Cristiano Ronaldo dengan sadis telah dituding merampok Ballon d'Or milik Lionel Messi. Karuan tudingan itu membuat kehebohan.

Manager Dortmund Keluhkan Bullying Dari Klub-klub Kaya Raya

Dunia memang tidak adil. Klub ini sudah menjadi juara liga beberapa kali, dan tiap kali pula atas nama kepentingan finansial klub, pemain-pemainnya dipereteli klub-klub kaya raya, sembari dirinya menyaksikan tidak berdaya. Manager Borussia Dortmund sedang mengeluhkan bullying dari klub-klub kaya raya

Jürgen Klopp mengatakan, meskipun BVB selalu kalah dan menyerahkan pemain-pemain top mereka bagi klub-klub kaya raya pada setiap jendela transfer musim panas, BVB bertekad untuk terus meraih trofi juara.

Manager berusia 47 tahun itu mengatakan, meskipun timnya masih terus menerus diganggu oleh para saingan mereka seperti Punch-dan-Judy, mereka tetap berprestasi besar di dunia sepakbola.

Punch-dan-Judy adalah acara teater boneka di mana si suami, Punch, sesuai namanya, terus menerus memukuli istrinya, Judy, untuk berbagai alasan dan situasi. Jürgen Klopp mengibaratkan Dortmund sebagai Judy yang terus menerus disiksa oleh klub-klub kaya raya.

BACA JUGA  Hasil Darmstadt vs Augsburg, 25 Februari 2017

Terakhir kali Klopp meyakinkan semua orang bahwa ia tidak akan melepas pemain mereka, Mats Hummels.

BVB telah menetapkan diri sebagai salah satu tim terbaik di Eropa selama empat tahun terakhir, memenangkan gelar Bundesliga dua tahun berturut-turut sebelum mencapai final Liga Champions pada tahun 2013, sembari mereka terus kehilangan pemain terbaik mereka satu per satu ke klub-klub yang lebih besar secara finansial setiap musim panas.

Tahun ini mereka telah melihat striker Robert Lewandowski berangkat ke Bayern Munich, hanya 12 bulan setelah Mario Götze pindah dari Signal Iduna Park (atau Westfalen Stadium milik Dortmund) ke Allianz Arena.

Namun Klopp mengatakan, meskipun klubnya kurang berotot secara keuangan, Dortmund tidak akan mundur dari pertarungan kelas berat.

BACA JUGA  Prediksi RB Leipzig vs Koln, 25 Februari 2017

“Kami bukan pemungut recehan, tapi dibandingkan dengan nama-nama besar, kami ini seperti pertunjukan teater boneka Punch-dan-Judy,” kata pelatih berusia 47 tahun itu dalam sebuah acara talk show, ‘Brinkhoffs Ballgefluster’.

“Kami adalah satu-satunya tim elit di dunia yang kehilangan pemain terbaiknya secara teratur tetapi masih berjuang untuk berbagai trofi.”

“Tapi di final berikutnya saya ingin menang. Dan saya bukan berbicara tentang [final] Supercup.”

“Jika setiap pemain siap, sesuatu yang besar bisa saja terjadi. Dari hari pertama [musim baru] kami ingin menjadi lawan terberat bagi siapa pun.”

TINGGALKAN KOMENTAR