
Kapten Juventus, Manuel Locatelli, mengaku hampir menangis setelah timnya tersingkir dari Liga Champions meski sempat bangkit secara dramatis melawan Galatasaray, Rabu waktu setempat. Kebangkitan itu memberi harapan besar di Turin, tetapi akhirnya tidak cukup untuk membalikkan keadaan agregat.
Juventus datang ke leg kedua dengan beban berat usai kalah 2-5 pada pertemuan pertama. Namun di laga kandang, Si Nyonya Tua tampil agresif sejak awal dan berhasil unggul 3-0 di waktu normal. Situasi menjadi semakin rumit karena mereka harus bermain dengan 10 orang hampir sepanjang babak kedua setelah Lloyd Kelly menerima kartu merah.
Keunggulan tiga gol tersebut memaksa pertandingan berlanjut ke babak tambahan. Dalam kondisi fisik yang terkuras, Juventus tidak mampu menjaga momentum. Galatasaray mencetak dua gol pada extra time, membuat skor akhir menjadi 2-3 untuk kemenangan tim tamu pada malam itu dan memastikan agregat 7-5 untuk wakil Turki tersebut.
Kebangkitan yang Hampir Sempurna
Locatelli tidak menutupi emosinya seusai laga. Ia menilai perjuangan timnya sudah maksimal meski hasil akhir tidak berpihak.
“Saya hampir menangis, tidak percaya kami tersingkir,” ujar Locatelli. “kami telah mencurahkan segalanya.”
Baginya, pertandingan seperti ini akan terus teringat dalam perjalanan karier seorang pemain. Juventus menunjukkan karakter dengan membalikkan tekanan besar dari leg pertama, bahkan dalam situasi kalah jumlah pemain. Dukungan suporter di stadion juga menjadi gambaran bahwa usaha tim tetap dihargai, meski harus menerima kenyataan tersingkir.
Leg Pertama Jadi Penentu
Bek Juventus, Federico Gatti, yang mencetak gol kedua timnya pada laga tersebut, melihat kegagalan ini tidak lepas dari hasil di pertandingan pertama.
“Saya frustrasi karena kami mencapai babak extra time sedikit kelelahan,” kata Gatti. “Kami telah membuka peluang kami, tapi bisa saya katakan lagi, kami melakukan kesalahan di leg pertama. Pertandingan seperti ini sangat sulit untuk dimenangkan.”
Pernyataan itu menegaskan bahwa kekalahan 2-5 di leg pertama menjadi titik krusial. Juventus dipaksa menguras energi untuk mengejar selisih tiga gol, dan ketika pertandingan memasuki babak tambahan, kondisi fisik menjadi faktor yang sulit diatasi.
Tersingkir dengan cara seperti ini meninggalkan dua sisi bagi Juventus. Di satu sisi, ada bukti daya juang dan respons positif di hadapan publik sendiri. Di sisi lain, kegagalan menjaga konsistensi dalam dua leg menjadi pelajaran mahal di kompetisi sekelas Liga Champions, di mana satu malam buruk bisa menentukan nasib seluruh musim.
Biar nggak ketinggalan update terkini, yuk follow kami di Google News di sini!