
Bagi kita yang tumbuh besar di era 90-an, sepak bola Italia adalah segalanya. Dulu TVRI adalah jendela dunia bagi kita untuk bisa melihat megahnya San Siro, asap flare yang membumbung, serta kibaran bendera Ultras yang penuh gairah. Saat itu, Serie A adalah kiblat sepak bola dunia, jauh di atas liga-liga lain.
Namun, 30 tahun kemudian, situasinya berbalik total. Premier League kini menjadi liga terkaya di dunia dengan stadion yang modern dan nyaris sempurna, pemasaran yang masif, dan pemain yang telah menjadi bintang global. Sebaliknya, Serie A sering dipandang sebagai liga yang “ketinggalan zaman”, kuno, jadul, dengan stadion tua yang kurang fasilitas modern.
Tapi, benarkah yang “lebih mewah dan kaya” selalu berarti “lebih baik”?
Beberapa tahun terakhir, saya beruntung mendapatkan kesempatan untuk melakukan perjalanan ke Eropa untuk menonton langsung laga Serie A dan lalu ke Inggris untuk menyaksikan laga Premier League. Hasilnya? Saya menemukan sesuatu yang sudah hilang dari sepak bola Inggris, yaitu: Jiwa!
Stadion “Berantakan” Italia, Atmosfer Luar Biasa
Dalam perjalanan saya ke Pisa, Genoa, hingga Naples, saya dan tim menemukan stadion yang mungkin tidak akan lulus standar kenyamanan Premier League. Di Genoa misalnya, stadionnya terlihat seperti gedung parkir, atap bocor, dan toilet yang jauh dari standar.
Namun, di situlah keunikannya! Di tribun, tidak ada sekat-sekat kaku atau kursi yang harus ditaati nomornya, ngasal aja pokoknya. Penggemar berdiri bersama, bernyanyi selama 90 menit tanpa henti, mengibarkan bendera, dan menyalakan flare sebagai bentuk dedikasi.
Tidak ada “turis” yang sibuk memegang ponsel, selfie, fotoin stadion, yang ada hanyalah suara lantang pendukung setia yang mencintai klubnya, terlepas dari apakah tim mereka sedang menang atau berjuang di zona degradasi.
Premier League: Kehilangan “Detak Jantung”
Saya merasa atmosfer stadion di Inggris kini semakin “tumpul”. Tiket menjadi barang mewah yang sulit diakses, bahkan buat orang lokal Inggris sendiri, dan penonton yang datang semakin beragam (termasuk wisatawan). Akibatnya, energi asli yang biasanya datang dari suporter fanatik lokal perlahan memudar.
Sepak bola Inggris kini adalah produk yang dipoles dengan sempurna, namun atmosfernya terasa “dibuat-buat” untuk kebutuhan televisi dan medsos. Padahal, atmosfer itu tidak turun dari langit, atmosfer tercipta oleh suporter garis keras yang mendukung dalam kondisi apa pun.
Pelajaran untuk Kita Semua
Saya sih tidak menyarankan Premier League menjadi “berantakan” seperti Serie A. Namun, ada satu pelajaran penting: Jangan jual jiwamu demi keuntungan komersial!
Ada usulan yang menarik untuk klub seperti Liverpool:
- Zona Ultras: Memindahkan “area bernyanyi” ke bagian depan tribun dan mengkhususkannya bagi pendukung lokal atau yang sudah lama mengabdi.
- Fokus pada Akar Rumput: Menjaga agar harga tiket tetap terjangkau bagi pendukung asli, agar stadion tidak hanya menjadi seperti “teater” bagi penonton yang datang hanya untuk duduk manis dan bingung selfie (termasuk saya sih hahaha!).
Kesimpulan
Italia mungkin kalah dalam hal nilai kontrak siaran atau kemewahan stadion, namun mereka berhasil menjaga gairah sepak bola yang murni. Sepak bola adalah tentang komunitas, tradisi, dan suara pendukung. Jika klub-klub besar hanya fokus mengejar profit dan melupakan suporter fanatiknya, maka lama-kelamaan, atmosfer sepak bola hanya akan menjadi kenangan, malah jadi tempat wisata.
Sepak bola adalah milik pendukung yang akan tetap ada bahkan setelah pemilik klub berganti. Jangan sampai stadion kita berubah menjadi tempat yang sunyi, di mana penonton hanya datang untuk menonton, bukan untuk bersuara.
Analisis Redaksi untuk Audiens Indonesia
Bagi kita di Indonesia yang budaya suporternya (seperti Bonek, Viking, Jakmania) sebenarnya memiliki kemiripan dengan “semangat” Italia. Saat klub-klub besar dunia mulai kehilangan sentuhan “manusiawi” karena komersialisasi, justru sisi “brutal” dan “apa adanya” dari liga seperti Italia yang membuat sepak bola tetap terasa hidup. Ini adalah keseimbangan yang sulit, namun harus dijaga agar sepak bola tidak kehilangan jati dirinya sebagai olahraga rakyat.
Biar nggak ketinggalan update terkini, yuk follow kami di Google News di sini!