Kepergian Gabriel Martinelli dari Arsenal menyisakan sebuah pertanyaan. Apakah ia benar-benar pergi karena sudah waktunya menutup satu siklus, atau karena tak lagi masuk dalam rencana utama Mikel Arteta?
Sang agen, Marcos Casseb, kini memberikan versi yang berbeda. Ia mengatakan Martinelli membutuhkan suasana baru setelah tujuh tahun di Arsenal. Ada tawaran dari klub Inggris, Italia, dan Jerman, tetapi sang pemain disebut ingin “menjernihkan pikirannya” dan mencari perubahan suasana.
Siklus yang Dianggap Selesai
Casseb menyebut Martinelli datang ke Arsenal ketika berusia 18 tahun dan menjadi salah satu pemain yang bertahan sejak sebelum era Arteta, bersama Bukayo Saka.
Meskipun begitu, perubahan besar di Arsenal membuat posisi Martinelli ikut bergeser. Ia kehilangan tempat musim lalu ketika Arteta membangun tim yang ditujukan untuk mempertahankan gelar Premier League sekaligus mengejar trofi Liga Champions yang belum pernah dimenangkan Arsenal.
Arsenal mencoba mendatangkan Morgan Rogers, Bradley Barcola, dan Vinícius Júnior. Upaya itu gagal. Martinelli tetap dijual.
Menariknya, sebelum pindah, Martinelli dikabarkan menolak Galatasaray karena masih ingin bermain di salah satu liga besar Eropa. Pada awal musim, ia bahkan tidak masuk bangku cadangan dalam tiga pertandingan pertama Arsenal.
Narasi pun berubah.
Menurut Casseb, kepindahan tersebut merupakan keputusan yang baik bagi kedua pihak. Arsenal menerima sekitar Rp1,42 triliun dari penjualan Martinelli, hampir dua kali lipat rekor penjualan klub sebelumnya.
Martinelli kemudian memilih Al Hilal.
Jadikan Gilabola.com sumber berita pilihan anda!
Panggung Baru, Tuntutan Baru
Di Arab Saudi, Martinelli langsung mendapatkan peran penting. Ia tampil sebagai starter dalam tiga dari empat pertandingan dan bergeser ke sayap kanan.
Ada satu ledakan besar. Martinelli mencetak hat-trick hanya dalam 54 menit ketika Al Hilal menang 6-0 atas Al Taawoun pada 12 September.
Selebihnya belum seindah itu.
Dalam debut Liga Champions Asia Elite melawan Al Gharafa, ia tidak mencetak gol, tidak membuat assist, tidak menciptakan peluang, dan hanya menghasilkan satu tembakan tepat sasaran. Ketika Al Hilal kalah mengejutkan dari Neom lima hari sebelumnya, kontribusinya juga terbatas.
Martinelli hanya sekali menjadi starter Brasil di Piala Dunia 2026. Namanya juga tidak masuk skuad untuk periode internasional September-Oktober.
Di Arsenal, ia kehilangan panggung. Di Al Hilal, ia mendapatkan panggung baru.
Kini persoalannya lebih sederhana, tetapi juga lebih berat: apakah Martinelli mampu mengubah panggung baru itu menjadi rumah bagi kebangkitan kariernya?


