
Gilabola.com – Penampilan Benjamin Sesko bersama Manchester United saat bermain imbang 2-2 melawan Burnley di Turf Moor menghadirkan banyak cerita, terutama dua gol pentingnya, hingga kritik keras dari pundit yang akhirnya tampak tidak sejalan dengan kenyataan di lapangan.
Tentu saja apresiasi juga harus kita berikan kepada Darren Fletcher, yang memberikan pengaruh besar atas kepercayaan diri dan mulai kembalinya insting gol striker internasional Slovenia itu.
Pertandingan ini menarik perhatian karena menjadi laga pertama Manchester United tanpa Ruben Amorim yang dipecat, dan Fletcher dipercaya untuk untuk menjadi pelatih karetaker.
Laga di Turf Moor itu memang punya kesan berbeda. Sejak awal laga, Sesko terlihat aktif bergerak, menyerang lebih agresif, dan percaya diri dalam duel maupun pergerakan tanpa bola.
Ketika mantan bomber RB Leipzig itu akhirnya mencetak gol pertamanya, Fletcher yang berdiri di pinggir lapangan menunjukkan respons emosional positif. Gestur tersebut menegaskan kepercayaan staf pelatih terhadap sang penyerang.
Sesko kemudian menggandakan golnya, membuatnya sudah mencetak dua gol dalam satu pertandingan, jumlah gol yang sama dengan total golnya selama empat bulan dilatih Ruben Amorim.
Menariknya, ketika babak pertama berakhir, kritik keras datang dari Tim Sherwood. Dia sesumbar keras di Sky Sports dengan mengatakan bahwa penyerang Slovenia itu tidak layak mengenakan jersey Manchester United.
Kritik itu pada akhirnya terdengar kontras dengan apa yang terjadi di lapangan. Sesko justru tampil sebagai titik fokus serangan, aktif membuka ruang, dan kuat dalam duel fisik melawan bek Burnley.
Secara statistik, Sesko mencatat tujuh tembakan tepat sasaran, angka yang jarang dicapai penyerang United musim ini. Dia juga masuk ke dalam kelompok eksklusif bersama Harry Kane sebagai pemain dengan tujuh tembakan on target dan tujuh duel dimenangkan dalam satu laga Premier League.
Dua golnya di laga melawan Burnley bisa menjadi modal kepercayaan diri Sesko, yang mendapatkan penghargaan pemain terbaik di laga itu. Fletcher juga layak mendapatkan apresiasi atas pencapaian itu.
Lucunya, meski fakta dan statistik berbicara jelas, Tim Sherwood masih bersikap hasud, tetap mempertahankan pandangannya setelah laga usai. Dia menilai dua gol tersebut belum cukup dan menegaskan kritik awalnya tidak berubah.
Tak pelak, sikap sok keras itu memicu reaksi di media sosial. Banyak fans menilai komentar Sherwood lebih bersifat subjektif dan mengabaikan konteks perkembangan pemain muda di liga baru.
Okelah, Sesko sebelumnya memang memiliki laga-laga yang pantas dikritik. Tapi adaptasi di Premier League tak mudah bagi banyak orang, apalagi pemain muda. Kritik di depan publik seperti di TV, kesannya terlalu ekstrim dan mengaburkan proses pembelajaran seorang pemain.
Pendapat Kami
Sesko memang belum mencapai ekspektasi, tapi dia terus membaik dan berkembang, jadi mengkritik terlalu keras pada pemain muda yang baru datang ke Premier League kesannya agak kurang berotak. Kritik tetap diperlukan, asalkan disampaikan secara proporsional.
Biar nggak ketinggalan update terkini, yuk follow kami di Google News di sini!