutif FIFA yang memberikan suara untuk lelang Piala Dunia itu, dan membaca “puluhan ribu” dokumen.

“Kami percaya kami akan menghasilkan sebuah laporan yang komprehensif dan adil untuk semua pihak,” tambah Garcia.

Ada kemungkinan bahwa FIFA mungkin akan membuat pernyataan itu pada kesempatan World Summit on Ethics di kantor pusatnya di Zurich pada 19 September nanti.

Sepp Blatter, yang menggambarkan dirinya sebagai pelaku modernisasi dan pembaharu, hampir pasti terpilih kembali Mei mendatang, akan membuka konferensi World Summit on Ethics tersebut. Garcia dan Eckert juga hadir.

Apakah baru saat itu berkas penyelidikan diserahterimakan dari Garcia, atau hakim etika sudah memiliki waktu untuk memeriksa laporan dan membuat laporannya kepada publik, hal itu masih belum jelas.

Komite Eksekutif FIFA akan bertemu seminggu setelah Summit. Diharapkan pada saat itu masalah suap dan korupsi di tubuh FIFA ini sudah masuk menjadi agenda pembicaraan.

TINGGALKAN KOMENTAR