Muhammad Ali, petinju yang berhasil membuat kota-kota di Indonesia sepi saat ia naik ring di akhir 1970-an, meninggal dunia pada usia 74, seorang juru bicara keluarga mengatakan.

Mantan juara tinju kelas berat dunia, salah satu olahragawan paling terkenal di dunia, meninggal di sebuah rumah sakit di kota Phoenix, Arizona, Amerika Serikat setelah dirawat sejak hari Kamis.

Ia menderita penyakit pernafasan, kondisi yang diperumit oleh penyakit Parkinson yang sudah dideritanya selama bertahun-tahun.

Pemakaman akan berlangsung di kota kelahiran Muhammad Ali di Louisville, Kentucky, keluarganya mengatakan dalam sebuah pernyataan.

Ia terlahir sebagai Cassius Marcellus Clay di Louisville, Kentucky, pada 17 Januari 1942. Namanya merujuk pada nama seorang pejuang penghapusan perbudakan di abad ke-19.

Ketika ia berusia 12, ia melaporkan bahwa sepeda telah dicuri dan mengatakan kepada polisi bahwa ia akan “menghajar” pelakunya.

Petugas polisi itu, Joe Martin, kemudian membawa si pejuang muda itu ke sebuah gym terdekat dan menyarankan anak muda itu untuk belajar bertinju sebelum ia menantang si pencuri.

Ia kemudian dengan cepat naik ke ring, membuat debut kompetitif pada tahun 1954 dalam pertarungan amatir tiga menit.

“Dia berdiri paling lama karena ia memiliki tekad lebih besar daripada kebanyakan anak laki-laki seusianya,” Martin kemudian mengenang. “Dia adalah anak yang paling bekerja keras dari semua yang pernah saya ajar.”

Selama lima tahun berikutnya, karir amatirnya berkembang dan ia memenangkan sejumlah penghargaan termasuk Golden Gloves Tournament of Champions tahun 1959.

Pada tahun 1960 ia terpilih dalam tim AS untuk Olimpiade Roma. Pada awalnya ia menolak untuk pergi karena rasa takut terbang. Akhirnya, menurut putra Joe Martin, dia membeli sebuah parasut bekas dan memakainya selama penerbangan.

Pada tanggal 5 September 1960, ia mengalahkan petinju Polandia Zbigniew Pietrzykowski untuk menjadi juara kelas berat ringan Olimpiade.

Dia menerima sambutan sebagai pahlawan ketika tim kembali ke New York tetapi realitas masyarakat Amerika yang masih mendiskriminasi kulit hitam melukai hatinya ketika ia kembali ke Kentucky dan sebuah restoran menolak menolak kunjungannya.

Pada tahun 2005, Ali menerima dua penghargaan sipil tertinggi Amerika – Presidential Citizens Medal and the Presidential Medal of Freedom – untuk “memberi teladan” bagi negaranya.

Pada tahun yang sama ia melihat pembukaan lembaga non-profit Muhammad Ali Center di Louisville, Kentucky, yang mempromosikan perdamaian, tanggung jawab sosial dan rasa hormat.

Rekor Muhammad Ali sebagai petinju sangat mengesankan. Buku rekor menunjukkan bahwa karir profesionalnya membentang selama 21 tahun, di mana ia memenangkan 56 pertarungan, 37 dengan cara KO, dan kalah lima kali.