Kisah Sonny Pike, “Maradona Inggris” Yang Kariernya Berakhir Sebelum Dimulai

Sonny Pike pernah disebut sebagai calon penerus Diego Maradona. Namun alih-alih menapaki panggung sepak bola profesional, namanya justru lebih sering dikenang sebagai simbol tekanan berlebihan terhadap pemain muda. Saat baru berusia 14 tahun, kakinya diasuransikan senilai £1 juta atau sekitar Rp19 miliar. Ia menjadi sorotan nasional. Ironisnya, ia mengakhiri karier tanpa pernah memainkan satu pun laga profesional level senior.

Dari Enfield ke Sorotan Nasional

Pada era 1990-an, Sonny Pike mencuri perhatian lewat penampilannya bersama Enfield. Gaya bermainnya membuatnya dibandingkan dengan Diego Maradona dan George Best. Popularitasnya melejit cepat. Ia tampil dalam iklan McDonald’s, menjadi bintang tamu acara televisi, disponsori Coca-Cola, dan sudah berhubungan dengan agen sejak usia sangat muda.

Minat datang dari berbagai klub Inggris seperti Manchester United, Tottenham, Ipswich, hingga Norwich. Dari luar negeri, Ajax memberinya kesempatan trial ketika ia baru berusia 12 tahun.

Kepada Mirror, Pike mengenang momen saat melihat para pemain utama Ajax berjalan di hadapannya. Ia menyebut nama-nama seperti Frank dan Ronald de Boer, Jari Litmanen, Nwankwo Kanu, Edgar Davids, Patrick Kluivert, Clarence Seedorf, Marc Overmars, Edwin van der Sar, serta kapten Danny Blind. “Saya tidak pernah lebih yakin bahwa saya akan menjadi pesepak bola profesional,” katanya. Ia merasa tinggal menatap langit dan mengejar mimpinya.

Namun Ajax tidak memberinya kontrak setelah dua laga di tim muda. Ia kembali ke Inggris dengan ekspektasi publik yang terus membesar. Kamera acara televisi Blue Peter bahkan mengikutinya selama di Belanda.

Kepada The Sun, Pike mengaku pada usia 10 hingga 12 tahun ia sudah terbiasa dengan kamera. Tetapi memasuki usia 14 tahun, sorotan itu mulai mengganggu konsentrasinya di lapangan.

Asuransi Rp19 Miliar dan Tekanan yang Tak Terlihat

Saat berusia 14 tahun, kedua kakinya diasuransikan senilai £1 juta atau sekitar Rp19 miliar. Alih-alih menjadi kebanggaan, hal itu memicu cibiran dari orang tua pemain lawan. Pike mengaku sering mendengar teriakan agar kakinya dipatahkan. Di sekolah pun ia merasa diperlakukan berbeda.

Situasi itu mempertegas jarak antara reputasi dan kenyataan yang ia jalani sebagai remaja.

Skandal, Larangan Bermain, dan Titik Balik

Pada 1996, Pike menandatangani kontrak dengan Leyton Orient setelah trial di Ajax gagal. Di sinilah kariernya mulai tergelincir.

Ayahnya bekerja sama dengan seorang jurnalis untuk membuat dokumenter berjudul Coaching and Poaching. Pike mengira film itu berfokus pada dirinya, tetapi ternyata dibuat untuk membongkar skandal perekrutan ilegal pemain muda.

Dalam prosesnya, ia sempat tampil untuk Chelsea. Tanpa kesalahan langsung darinya, ia terseret pelanggaran aturan FA terkait tapping up. Setelah penyelidikan, ia dijatuhi larangan bermain selama satu tahun. Ia kehilangan kesempatan berlatih dengan sejumlah klub dan hubungannya dengan sang ayah pun retak.

Ia menggambarkan kondisi mentalnya kepada The Sun. Setelah menonton dokumenter itu, ia berdiri di tengah jalan utama di Edmonton, di sebuah bundaran, sementara mobil melintas cepat di sekelilingnya. “Kepala saya rasanya seperti itu. Ini terlalu berat,” ujarnya.

Larangan tersebut menjadi pukulan besar pada fase krusial perkembangan seorang pemain muda. Dalam konteks persaingan menuju level profesional, satu tahun tanpa bermain di usia remaja berarti tertinggal jauh dari generasi sebaya yang terus berkembang secara fisik dan teknis.

Semua Berakhir di Usia 16 Tahun

Setelah masa hukuman berakhir, Crystal Palace memberinya kesempatan. Namun itu tidak bertahan lama. Hasratnya terhadap sepak bola telah memudar.

Ia mengaku mengalami semacam gangguan mental di lapangan saat diberi kesempatan bermain 15 menit. Tekanan terasa tak tertahankan. Ia berjalan meninggalkan lapangan dan menangis. Saat itu ia tahu semuanya selesai.

Pike sempat menghabiskan dua tahun di Stevenage hingga usia 18 tahun, sebelum benar-benar meninggalkan sepak bola. Ia tidak pernah memainkan satu laga profesional level senior.

Ia kemudian berjuang melawan depresi sebelum menata hidupnya kembali. Pike bekerja sebagai sopir taksi di London, melatih pemain muda, dan mendukung perjalanan karier mereka. Ia juga menulis buku berjudul My Story: “The Greatest Footballer That Never Was” untuk menceritakan pengalamannya.

Kisah Sonny Pike bukan tentang kegagalan teknis di lapangan. Ia adalah gambaran bagaimana ekspektasi, sorotan media, dan keputusan di luar kendali seorang remaja dapat mengubah arah hidup. Talenta yang disebut sebagai English Maradona itu akhirnya lebih dikenal sebagai pelajaran tentang tekanan dalam sepak bola modern.

Biar nggak ketinggalan update terkini, yuk follow kami di Google News di sini!