Site icon Gilabola.com

Michael Carrick Datang, Tapi ‘DNA Manchester United’ Tidak Ada Jaminan Kembali!

Michael Carrick memimpin sesi latihan tim Manchester United

Gilabola.com – Para fans Manchester United perlu menyimak ini baik-baik, karena kedatangan legenda klub Michael Carrick sebagai pelatih interim tidak akan secara otomatis mengembalikan DNA klub karena dia lebih dekat dengan pendekatan modern berbasis struktur dan penguasaan bola ketimbang romantisme era Sir Alex Ferguson.

Carrick telah ditunjuk sebagai pelatih interim hingga akhir musim, meneruskan pekerjaan RUben Amorim yang dipecat, dan juru taktik berusia 44 tahun itu punya tugas utama, menjaga stabilitas dan menenangkan ruang ganti.

Soal di atas lapangan, prioritas utama adalah mendapatkan hasil demi bisa finis di posisi setinggi mungkin di klasemen akhir liga dan lolos ke sepak bola Eropa, daripada sekedar memberikan filosofi dan identitas permainan pada tim.

Statistik Manchester United Musim Ini

Penunjukan Carrick tentu saja disambut antusias oleh banyak fans karena statusnya sebagai mantan pemain yang memahami kultur Old Trafford, terutama karena pengalamannya sebagai asisten pelatih dan karetaker di klub di periode sebelumnya.

Tapi, asumsi bahwa Carrick otomatis akan menghadirkan sepak bola agresif khas era Alex Ferguson dan mengembalikan ‘DNA Manchester United’ mulai dipertanyakan jika melihat rekam jejak kepelatihannya.

Filosofi Carrick yang Tak Sepenuhnya Tradisional

Perlu diketahui bahwa saat melatih di Middlesbrough, Carrick kerap memainkan formasi 4-2-3-1 di awal pertandingan dan kemudian bisa berubah menjadi 3-2-5 dalam proses build-up serangan.

Jadi, satu bek sayap didorong naik ke lini depan, sementara bek sisi lain tetap berada di belakang untuk membentuk trio bek sejajar, dengan dua gelandang tetap berada di tempat, sebuah pendekatan taktik yang sangat modern.

Memang, dalam taktik Carrick, dua gelandang pivot berfungsi sebagai penghubung utama distribusi bola, menunggu momen tepat untuk membawa permainan ke area lawan sembari tetap menjaga keseimbangan di lini tengah.

Di luar penguasaan bola dan fase build-up, taktik Carrick saat bertahan adalah dengan struktur 4-4-2 zonal pressing, pola yang juga banyak digunakan pelatih-pelatih elite Eropa saat ini.

Perlu dicatat bahwa taktik ini memang menghasilkan output menyerang yang baik, terbukti Middlesbrough menjadi tim tersubur pada musim pertama Carrick sebagai pelatih, tapi mereka juga jadi tim dengan tempo serangan paling lambat, menurut Opta.

Jadi, pendekatan taktik Carrick lebih dekat dengan filosofi Pep Guardiola, Mikel Arteta, atau Enzo Maresca, yang menekankan kontrol dan posisi, daripada sebagai penganut sepak bola direct yang identik dengan romantisme ‘DNA Manchester United’.

Pendapat Kami

Yang menarik dari pembahasan taktik Carrick ini adalah bahwa akan ada pemain yang senang dan dikorbankan. Pemain menyerang tentu akan diuntungkan, tapi bek tengah akan jadi korban karena berkurangnya satu slot dari tiga bek tengah jadi dua.

Mainoo jadi pertanyaan menarik, karena dia diharapkan dapat harapan baru di era Carrick, tapi dia tidak cocok berperan dalam peran dua gelandang pivot, dan lebih cocok dalam skema tiga gelandang. Jadi, akankah dia bisa dapat kesempatan atau malah terbuang?

Exit mobile version