Anthony Gordon meminta Timnas Inggris berhenti mencoba meniru gaya bermain Spanyol dan lebih mengandalkan kekuatan mereka sendiri.
Winger Barcelona itu menyampaikan pandangannya di St George’s Park jelang Inggris menghadapi Spanyol pada Sabtu.
Pertandingan tersebut menjadi laga pertama Inggris bersama-sama setelah Piala Dunia.
Inggris sebelumnya kalah 1-2 dari Argentina pada semifinal sebelum mengalahkan Prancis 6-4 dalam perebutan tempat ketiga.
Hasil tersebut membuat The Three Lions meraih pencapaian terbaik di Piala Dunia sejak 1966.
Gordon: Jangan Ingin Menjadi Seperti Mereka!
Kekalahan dari Argentina tetap menyisakan luka bagi Gordon dan rekan-rekannya. Apalagi, pelatih Thomas Tuchel menarik keluar Gordon setelah sang winger mencetak gol dan mengubah formasi menjadi lima bek.
Perubahan tersebut membuat Argentina lebih leluasa menekan. Enzo Fernandez kemudian menyamakan kedudukan sebelum Lautaro Martinez mencetak gol kemenangan pada masa injury time.
Gordon mengaku merasa sangat terpukul setelah pertandingan tersebut.
“Luka itu tidak harus menjadi sesuatu yang negatif karena mungkin bisa membawa kami meraih kemenangan di turnamen berikutnya,” kata Gordon.
Jadikan Gilabola.com sumber berita pilihan anda!
“Kami tidak bisa terus melihat negara lain dan mencoba menjadi seperti mereka. Kami adalah Inggris dan punya kekuatan sendiri yang tidak mereka miliki.”
Gordon bergabung dengan Barcelona dari Newcastle United pada musim panas dengan nilai transfer £69,3 juta atau sekitar Rp1,57 triliun.
Pengalamannya bermain di LaLiga membuat Gordon semakin memahami perbedaan gaya sepak bola Inggris dan Spanyol.
Menurutnya, penguasaan bola dengan permainan kombinasi yang menjadi ciri Spanyol tidak bisa begitu saja diajarkan kepada pemain Inggris.
“Saya berbicara dari sudut pandang seseorang yang merasa kami mencoba meniru Spanyol,” ujar Gordon.
“Saya tahu kami punya pemain yang sama bagusnya, tetapi mereka memiliki kualitas berbeda. Jadi, mengapa mencoba membuat pemain kami menjadi seperti pemain Spanyol?”
Gordon menilai gaya bermain penguasaan bola bukan bagian dari “DNA Inggris”.
“Saya tidak yakin itu sesuatu yang bisa diajarkan. Sekarang setelah bermain di Spanyol, saya bisa berbicara berdasarkan pengalaman,” katanya.
“Cara mereka mempertahankan bola berbeda. Bahkan terkadang saya melihat keputusan mereka saat menguasai bola dan berpikir, saya tidak tahu bagaimana mereka bisa melihat itu.”
Menurut Gordon, kemampuan tersebut sudah menjadi bagian dari karakter pemain Spanyol.
“Mereka memang dibentuk seperti itu. Saya tidak tahu apakah ini sesuatu yang tidak bisa kita beri nama, tetapi mereka memang dibangun secara berbeda.”
Gordon Terkejut Ditarik Keluar
Gol Gordon pada semifinal menjadi salah satu momen terbaiknya di Piala Dunia. Pemain berusia 25 tahun itu tampil sebagai starter dalam lima pertandingan dan menyumbangkan empat assist.
Ia ditarik keluar 17 menit setelah membawa Inggris unggul atas Argentina. Gordon mengaku sempat terkejut dengan keputusan tersebut.
“Setelah mencetak gol, saya bermain dengan adrenalin dan masuk ke mode percaya diri yang luar biasa,” kata Gordon.
“Itu membuat saya merasa berada di puncak dunia, terutama pada momen dan panggung seperti itu. Saya merasa sangat baik.”
Gordon tetap memahami keputusan pergantian pemain karena seorang winger memang sering ditarik keluar.
“Sebagai winger, sejujurnya saya sering keluar dalam banyak pertandingan. Itu normal,” ujarnya.
Gordon juga menyebut kemenangan 3-2 atas Meksiko di babak 16 besar ikut memengaruhi pemikiran Inggris saat menghadapi Argentina.
Inggris bermain dengan 10 pemain selama lebih dari 35 menit setelah Jarell Quansah menerima kartu merah.
Menurut Gordon, Inggris seharusnya mampu menunjukkan performa seperti yang mereka tampilkan dalam latihan.
“Jika kami melakukannya, kami akan mendominasi semua orang,” katanya.
Gordon juga membela keputusan Tuchel yang menerapkan taktik lebih aman dan defensif.
“Kami tidak seharusnya mencoba menyalahkan satu orang yang jelas-jelas berusaha melakukan yang terbaik dan memenangkan trofi untuk kami semua,” tutur Gordon.
“Sebagai pemain, kami bisa berbuat lebih banyak untuk mengambil inisiatif dan mengontrol pertandingan melawan Argentina.”
“Jika kami melakukan itu, pelatih mungkin tidak akan mengambil keputusan menggunakan lima bek.”
“Bagi saya, kami punya tim terbaik dan pemain terbaik di lapangan pada semifinal itu. Tetapi dalam 20 menit terakhir, kami tidak memainkan sepak bola terbaik.”
“Itu sesuatu yang tidak bisa benar-benar dipengaruhi pelatih dari pinggir lapangan. Jadi, sebagai sebuah tim, kami semua harus bertanggung jawab.”


