Mengenang Wahyu Hidayat, Sosok Kunci Gelar Perserikatan Persija 1978/1979

Kabar duka datang dari Persija Jakarta. Wahyu Hidayat, gelandang yang menjadi bagian penting dalam keberhasilan Persija menjuarai Perserikatan musim 1978/1979, meninggal dunia pada Selasa, 10 Februari 2026. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar Macan Kemayoran dan pecinta sepak bola nasional.

Wahyu dikenal sebagai salah satu figur sentral di lini tengah Persija pada era Perserikatan. Namanya lekat dengan musim 1978/1979, ketika Persija kembali mencatatkan prestasi penting dalam sejarah klub.

Ucapan Duka dari Persija

Persija Jakarta menyampaikan belasungkawa secara resmi melalui akun media sosial klub. Manajemen dan seluruh elemen tim mengenang Wahyu sebagai sosok yang memiliki dedikasi besar selama membela tim ibu kota.

“Keluarga besar Persija mengucapkan bela sungkawa terdalam atas berpulangnya Wahyu Hidayat, salah satu gelandang legendaris Macan Kemayoran di era perserikatan,” tulis Persija dalam pernyataan resminya.

Klub juga mengajak para pendukung dan keluarga besar Persija untuk mendoakan almarhum serta memberikan kekuatan bagi keluarga yang ditinggalkan.

“Mari sejenak kita panjatkan doa terbaik untuk almarhum dan semoga keluarga yang ditinggalkan selalu diberikan ketabahan,” lanjut pernyataan tersebut.

Peran Penting di Final Perserikatan 1978/1979

Nama Wahyu Hidayat tak bisa dilepaskan dari keberhasilan Persija menjuarai Perserikatan musim 1978/1979. Ia tampil dalam laga final yang mempertemukan Persija dengan PSMS Medan.

Pertandingan puncak itu digelar di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, pada 20 Januari 1979. Dalam laga yang berlangsung ketat, Persija menang dengan skor 1-0. Gol tunggal Andi Lala memastikan kemenangan sekaligus menghadirkan trofi juara kesembilan bagi tim ibu kota.

Wahyu, yang saat itu mengenakan nomor punggung 14, pernah mengenang suasana pertandingan tersebut. Ia menggambarkan bagaimana atmosfer di GBK memompa motivasi seluruh pemain.

“Saat itu semangat para pemain berlipat ganda. Saat menginjak rumput GBK dan melihat banyaknya penonton, kami menekankan diri harus menang. Saya ingat betul momen itu,” ujarnya dalam sebuah kesempatan.

Ia juga menekankan kuatnya rasa memiliki terhadap klub, terutama karena banyak pemain berasal dari Jakarta atau binaan Persija.

“Saat sudah memakai jersey Persija, semangat pemain bertambah. Kami tidak mau kalah. Apalagi saat itu banyak pemain yang asli dari Jakarta ataupun binaan Persija,” tambahnya.

Warisan di Era Perserikatan

Sebagai gelandang, Wahyu Hidayat menjadi bagian tak terpisahkan dari era Perserikatan yang gemilang bagi Persija. Kontribusinya pada musim 1978/1979 menjadikannya salah satu pilar penting dalam sejarah klub.

Kepergiannya bukan hanya kehilangan bagi Persija, tetapi juga bagi sepak bola Indonesia yang pernah menyaksikan kiprahnya di lapangan. Nama Wahyu Hidayat akan selalu dikenang sebagai bagian dari generasi yang membawa Macan Kemayoran meraih kejayaan di kompetisi nasional.

Biar nggak ketinggalan update terkini, yuk follow kami di Google News di sini!