Penyebab Kerusuhan Di Akhir Laga Arema FC kontra Persib Versi Suporter

Kericuhan di akhir laga Arema FC versus Persib, Minggu (16/4), dipicu oleh kekecewaan Aremania atas penampilan Arema, kepemimpinan wasit dan petugas keamanan.
Kericuhan di akhir laga Arema FC versus Persib, Minggu (16/4), dipicu oleh kekecewaan Aremania atas penampilan Arema, kepemimpinan wasit dan petugas keamanan.

Berita Bola – Pertandingan sengit Arema FC melawan Persib Bandung di Kanjuruhan, Minggu (16/4) malam, berakhir dengan kerusuhan yang melibatkan suporter tim tuan rumah. Sebanyak 212 korban dilaporkan menderita luka akibat insiden itu.

Kericuhan yang memalukan tersebut terjadi pada injury time (90+2) pertandingan yang berakhir imbang 2-2. Sekelompok suporter tim tuan rumah yang merasa kecewa menyerbu ke lapangan.

Karena situasinya tidak kondusif, aparat keamanan terpaksa melontarkan gas air mata untuk menghentikan amuk para suporter yang tak bisa lagi dikendalikan karena jumlahnya yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan aparat keamanan.

Lalu apa yang menjadi pemicu kerusuhan tersebut? Pihak Arema FC menuding kepemimpinan wasit Handri Kristanto sebagai biang keladi terjadinya kericuhan. Tapi menurut suporter Arema, ada tiga penyebab terjadinya insiden tersebut. Hal itu diungkapkan oleh penabuh drum Aremania, Sukarno.

Seperti dilansir VIVA.co.id,  Cak No, sapaan akrab Sukarno, menyebutkan penyebab pertama dari pecahnya emosi rekan-rekannya adalah karena mereka kecewa dengan performa Arema yang di bawah standar dalam empat laga beruntun.

Advertisement

“Semua bisa analisa permainan Arema selama Liga 1 musim ini seperti apa. Harus ada evaluasi, perkembangan. Suporter jangan dijadikan kambing hitam. Dengan kejadian kemarin, kami turut prihatin,” kata Cak No.

Penyebab kedua, menurut Cak No, adalah kepemimpinan wasit. Aremania merasa wasit Handri Kristanto tak memiliki ketegasan saat memimpin laga.

Sedangkan penyebab ketiganya adalah, penanganan dari aparat keamanan yang terlampau berlebih saat menghalau suporter yang masuk ke lapangan.

“Harusnya keamanan tak menangkap Aremania yang masih di pinggir lapangan. Lalu, ada gas air mata yang ditembakkan ke arah tribun. Itu bikin Aremania marah, karena banyak suporter yang bergelimpangan terkena gas air mata. Itu jelas salah prosedur,” tegas Cak No.

Sementara manajemen Arema FC, melalui Media Oficer Arema FC, Sudarmaji menyebut reaksi kecewa yang dilakukan Aremania di Stadion Kanjuruhan terjadi karena rasa kecewa atas kepemimpinan wasit Handri Kristanto.

“Reaksi penonton karena keputusan wasit yang mengecewakan. Mulai dari pelanggaran yang diterima Atayev tapi dibiarkan dan berujung gol buat Persib,” kata Sudarmaji.

Puncak kekesalan Aremania, versi manajemen adalah saat penyerang Arema, Dedik Setiawan dikartu merah oleh wasit di menit 88. Aremania langsung menyerbu lapangan, saat pertandingan memasuki menit 90.

“Aremania semakin emosional saat kartu merah terhadap Dedik. Penonton mulai bereaksi atas keputusan wasit, terjadi tendangan sudut untuk Persib, penonton langsung turun,” ujar Sudarmaji.