Amorim Dipecat Saat MU Membaik, Keputusan Aneh Era Ratcliffe!

Gilabola.com – Ruben Amorim memang tidak selalu membuat keputusan tepat selama melatih Manchester United, namun pemecatannya dinilai bukan jawaban atas kekacauan yang terus terjadi di Old Trafford. Situasi klub saat ini justru memperlihatkan kegagalan manajemen di level tertinggi, terutama di era kepemimpinan Sir Jim Ratcliffe.

Manchester United kembali dicap sebagai klub bahan ejekan di Premier League. Setiap kali tanda-tanda stabilitas mulai muncul, klub justru mengambil keputusan drastis yang merusak fondasi yang sedang dibangun. Pemecatan Amorim menjadi contoh paling nyata dari pola tersebut.

Ruben Amorim dan Sistem yang Tak Pernah Benar-Benar Cocok

Sejak awal kedatangannya, Amorim membawa pendekatan taktis yang sangat jelas dengan formasi 3-4-3. Namun, ekspektasi agar skuad Manchester United bisa beradaptasi cepat dengan sistem berbasis wing-back terbukti terlalu besar. Transisi berjalan sulit dan performa tim pun terpuruk.

United sempat terjerembap hingga posisi ke-15 klasemen. Pada fase inilah, keputusan seharusnya diambil. Jika eksperimen dianggap gagal, pemecatan saat itu bisa dipahami. Namun, manajemen memilih bertahan dan tetap memberi dukungan penuh kepada sang pelatih.

Dukungan Setengah Hati yang Berujung Ironi

Memasuki musim panas, Amorim justru diberi dana besar. Sekitar £250 juta atau setara Rp5 triliun digelontorkan untuk mendatangkan pemain yang secara spesifik disesuaikan dengan sistemnya. Keputusan tersebut logis jika klub benar-benar ingin melanjutkan proyek jangka panjang bersama Amorim.

Ironisnya, hanya beberapa bulan kemudian, Amorim justru dipecat saat Manchester United berada di posisi terbaik mereka sejak ia datang. United duduk di peringkat enam, sejajar poin dengan Chelsea di posisi lima, dan hanya terpaut tiga poin dari zona empat besar.

Untuk pertama kalinya, ada tanda-tanda kemajuan nyata. Namun, keputusan memutus kerja sama justru diambil di momen tersebut.

Era Sir Jim Ratcliffe yang Sarat Inkonsistensi

Di bawah kepemimpinan Sir Jim Ratcliffe, United dinilai mengambil terlalu banyak keputusan kontradiktif. Ia mendatangkan pelatih dengan sistem spesifik untuk skuad yang tak mendukung sistem tersebut. Ia mempertahankan Amorim saat performa buruk, mengucurkan dana besar untuk mendukung proyeknya, lalu memecatnya ketika hasil mulai membaik.

Amorim sendiri tidak sepenuhnya tanpa cela. Ia tetap bersikukuh dengan pendekatan 3-4-3 meski situasi tim memburuk, serta terlibat konflik internal dan menghasilkan sejumlah penampilan yang mengecewakan. Namun, ia juga menjadi korban dari manajemen yang tak memiliki arah jelas.

Alih-alih menjadi arsitek perubahan, Amorim berubah menjadi tameng kegagalan struktural klub. Ia direkrut sebagai visioner, dipertahankan saat krisis, dan disingkirkan saat ada harapan.

Opini Gilabola.com

Menurut kami, pemecatan Ruben Amorim adalah bentuk klasik pengalihan tanggung jawab. Manchester United kembali memilih jalan pintas dengan mengorbankan pelatih, sementara akar masalah di level pengambil keputusan dibiarkan utuh. Selama manajemen terus ragu dengan identitasnya sendiri, siapa pun yang duduk di bangku pelatih hanya akan menjadi korban berikutnya. Jika benar ingin perubahan, cermin di ruang direksi seharusnya lebih sering dipakai daripada pintu keluar ruang manajer.