Site icon Gilabola.com

Arsenal Kehilangan Trofi Karena Dua Dosa Mikel Arteta, Yaitu Kepa dan Jesus!

Kepa Arrizabalaga

Jika Arsenal berhasil menjuarai Premier League musim ini, besar kemungkinan para pendukung akan memaklumi kegagalan mereka di Wembley. Kekalahan di fase akhir musim memang terasa pahit, tetapi bisa tertutupi oleh pencapaian lebih besar.

Laga ini menjadi final pertama Arsenal sejak tahun 2020, ketika Mikel Arteta mengangkat trofi Piala FA. Namun, setelah kekalahan 0-2 dari Manchester City di final Carabao Cup atau Piala Liga, trofi tersebut masih menjadi satu-satunya yang pernah ia raih sebagai manajer.

Peluang Besar yang Terlewat

Pertandingan ini sejatinya menjadi kesempatan penting bagi Arsenal. Manchester City musim ini tidak tampil seimpresif biasanya dan bahkan kehilangan tiga bek utama mereka: Josko Gvardiol, Marc Guehi, dan Ruben Dias.

Namun demikian, kondisi tersebut tidak cukup untuk menghentikan dominasi tim asuhan Pep Guardiola. City tetap mampu mengendalikan permainan dan mengamankan gelar Piala Liga keenam mereka dalam 11 tahun terakhir. Meski kompetisi ini kerap dianggap kurang bergengsi, Guardiola tetap menunjukkan keseriusannya, terbukti dari performa timnya di laga final.

Di sisi lain, keputusan pemilihan pemain dari Arteta turut mempermudah langkah lawan.

Kesalahan Fatal Arteta di Final: Kepa Arrizabalaga

Sejak menangani Arsenal, Arteta dikenal berani dalam mengambil keputusan, termasuk dalam menentukan susunan pemain. Hal ini terlihat ketika ia lebih memilih David Raya dibandingkan Aaron Ramsdale, meskipun Ramsdale baru saja memperpanjang kontrak.

Namun, keputusan menurunkan Kepa Arrizabalaga di final kali ini menimbulkan pertanyaan. Kepa memang tampil di setiap ronde Piala Liga sebelumnya dan jarang melakukan kesalahan, tetapi laga final seharusnya menjadi momen untuk menurunkan komposisi terbaik.

Arteta mungkin merasa perlu memberi kesempatan kepada Kepa, tetapi yang lebih penting adalah memberikan trofi kepada para pendukung. Arsenal sendiri sudah enam tahun tidak mengangkat trofi di Wembley.

Meski beberapa pemain seperti Martin Odegaard, Eberechi Eze, dan Jurrien Timber absen karena cedera, posisi penjaga gawang sebenarnya tidak bermasalah. David Raya dalam kondisi fit dan seharusnya bisa dimainkan.

Kesalahan Kepa pada gol pertama menjadi momen krusial. Saat menerima umpan silang dari sisi kanan, ia gagal mengamankan bola dengan baik sehingga bola jatuh ke kaki Nico O’Reilly yang dengan mudah mencetak gol dari jarak dekat.

Penampilan tersebut menambah catatan kurang baik Kepa di Wembley, khususnya di final Piala Liga. Pada tahun 2019, ia menjadi sorotan saat menolak diganti dalam adu penalti yang berujung kekalahan Chelsea. Kemudian pada 2022, ia juga gagal mengeksekusi penalti saat timnya kalah dari Liverpool.

Kali ini, kesalahan kembali terjadi dan berdampak langsung pada hasil pertandingan. Dengan situasi tersebut, sulit untuk melihatnya kembali menjadi pilihan utama di laga penting.

Evaluasi Pemain Lain di Skuad

Meski kalah di final, Arsenal tetap menjalani musim yang cukup positif. Kedalaman skuad menjadi faktor penting dalam menjaga konsistensi tim meski dihantam cedera.

Namun, tidak semua pemain mampu memberikan kontribusi maksimal. Beberapa pemain menunjukkan penurunan performa menjelang akhir musim.

Salah satu pemain yang mendapat sorotan adalah Gabriel Jesus. Penyerang asal Brasil tersebut dinilai belum mampu memberikan dampak signifikan dalam beberapa waktu terakhir.

Saat pertama bergabung dari Manchester City dengan nilai transfer sekitar Rp855 miliar (£45 juta), ia langsung tampil impresif. Dalam 12 pertandingan awal di Premier League, ia mencetak lima gol dan enam assist.

Namun, performa tersebut sulit dipertahankan secara konsisten. Cedera ACL yang dialaminya musim lalu juga berdampak besar terhadap performanya.

Setelah kembali bermain, ia sempat menunjukkan kontribusi positif, termasuk mencetak dua gol saat melawan Inter Milan di San Siro. Meski begitu, performanya kembali menurun dalam periode berikutnya.

Dalam beberapa pertandingan terakhir, ia bahkan lebih sering berada di bangku cadangan tanpa dimainkan. Dalam lima penampilan terakhir, ia hanya mencetak satu gol.

Di final melawan Manchester City, ia hanya tampil singkat dan tidak memberikan pengaruh signifikan. Statistiknya pun minim, dengan sedikit sentuhan dan kontribusi permainan yang terbatas.

Pendapat Redaksi

Kekalahan di Wembley memberikan pelajaran penting bagi Arsenal. Pemilihan pemain di laga krusial harus benar-benar mempertimbangkan kualitas terbaik yang tersedia.

Arteta perlu memastikan bahwa keputusan yang diambil tidak mengorbankan peluang meraih trofi. Dalam konteks ini, performa Kepa dan Gabriel Jesus menunjukkan bahwa keduanya belum mampu memberikan kontribusi maksimal di momen penting.

Jika Arsenal ingin meraih kesuksesan lebih besar, terutama dalam perburuan gelar, konsistensi dalam pemilihan pemain terbaik menjadi kunci utama.

Exit mobile version