Jurgen Klopp Sudah Seperti Ayah bagi Ilkay Gundogan

Ilkay Gundogan memuji peran Jurgen Klopp dalam perjalanan karirnya.
Ilkay Gundogan memuji peran Jurgen Klopp dalam perjalanan karirnya.

Ilkay Gundogan menyebut Thomas Tuchel dan Pep Guardiola sebagai pelatih terbaik, namun menganggap manajer Liverpool Jurgen Klopp sebagai figur ayah di dunia sepak bola.

Pemimpin klasemen sementara Liga Inggris Manchester City akan bertandang ke Anfield, Minggu (14/01) malam WIB nanti untuk laga pekan ke-23.

Di skuad The Citizens ada Ilkay Gundogan, yang pernah menjadi anak asuh Jurgen Klopp kala di meniti karir di Borussia Dortmund dahulu.

Pada musim lalu Gundogan gagal bersua bekas pelatihnya tersebut karena menderita cedera ligamen lutut tapi kini telah kembali ke skuad Guardiola. Walau demikian, Gundogan menganggap tinggi sosok Klopp yang menurutnya sudah seperti ayah di dunia sepak bola baginya.

“Segalanya mulai berjalan baik bagi saya kala bersama Klopp,” ujar Gundogan pada Sportbuzzer.

Advertisement

“Meski saya tidak akan melupakan peran [dua mantan pelatih di Bochum dan Nurnberg] Michael Oenning dan Dieter Hecking, Klopp sudah seperti ayah bagi saya dan perkataan-perkataannya bisa menjadi motivasi ekstra.”

“Ada saatnya kala dia memecut, tapi juga memeluk dan berkata ‘Segalanya baik-baik saja’. Dia bekerja dengan baik bersama asistennya, Zelko Buvac, yang lebih menjadi otak urusan taktik.”

Peran Jurgen Klopp di Borussia Dortmund pada akhirnya digantikan oleh Thomas Tuchel, dan bagi Ilkay Gundogan ada kesamaan antara Guardiola dengan Tuchel yang sudah tidak lagi berada di Der BVB.

“Dalam urusan latihan dan detail-detail, Thomas Tuchel mungkin pelatih terbaik yang pernah saya miliki,” tambahnya.

“Dia sangat mirip dengan Pep, dan bekerja dengan dia sangat menyenangkan. Saya belajar banyak soal taktik, mempertahankan posisi dan bagaimana menyerang dan bertahan secara kolektif. Saya memiliki rasa hormat yang besar bagi Tuchel.”

“Pep menempatkan dirinya di level tertinggi. Dia memiliki bakat untuk berpikir seperti para pemain, tidak peduli pemain bintang atau yang duduk di bangku cadangan. Dia tahu pasti apa yang dipikirkan secara profesional dan itu dibutuhkan dalam beberapa situasi.”