Gilabola.com – Liverpool kembali terpukul di laga dramatis Liga Inggris dan kali ini oleh Bournemouth. Gol telat, blunder fatal, dan tanda bahaya serius dalam perburuan gelar.
Hujan turun deras. Angin berhembus kencang. Dan Liverpool kembali pulang dengan luka.
Bukan kekalahan biasa. Bukan pula sekadar kehilangan poin. Di Vitality Stadium, The Reds seperti kehilangan kendali atas nasib mereka sendiri. Hasil Bournemouth vs Liverpool berakhir dengan skor 3-2 di pekan ke-22 Premier League 2025/26.
Apa yang terjadi?
Awal Menjanjikan yang Berubah Jadi Mimipi Buruk
Liverpool datang ke Dorset dengan kepercayaan diri tinggi. Rekor 13 laga tanpa kekalahan di semua kompetisi masih melekat.
Namun, seperti déjà vu musim ini, dominasi awal tak berujung kendali penuh. Bournemouth justru tampil dingin dan mematikan.
Kesalahan Virgil van Dijk dalam membaca bola panjang Marcos Senesi jadi awal petaka.
Alex Scott memanfaatkan celah, mengirim cut-back matang yang diselesaikan Evanilson dengan keras dan presisi.
Gol itu terasa menampar. Dan pukulan berikutnya datang tak lama kemudian.
Liverpool Kehilangan Fokus, Bournemouth Menggila
Belum sempat bernapas, Liverpool kehilangan Joe Gomez.
Benturan dengan Alisson Becker membuatnya terpincang keluar lapangan.
Celakanya, Wataru Endo belum masuk. Dan Bournemouth mencium darah.
James Hill mengirim umpan terobosan yang membelah pertahanan.
Alex Jiménez lolos, memanfaatkan garis offside yang gagal dikontrol Van Dijk, lalu menaklukkan Alisson lewat sela kaki.
Papan skor berubah menjadi 2-0. Vitality Stadium bergemuruh. Liverpool mulai tampak goyah.
Kapten Bangkit, Tapi Masalah Tak Hilang
Florian Wirtz dan Mohamed Salah mencoba merespons. Namun penyelesaian akhir masih jauh dari kata gacor.
Di ujung babak pertama, Van Dijk sedikit menebus dosa. Ia menyambar sepak pojok Dominik Szoboszlai dengan punggung atasnya.
Gol itu menjaga asa. Tapi juga menegaskan satu hal. Liverpool hidup dari momen, bukan kontrol.
Tekanan Tanpa Taring di Babak Kedua
Arne Slot mencoba mengubah cerita. Andy Robertson masuk, Ekitike dan Curtis Jones menyusul.
Bournemouth ditekan habis-habisan. Namun tekanan itu terasa hampa. Ryan Gravenberch melepas tembakan dari luar kotak penalti, melebar.
Di sisi lain, Bournemouth justru lebih berbahaya lewat serangan balik.
Apakah Liverpool benar-benar tenang saat menguasai bola?
Atau justru panik karena sadar waktu terus berjalan?
Gol Indah yang Menipu Kenyataan
Sepuluh menit jelang akhir, Liverpool akhirnya menyamakan skor.
Pelanggaran terhadap Rio Ngumoha memberi peluang emas.
Salah dengan cerdas mengoper bola mati. Szoboszlai menghantamnya ke sudut kanan bawah gawang.
Skor imbang 2-2. Liverpool terlihat lega. Namun ketegangan belum usai. Alisson masih harus berjibaku.
Petrovic di sisi lain tampil luar biasa, menggagalkan Florian Wirtz dengan ujung jarinya.
Detik Terakhir yang Menghancurkan
Saat laga seolah berakhir imbang, Bournemouth menolak menyerah. Lemparan jauh James Hill menciptakan kekacauan di kotak penalti.
Bola liar. Tubuh berjatuhan. Dan Amine Adli ada di tempat yang tepat!
Ia menyambar bola, memaksanya melewati garis gawang. Gol di menit kelima injury time.
Liverpool terdiam. Vitality Stadium meledak!
Opini Gilabola: Ini Bukan Sekadar Kekalahan
Laga ini menggambarkan rapuhnya struktur mental sang juara bertahan Liverpool.
The Reds terlalu sering kehilangan fokus di momen krusial. Kesalahan individu muncul berulang, terutama di lini belakang.
Lebih mengkhawatirkan, dominasi penguasaan bola tidak dibarengi kontrol emosi dan tempo. Saat ditekan balik, kepanikan muncul!
Jika pola ini berlanjut, ancaman keluar dari zona Liga Champions bukan isapan jempol.
Arsenal sudah menjauh. Pesaing lain mengintai.
Bagi Bournemouth, ini kemenangan yang memberi napas panjang. Bagi Liverpool, ini alarm keras yang tak bisa lagi diabaikan.

