
Napoli harus mengakhiri perjalanan mereka di Coppa Italia setelah kalah dari Como melalui adu penalti dalam laga perempat final yang berlangsung di Stadion Diego Armando Maradona. Pertandingan berakhir imbang 1-1 hingga waktu normal, sebelum kesalahan dalam babak sudden death adu penalti memastikan langkah Napoli terhenti.
Gol Como dicetak Antonio Vergara di awal babak kedua untuk menyamakan kedudukan, membalas penalti Martin Baturina yang lebih dulu membawa Napoli unggul. Hasil ini memperpanjang kekecewaan Napoli, yang sebelumnya juga telah tersingkir dari Liga Champions.
Namun bukan hanya hasil akhir yang menjadi perhatian. Seusai laga, pelatih Napoli Antonio Conte meluapkan kemarahannya terhadap keputusan wasit dan menyoroti krisis cedera yang terus membayangi timnya sepanjang musim.
Kontroversi Wasit di Tengah Laga Ketat
Salah satu momen paling diperdebatkan terjadi pada menit ke-50, ketika Jacobo Ramon melakukan pelanggaran terhadap Rasmus Hojlund di tepi kotak penalti. Ramon yang sudah mengantongi kartu kuning dinilai beruntung karena tidak mendapatkan kartu kuning kedua, bahkan ada pandangan bahwa pelanggaran tersebut layak diganjar kartu merah langsung karena dianggap menggagalkan peluang emas.
Conte mengaku tidak ingin menjadikan wasit sebagai satu-satunya alasan kegagalan timnya, tetapi menilai masalah kepemimpinan pertandingan sudah terlalu sering terjadi.
Ia menyebut musim ini sebagai periode yang sulit bagi wasit dan VAR, karena keluhan datang dari berbagai pihak, mulai dari pelatih, pemain, hingga suporter. Menurut Conte, kondisi ini tidak baik bagi sepak bola dan perlu adanya peningkatan kualitas dari para pengadil lapangan.
Adu Penalti dan Kondisi Tim yang Tidak Ideal
Laga harus ditentukan lewat adu penalti hingga fase sudden death. Dua pemain senior Napoli, Romelu Lukaku dan Stanislav Lobotka, menjadi penendang yang gagal dan memastikan Como melaju ke semifinal.
Conte tetap memberikan apresiasi kepada para pemainnya. Ia menilai situasi yang dihadapi Napoli jauh dari ideal, terutama karena jadwal padat dan kondisi fisik tim yang menurun. Napoli baru saja bermain melawan Genoa tiga hari sebelumnya, pertandingan yang berakhir dengan sepuluh pemain dan kembali memakan korban cedera.
Scott McTominay, yang dianggap sebagai pemain kunci, juga mengalami masalah fisik dan menambah panjang daftar pemain yang harus menepi.
Badai Cedera dan Ambisi yang Terbatas
Napoli kini hanya tersisa di Serie A, setelah tersingkir dari dua kompetisi lainnya. Conte menegaskan bahwa timnya sedang beroperasi jauh di bawah potensi terbaik karena keterbatasan sumber daya dan banyaknya pemain inti yang absen dalam waktu lama.
Ia menyebut sejumlah cedera yang dialami pemain-pemain penting sebagai sesuatu yang sulit diprediksi, mulai dari cedera tendon hingga kondisi yang memerlukan operasi dan pemulihan berbulan-bulan. Situasi ini memaksa pemain yang tersisa untuk terus bermain tanpa rotasi memadai, yang pada akhirnya memunculkan masalah fisik baru.
Conte juga mengungkapkan bahwa Napoli tidak memiliki banyak ruang gerak di bursa transfer dan hanya mampu mendatangkan dua pemain muda untuk membantu tim.
Conte Realistis Soal Scudetto
Ketika ditanya mengenai peluang Napoli menantang Inter dalam perburuan Scudetto dengan fokus penuh di Serie A, Conte bereaksi keras. Ia menilai pertanyaan tersebut tidak realistis mengingat jarak sembilan poin dan kondisi tim yang pincang.
Menurutnya, Napoli harus bersikap jujur dalam menilai situasi, karena banyak klub kuat lain yang juga bersaing di papan atas. Meski begitu, Conte menegaskan bahwa apa yang telah dilakukan Napoli sejauh ini tetap layak diapresiasi.
Dalam kondisi serba terbatas dan badai cedera yang tidak kunjung reda, Conte menilai musim Napoli tetap berjalan positif. Ia menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa timnya hanya terpaut sangat tipis dari tiket semifinal, meski menghadapi lawan yang datang dengan skuad lengkap dan kondisi fisik jauh lebih segar.
Biar nggak ketinggalan update terkini, yuk follow kami di Google News di sini!