Liverpool menutup tur pramusim di Amerika Serikat dengan hasil yang jauh dari harapan. Sempat memimpin dua gol saat turun minum, The Reds justru kehilangan kendali pada babak kedua hingga akhirnya menyerah 2-4 dari Leeds United di Soldier Field, Chicago, Minggu waktu setempat atau Senin dini hari.
Hasil itu menjadi kemenangan langka Leeds atas Liverpool. Ini baru kedua kalinya sejak 2001 klub asal Yorkshire tersebut mampu mengalahkan rival lamanya itu.
Florian Wirtz Menjawab Keraguan
Di balik kekalahan tersebut, ada satu nama yang memberi harapan bagi Liverpool, yakni Florian Wirtz.
Pemain asal Jerman itu tampil sejak menit awal dalam laga perdana era Andoni Iraola dan langsung memperlihatkan permainan yang jauh lebih hidup dibanding musim lalu.
Setelah menjalani musim debut yang mengecewakan dan sempat mengakui performanya tidak berjalan sesuai harapan, Wirtz menunjukkan tanda-tanda kebangkitan.
Iraola menempatkannya sebagai gelandang serang, posisi yang selama ini dianggap paling ideal. Keputusan itu langsung membuahkan hasil.
Wirtz aktif bergerak di ruang antar lini, membuka celah bagi rekan-rekannya, lalu ikut mencatatkan nama di papan skor. Gol tersebut lahir dari kerja sama rapi yang diawali umpan Trey Nyoni kepada Jeremie Frimpong. Frimpong kemudian mengirim bola ke kotak penalti dan diselesaikan Wirtz untuk membawa Liverpool unggul dua gol sebelum jeda.
Sebelum pertandingan, Iraola memang telah menegaskan bahwa ia ingin memainkan Wirtz di belakang penyerang karena merasa posisi itu paling sesuai dengan karakter sang pemain.
Talenta Muda Menunjukkan Dua Wajah
Pramusim juga kembali dimanfaatkan Iraola untuk memberi menit bermain kepada sejumlah pemain muda.
Trey Nyoni kembali memperlihatkan kualitasnya. Gelandang berusia 19 tahun itu menjadi salah satu motor pembangunan serangan Liverpool pada babak pertama.
Visi bermainnya terlihat saat mengirim umpan panjang akurat kepada Frimpong yang kemudian berujung gol Wirtz.
Penampilannya selama tur Amerika Serikat bisa menjadi modal penting untuk bersaing mendapatkan tempat di skuad utama.
Cerita berbeda datang dari lini belakang.
Ifeanyi Ndukwe belum mampu memberikan rasa aman di jantung pertahanan.
Bek berusia 18 tahun itu terlihat ragu ketika Leeds dua kali mencetak gol melalui lemparan jauh ke dalam kotak penalti.
Meski tidak kehilangan penjagaan secara langsung, ia dinilai belum mampu memimpin organisasi pertahanan dalam situasi tersebut.
Mor Talla Ndiaye yang masuk pada babak kedua juga mengalami kesulitan menjaga pertahanan Liverpool sehingga kedalaman skuad di posisi bek tengah kembali menjadi perhatian.
Babak Kedua Jadi Alarm untuk Iraola
Semua berjalan sesuai rencana selama 45 menit pertama. Liverpool tampil percaya diri dan tampak berada di jalur yang tepat untuk menyapu bersih tiga kemenangan dalam tur pramusim.
Situasinya berubah drastis selepas jeda.
Leeds mencetak empat gol pada babak kedua, termasuk tiga gol pertama yang lahir dalam rentang kurang dari 15 menit. Dominic Calvert-Lewin menjadi aktor utama lewat dua gol yang tercipta dari pola serangan hampir identik, memanfaatkan lemparan jauh ke area penalti.
Kebobolan dengan cara yang sama dua kali menunjukkan masih adanya persoalan dalam organisasi pertahanan Liverpool, terutama saat menghadapi bola mati dan duel udara.
Meski kekalahan ini terjadi di laga pramusim, Iraola kini memiliki sejumlah pekerjaan rumah sebelum musim resmi dimulai. Evaluasi terhadap koordinasi lini belakang, terutama saat menghadapi situasi bola mati, tampaknya akan menjadi salah satu fokus utama.
Liverpool selanjutnya akan menghadapi AS Monaco dalam laga uji coba di Anfield sebelum membuka musim kompetitif dengan bertandang ke markas Newcastle United pada 23 Agustus.

