Gilabola.com – Arsenal harus puas berbagi poin usai ditahan imbang Liverpool tanpa gol dalam laga Liga Inggris di Emirates Stadium. Hasil ini memang membuat pasukan Mikel Arteta tetap berada di puncak klasemen, tetapi mereka gagal memanfaatkan kesempatan emas untuk menjauh delapan poin dari para pesaing. Bagi Liverpool besutan Arne Slot, satu poin ini terasa sangat berharga karena diraih lewat ketahanan, penyesuaian taktik, dan respons kuat di babak kedua.
Sejak awal, laga ini memang terasa lebih banyak menyimpan ketegangan ketimbang ledakan gol. Arsenal tampil dominan di awal, sementara Liverpool justru menutup pertandingan dengan kontrol yang lebih baik. Sayangnya, momen paling diingat justru bukan datang dari peluang atau gol, melainkan insiden yang mencoreng akhir laga.
Arsenal Dominan, Tapi Tumpul di Depan Gawang
Arsenal memulai pertandingan dengan intensitas tinggi. Tekanan mereka rapi, aliran bola terjaga, dan Liverpool cukup lama terkurung di area sendiri pada babak pertama. Dukungan publik Emirates membuat suasana terasa seperti momentum penting bagi sang pemuncak klasemen untuk mempertegas posisi di persaingan gelar Liga Inggris.
Namun, dominasi itu tidak berbuah ancaman nyata. Arsenal memang sering menguasai sisi sayap dan memenangkan wilayah permainan, tetapi kehadiran di kotak penalti lawan minim. Victor Gyokeres kesulitan memberi dampak, hanya mencatatkan delapan sentuhan sebelum ditarik keluar pada menit ke-64. Di babak kedua, kontribusinya bahkan nyaris tak terlihat dengan hanya satu sentuhan.
Situasi ini kembali menyoroti persoalan di lini depan Arsenal. Gyokeres memang bukan tipe penyerang dengan keterlibatan tinggi, tetapi ketika gol tak kunjung datang, pengaruhnya otomatis dipertanyakan. Sejak kembali dari cedera, ia baru mencetak satu gol dari sepuluh penampilan terakhir, itu pun lewat titik penalti saat melawan Everton.
Arteta juga tak punya banyak opsi. Kai Havertz masih absen, sementara Mikel Merino, yang sempat dicoba lebih maju, kali ini dipasang kembali di lini tengah. Arsenal memang menyebar sumber gol sepanjang musim, tetapi laga seperti ini menunjukkan betapa tipisnya margin di level teratas.
Insiden Akhir Laga yang Mengganggu Fokus
Gambar paling mencolok justru hadir di menit-menit akhir. Dalam tambahan waktu, Conor Bradley terjatuh di dekat garis tepi sambil memegangi lututnya dan terlihat kesakitan. Permainan dihentikan, tetapi emosi keburu memanas.
Gabriel Martinelli terlihat menjatuhkan bola ke arah Bradley yang cedera, lalu mencoba menariknya keluar lapangan saat bek Liverpool itu berusaha tetap berada di atas garis. Reaksi keras langsung muncul. Dominik Szoboszlai, Alexis Mac Allister, dan Ibrahima Konate bergegas mendekat, dorong-dorongan pun tak terhindarkan.
Bradley akhirnya ditandu keluar lapangan dan masuk lorong stadion, menambah kekhawatiran Liverpool soal kondisi pemainnya. Dalam laga yang berjalan keras namun terkendali, tindakan Martinelli menjadi penutup yang kurang elok dan sedikit mengalihkan perhatian dari permainan itu sendiri.
Frimpong Jadi Jalan Keluar Liverpool
Datang ke Emirates dengan kondisi terbatas, Liverpool sadar mereka harus banyak bertahan dan mengandalkan serangan balik. Tanpa Mohamed Salah, Hugo Ekitike, dan Alexander Isak, Arne Slot memberi peran sayap kanan lebih maju kepada Jeremie Frimpong.
Keputusan itu terbukti masuk akal. Kecepatan Frimpong menjadi jalur pelepas tekanan, terutama di babak pertama saat Arsenal terus menekan. Ia kerap dijadikan target umpan untuk memaksa lini belakang Arsenal mundur.
Salah satu aksinya bahkan memicu kekacauan antara William Saliba dan David Raya, yang berujung pada peluang Bradley yang membentur mistar. Meski begitu, kualitas umpan akhir Frimpong belum konsisten, dan minimnya penyerang murni membuat beberapa crossing-nya tak menemukan sasaran.
Meski demikian, di laga yang menuntut keberanian membawa bola dan mengulur napas tim, Frimpong tampil sebagai sosok penting bagi Liverpool.
Babak Kedua Jadi Milik Liverpool
Setelah 25 menit awal yang berat, Liverpool perlahan menemukan ritme. Florian Wirtz yang memulai laga sebagai false nine terlihat kesulitan karena tak ada titik fokus jelas di depan. Namun seiring intensitas Arsenal menurun, tim tamu mulai mengambil alih kendali.
Wirtz kemudian lebih sering turun ke lini tengah, bergerak bebas dan menghubungkan permainan dengan Szoboszlai. Liverpool lebih banyak menguasai bola di babak kedua, dibantu sikap Arsenal yang cenderung menunggu dan mengamankan hasil imbang. Wirtz bahkan sempat merasa layak mendapat penalti usai dilanggar keras oleh Leandro Trossard setelah melewati lawan dengan dribel rapi.
Secara statistik, ancaman Liverpool tetap terbatas dengan expected goals hanya 0,36—terendah mereka musim ini. Namun perubahan struktur permainan membuat tim lebih seimbang dan tenang. Dengan memindahkan Wirtz dari peran yang kurang familiar, Slot berhasil mengembalikan kontrol.
Pada akhirnya, hasil imbang ini terasa lebih menguntungkan Liverpool dibanding Arsenal. Satu tim gagal memanfaatkan peluang menjauh, sementara tim lain menunjukkan ketangguhan. Dalam persaingan Liga Inggris yang ditentukan detail kecil, skor 0-0 ini bisa saja punya arti besar di akhir musim.

