Site icon Gilabola.com

Analisa: Arsenal dan Bayang-Bayang Terpeleset di Akhir Musim, Bakal Terulang Lagi?

Peluang juara Arsenal di Liga Inggris terancam

Arsenal masih memimpin klasemen Liga Inggris 2025-26 dengan keunggulan lima poin, namun dua kemenangan dalam tujuh laga terakhir membuat tekanan kembali menghampiri tim asuhan Mikel Arteta. Situasinya terasa tidak asing bagi pendukung di London utara yang sudah beberapa kali melihat tim mereka tergelincir saat peluang juara terbuka lebar.

Sejak awal Oktober, Arsenal konsisten berada di puncak klasemen. Mereka memadukan efektivitas bola mati dengan pertahanan yang sulit ditembus. Dalam banyak pertandingan, lawan bahkan kesulitan mencatatkan tembakan tepat sasaran. Di kompetisi lain, performa mereka juga solid. Arsenal memenangi delapan laga fase liga Liga Champions, lolos ke final Carabao Cup, serta mencapai putaran kelima Piala FA.

Namun hasil imbang 2-2 melawan Wolves di Molineux pada Rabu menjadi simbol penurunan ritme di liga. Sejak pergantian tahun, Arsenal hanya menang dua kali dari tujuh pertandingan liga, dan dua kemenangan itu diraih atas tim promosi.

Produktivitas Turun, Efektivitas Lawan Meningkat

Dalam delapan laga terakhir liga, perolehan poin Arsenal sebenarnya setara dengan Manchester City dan dua poin lebih banyak dari Aston Villa di posisi ketiga. Artinya, para pesaing juga tidak sepenuhnya stabil.

Meski demikian, detail performa menunjukkan penurunan. Dalam tujuh pertandingan terakhir, jumlah tembakan Arsenal berkurang sekitar 20 persen. Angka expected goals mereka juga turun dengan persentase serupa. Konsekuensinya jelas, rata-rata gol ikut menurun.

Perubahan susunan pemain dan cedera di lini depan turut memengaruhi ketajaman. Selain itu, ada keluhan dari suporter mengenai pendekatan tim setelah unggul. Dalam beberapa laga, Arsenal mencetak gol lebih dulu, tetapi tak lama kemudian kebobolan. Manchester United, Brentford, dan Wolves sama-sama mencetak gol hanya beberapa menit setelah Arsenal membuka skor. Situasi serupa juga terjadi di laga piala melawan Chelsea, Kairat, dan Inter pada Januari.

Secara statistik bertahan, justru ada perbaikan. Rata-rata expected goals lawan dan tembakan tepat sasaran yang dihadapi lebih rendah dibanding 20 laga awal musim. Namun efektivitas lawan meningkat. Dalam hasil imbang melawan Wolves, tuan rumah hanya melepaskan dua tembakan tepat sasaran di babak kedua dan keduanya berbuah gol. Saat kalah 2-3 dari Manchester United di Emirates, tiga tembakan tepat sasaran lawan semuanya menjadi gol. Secara total, dua lawan tersebut hanya mencatatkan akumulasi expected goals sekitar satu gol, tetapi menghasilkan lima gol.

Tiga dari enam gol yang bersarang dalam periode itu juga lahir dari tembakan luar kotak penalti dengan kualitas penyelesaian tinggi. Kombinasi turunnya efektivitas menyerang dan meningkatnya konversi lawan menjadi faktor mahal bagi Arsenal.

Keunggulan Lima Poin dan Bayang-Bayang Akhir Musim

Arsenal kini unggul lima poin, tetapi Manchester City masih memiliki satu pertandingan lebih sedikit. Jika dimaksimalkan, jaraknya bisa menyempit menjadi dua poin. Situasi ini identik dengan kondisi pada Tahun Baru lalu. Meski kedua tim sama-sama kehilangan poin dalam beberapa pekan terakhir, peluang Arsenal menurut prediksi Opta masih mencapai 79,7 persen untuk menjadi juara. City berada di angka 17,3 persen. Dua pekan sebelumnya, probabilitas Arsenal bahkan sempat menyentuh 93,6 persen saat selisih poin melebar menjadi sembilan.

Kekhawatiran utama pendukung Arsenal adalah konsistensi akhir musim Manchester City di bawah asuhan Pep Guardiola. Dalam empat musim terakhir, City rata-rata mengumpulkan 30 poin dari 12 laga terakhir musim. Arsenal di periode yang sama rata-rata meraih sekitar 23 poin.

Secara matematis, gelar ada di tangan masing-masing. Jika City menyapu bersih sisa pertandingan, mereka akan menjadi juara. Arsenal juga berada dalam posisi serupa, bahkan masih bisa menoleransi hasil imbang di Etihad pada April asalkan memenangi laga lainnya. Namun pengalaman menunjukkan, jarang ada musim tanpa kejutan hingga pekan terakhir.

Luka Lama yang Masih Membekas

Kecemasan fans di London utara bukan tanpa alasan. Kalau kamu masih ingat, Arsenal beberapa kali berada di posisi kuat sebelum akhirnya terpeleset. Dan itu terulang beberapa kali!

Pada 2022-23, mereka memimpin klasemen selama 248 hari, tetapi kehilangan momentum setelah William Saliba cedera pada Maret. Dua hasil imbang 2-2 beruntun saat sudah unggul 2-0 melawan Liverpool dan West Ham menjadi titik balik, sebelum kekalahan 1-4 di Etihad menggeser kendali ke tangan City.

Musim berikutnya, 2023-24, Arsenal sempat unggul enam poin atas City pada awal Desember. Namun kekalahan 0-1 dari Aston Villa memulai rangkaian hasil yang membuat keunggulan itu menguap. Meski kemudian mencatatkan 16 kemenangan dalam 18 laga liga, mereka tetap finis dua poin di belakang City.

Sebelumnya, era Arsene Wenger juga menyisakan kisah serupa. Musim 2002-03, Arsenal sempat unggul delapan poin pada awal Maret sebelum rangkaian hasil buruk membuat gelar direbut Manchester United. Musim 2007-08, mereka memimpin lima poin setelah 26 laga, tetapi hanya menang dua kali dalam 13 pertandingan berikutnya dan finis di peringkat ketiga. Pola penurunan performa di fase krusial juga terjadi pada 2009-10, 2010-11, 2013-14, dan 2015-16.

Rangkaian pengalaman itu membentuk persepsi bahwa Arsenal kerap kehilangan momentum saat tekanan meningkat. Kini, dengan skuad yang dianggap paling lengkap dalam beberapa tahun terakhir dan pesaing utama tidak sepenuhnya dominan, kesempatan kembali terbuka.

Musim masih menyisakan banyak pertandingan dan selisih poin belum menentukan apa pun. Tapi menurut kami, bagi Arsenal, pertanyaannya bukan lagi soal kualitas, melainkan ketahanan mental. Mereka tetap berada di posisi terdepan. Tantangannya adalah memastikan cerita lama tidak terulang kembali.

Exit mobile version