Lihat Dampak Perang Terhadap Liga Kedelapan Terbaik di Eropa

3

Lihat Dampak Perang Terhadap Liga Kedelapan Terbaik di Eropa

Bagaimanakah dampak perang terhadap dunia sepakbola?

Liga Ukraina menempati ranking delapan terbaik di Eropa, di atas Eredivisie Belanda dan Pro League Belgia. Tapi kini mereka terlempar entah ke urutan berapa gara-gara perang di negaranya.

Sekedar mengingatkan, Ukraina –bersama dengan Polandia– adalah tuan rumah Euro 2012. Kini sebagian wilayah negara itu, terutama bagian timur, terutama Donetsk dan Kharkiv, lebih kelihatan sebagai kota-kota negara dunia ketiga yang baru saja menyelesaikan perang saudara.

Konflik yang terjadi di negara bekas pecahan Uni Soviet ini telah menewaskan lebih dari 3.500 orang dan mengganggu kehidupan normal dalam berbagai cara selama delapan bulan terakhir, termasuk malapetaka di Premier League negara itu, yang sebenarnya salah satu yang paling elit di dunia.

Peringkat liga Ukraina sebagai delapan terbaik di benua itu dilihat sebagai jembatan penting bagi para pemain untuk bergerak dari tim kecil di Afrika dan Amerika Latin menuju tim-tim besar Eropa.

Segalanya telah melemah sejak aneksasi semenanjung Krimea Maret 2014 lalu yang menyebabkan terjadinya perang antara Ukraina dan pemberontak dukungan Rusia.

Lihat Dampak Perang Terhadap Liga Kedelapan Terbaik di Eropa

 

Tiga tim – Tavriya Simferopol, F.K. Sevastopol dan Zhemchuzhina Yalta – telah bergabung dengan sistem liga Rusia, menyebabkan jumlah peserta Liga Premier menyusut menjadi 14 klub dan membuatnya menjadi salah satu liga utama terkecail di Eropa. Dan pertempuran sudah memaksa lima tim Timur lainnya untuk mundur ke arah barat guna keselamatan mereka.

Zorya yang paling dekat dengan perbatasan Rusia melihat stadion mereka rusak berat akibat tembakan mortir yang meninggalkan kawah di tengah lapangan. Zorya sekarang berkandang di Zaporizhia, di tepi Sungai Dnieper di bagian tenggara negara itu.

“Keadaan semakin memburuk,” kata bek Irlandia Darren O’Dea, salah satu dari beberapa pemain asing yang melarikan diri dari liga Ukraina, mengatakan kepada BBC, setelah meninggalkan Metalurh Donetsk pada bulan Agustus 2014.

O’Dea, yang bermain satu musim untuk Toronto di Major League Soccer, menggambarkan Donetsk sebagai tempat tanpa hukum di mana tentara pro-Rusia bertindak dengan kekebalan hukum, merampas mobil, pakaian dan makanan sesuka hati.

Ia memutuskan berlindung ke tempat pelatihan tim untuk sementara waktu musim lalu, tinggal di kompleks dan berusaha tidak salah pilih kubu dalam konflik dengan melihat lebih dulu, apakah bendera Rusia atau Ukraina yang berkibar di atas gedung-gedung pemerintah.

Metalist, yang berbasis di Kharkiv, 25 km dari perbatasan Rusia, juga kehilangan empat pemain asing ketika mereka menolak untuk kembali untuk awal musim ini, sementara gelandang lain kelahiran Brasil Edmar, dipanggil wajib militer oleh Angkatan Darat Ukraina.

Donetsk, di mana O’Dea bermain, adalah pusat industri dengan sekitar 1 juta orang penduduk dan kandang bagi tiga tim sepakbola ketika perang dimulai. Sejak kota itu jatuh ke tangan kelompok separatis, ratusan ribu orang dan ketiga tim melarikan diri.

Salah satu tim yang melarikan diri Donetsk adalah Shakhtar, klub terkaya dan lebih sukses. Klub ini dimiliki oleh milyarder pengusaha Rinat Akhmetov, seorang mantan anggota parlemen yang pada waktu berbeda-beda telah memiliki kaitan dengan kelompok kejahatan terorganisir, mantan presiden yang baru saja turun Viktor F Yanukovych, dan juga kaum separatis.

Lihat Dampak Perang Terhadap Liga Kedelapan Terbaik di Eropa

 

Rinat Akhmetov dikenal royal dalam membelanjakan uang untuk para pemain dan fasilitas pelatihan dan dia telah memperoleh balasannya dengan delapan gelar liga, termasuk lima tahun terakhir secara berturut-turut, enam piala domestik, empat Piala Super dan satu Piala UEFA sejak tahun 2002.

Musim lalu, tim ini berhasil memenangkan treble kedua berturut-turut, merebut gelar liga dan piala domestik dan Piala Super. Dan dengan sebuah daftar yang mencakup 13 pemain Brasil – di antaranya pemain Piala Dunia Fred dan Bernard – Shakhtar bersiap untuk musim terbaru yang besar.

Tapi ada masalah bahkan sebelum musim ini dimulai.

Enam pemain Amerika Selatan awalnya menolak untuk menemani tim kembali ke Ukraina setelah sebuah laga persahabatan Juli 2014 di Prancis. Sekarang, hampir sepertiga laga musim, tim ini tanpa kemenangan di Liga Champions dan menduduki urutan ketiga dalam klasemen sementara liga setelah kekalahan beruntun kedua akhir pekan lalu, yang satu ini ke Dynamo Kiev.

Shakhtar hanya kalah lima kali dalam 28 pertandingan liga musim lalu.

Shakhtar sendiri menyaksikan lokasi pelatihan mereka direbut milisi dan stadion berisi 50.000 kursi dirusak. Bulan lalu penyerbu bersenjata entah dari sisi mana menduduki gedung administrasi stadion.

Jadi para pemain dan staf tim dengan hanya membawa koper tinggal di sebuah hotel di Kiev, lebih dari 400 kilometer sebelah barat Donetsk dan memainkan sebagian besar pertandingan kandang mereka bahkan lebih jauh lagi ke barat di kota Lviv, dekat perbatasan Polandia.

Lihat Dampak Perang Terhadap Liga Kedelapan Terbaik di Eropa

 

Ketika mereka berlaga melawan Olimpik, tim lain yang juga sama-sama mengungsi bulan lalu, permainan hanya berhasil menarik 1.200 fans, kerumunan kecil yang sangat menyakitkan.

Setahun yang lalu Shakhtar rata-rata berhasil mengumpulkan massa sebanyak 35.000 di kandang mereka, mencatatkan rekor tertinggi di Eropa Timur dengan menjual 27.000 tiket terusan.

Apakah liga akan dapat terus bermain tetap merupakan pertanyaan terbuka.

Kerusuhan politik di Mesir telah menyebabkan Premier League negara itu dibatalkan selama dua musim tapi agaknya belum akan terjadi di Ukraina dalam waktu dekat ini.

 

TINGGALKAN KOMENTAR