Site icon Gilabola.com

Kisah Federico Valverde: Dari Pemalas di Montevideo hingga Jadi Bintang Real Madrid

Federico Valverder bintang Real Madrid

Perjalanan karier Federico Valverde menuju status bintang di Real Madrid tidak selalu berjalan mulus. Jika melihat kembali masa awalnya di Montevideo, Uruguay, salah satu kritik terbesar terhadapnya justru terdengar cukup unik: ia dianggap kurang mau berlari saat bermain.

Awal Karier di Montevideo

Ketika masih menimba ilmu di akademi Peñarol, pelatih mudanya, Chueco Perdomo, ingin menempatkan Valverde sebagai gelandang tengah. Namun, pemain muda yang penuh percaya diri itu menyatakan ingin bermain sebagai gelandang serang nomor 10, dengan tanggung jawab bertahan yang lebih terbatas.

Bakatnya sebenarnya sudah terlihat sejak kecil. Bahkan sejak usia delapan tahun, Valverde sudah mampu mendominasi permainan dan mengelabui lawan-lawannya. Gaya bermain tersebut masih terlihat hingga kini, termasuk ketika ia membantu Real Madrid mengalahkan Manchester City dengan skor 3-0 di Stadion Santiago Bernabéu Stadium pada Kamis dini hari WIB.

Dilirik Klub-Klub Besar Eropa

Bakat Valverde tidak luput dari perhatian klub-klub elite Eropa. Arsenal pernah mencoba merekrutnya lebih dahulu dari Peñarol, bahkan melibatkan Alexis Sánchez untuk membantu proses transfer tersebut.

Selain Arsenal, dua raksasa Eropa lainnya yaitu Manchester United dan FC Barcelona juga memantau perkembangan sang pemain dengan serius.

Namun pada akhirnya Real Madrid berhasil mengamankan jasanya.

Lama Berada di “Bayang-Bayang” Bintang Besar

Meski sudah lama menjadi bagian dari skuad Real Madrid, Valverde sering dianggap kurang mendapatkan sorotan dibanding gelandang terkenal lainnya seperti Luka Modrić, Toni Kroos, Casemiro, hingga Jude Bellingham.

Padahal, menurut orang-orang di dalam klub, Valverde selalu menunjukkan kualitas luar biasa saat latihan. Ia juga telah menunjukkan jiwa kepemimpinan di lapangan jauh sebelum mengenakan ban kapten.

Dalam kemenangan 3-0 Real Madrid atas Manchester City tersebut, Valverde menempuh jarak sekitar 11,4 kilometer selama pertandingan, salah satu yang tertinggi di tim.

Pemain Serbabisa di Lapangan

Salah satu kekuatan terbesar Valverde adalah fleksibilitasnya. Ia mampu bermain di banyak posisi sesuai kebutuhan tim, antara lain:

Kemampuan untuk beradaptasi di berbagai peran membuatnya menjadi pemain yang sangat berharga bagi tim.

Media Spanyol Marca bahkan memberikan pujian luar biasa setelah ia mencetak hattrick pertamanya di UEFA Champions League. Marca menuliskan bahwa performanya mengingatkan pada kombinasi beberapa legenda sepak bola seperti Alfredo Di Stéfano, Toni Kroos, Cristiano Ronaldo, dan Kylian Mbappé.

Pujian dari Pep Guardiola dan Rekan Setim

Pelatih Manchester City, Pep Guardiola, mengakui kesulitan timnya menghadapi pemain asal Uruguay tersebut.

Ia bahkan menyatakan tidak yakin berapa banyak posisi yang bisa dimainkan Valverde, karena kemampuannya yang luar biasa.

Pada laga yang sama, Valverde juga mendapatkan nilai sempurna 10/10 dari media Prancis L’Équipe, menjadikannya salah satu dari sedikit pemain yang pernah memperoleh penilaian tersebut.

Rekan setimnya di Real Madrid, Trent Alexander-Arnold, juga memberikan pujian besar dengan menyebut Valverde sebagai salah satu pemain yang paling kurang mendapatkan pengakuan di dunia sepak bola selama bertahun-tahun.

Dari Pemain “Under-Rated” Menjadi Bintang Utama

Untuk waktu yang lama, label “under-rated” melekat pada Valverde. Ia dikenal sebagai pemain tim yang selalu siap tampil dan menjalankan tugas apa pun yang diberikan pelatih.

Musim ini, ia bahkan mencatatkan jumlah menit bermain terbanyak di antara seluruh pemain non-kiper Real Madrid.

Namun, perjalanan menuju puncak performanya juga membutuhkan proses. Salah satu aspek yang sempat menjadi perhatian adalah pola makan. Saat masih di Peñarol, Real Madrid bahkan menetapkan pola sarapan khusus untuknya agar pertumbuhan fisiknya optimal.

Menu tersebut terdiri dari: lima butir kenari, jus buah, roti gandum, satu jam kemudian ia harus mengonsumsi buah, kopi susu, sandwich ham dan keju.

Program tersebut dirancang untuk membantu perkembangan fisiknya hingga mencapai level performa seperti sekarang.

Memasuki Puncak Karier

Kini, pada usia 27 tahun, Valverde berada dalam masa terbaik kariernya. Kekhawatiran tentang pola makan maupun persiapan mental sudah lama hilang.

Real Madrid kini memiliki pemain yang dinilai sebagai salah satu gelandang paling lengkap di dunia sepak bola modern.

Sepuluh tahun setelah meninggalkan Montevideo, julukan “Little Bird” yang dulu diberikan karena tubuhnya yang kecil saat remaja kini terasa sangat tepat. Valverde benar-benar telah mengembangkan sayapnya dan terbang tinggi di panggung sepak bola dunia.

Apabila penampilan impresifnya melawan Manchester City belum cukup membuat namanya dikenal luas oleh publik global, performa gemilang bersama Uruguay national football team di FIFA World Cup musim panas nanti berpotensi semakin mengukuhkan statusnya sebagai salah satu pemain elite dunia.

Statistik Performa Federico Valverde

Musim Usia Main (MP) Starter Menit Gol Assist Kartu Kuning
2018-2019 20 16 6 656 0 0 4
2019-2020 21 33 21 1.907 2 5 1
2020-2021 22 24 15 1.330 3 1 0
2021-2022 23 31 19 1.833 0 1 2
2022-2023 24 34 29 2.502 7 4 2
2023-2024 25 37 33 2.704 2 7 2
2024-2025 26 37 36 3.176 3 4 2
2025-2026* 27 26 24 2.157 2 7 2
Total (Real Madrid) 238 183 16.265 19 29 15

*Data musim 2025-2026 masih berjalan (hingga Maret 2026). Sumber: FBref.

Catatan Penting Data:

Exit mobile version