
Gilabola.com – Pemecatan beberapa manajer di awal tahun 2026 ini langsung mengguncang Liga Inggris dan juga Skotlandia, dan ini bahkan terjadi saat tahun baru belum berjalan sepekan. Tepatnya baru memasuki enam hari pertama tahun baru, sudah ada lima manajer yang kehilangan pekerjaannya, menegaskan betapa tipisnya batas kesabaran di era sepak bola modern ini.
Gelombang pemecatan ini juga terjadi lintas level kompetisi, mulai dari Premier League hingga divisi Championship. Tekanan hasil, konflik internal, dan performa yang tak kunjung stabil menjadi pemicu utama, meski sebagian manajer sebenarnya baru saja menorehkan prestasi.
Fenomena ini kembali menegaskan betapa rapuhnya posisi manajer di sepak bola modern. Prestasi masa lalu tak lagi menjadi jaminan, sementara hasil jangka pendek kini menjadi penentu nasib.
Enzo Maresca Jadi Korban Pertama di Chelsea
Chelsea membuka tahun baru dengan keputusan besar. Pada 1 Januari, klub London tersebut resmi memecat Enzo Maresca setelah 18 bulan menjabat.
Keputusan ini terasa dramatis mengingat Maresca baru saja dinobatkan sebagai Manajer Terbaik Premier League bulan November. Ia juga membawa Chelsea menjuarai Conference League dan Piala Dunia Antarklub, serta finis di peringkat keempat pada musim debutnya.
Namun performa liga menjadi titik balik. Chelsea hanya menang satu kali dari tujuh laga terakhir Premier League dan kini berada di posisi kelima klasemen, tertinggal 15 poin dari Arsenal.
Situasi memburuk pada Desember ketika Maresca mengungkapkan telah mengalami “48 jam terburuk” selama melatih Chelsea, merujuk pada konflik dengan tim medis terkait beban pemain. Ia menolak menjelaskan lebih lanjut, memicu spekulasi. 19 hari kemudian, ia dipecat.
Aberdeen dan Celtic Ikut Bergolak di Skotlandia
Pada 4 Januari, Aberdeen memecat Jimmy Thelin, hanya tujuh bulan setelah pelatih asal Swedia itu mempersembahkan Piala Skotlandia pertama klub dalam 35 tahun dengan menyingkirkan Celtic lewat adu penalti.
Thelin diberhentikan usai kekalahan 1-0 dari Falkirk yang membuat Aberdeen terdampar di peringkat kedelapan Liga Skotlandia, tertinggal 19 poin dari Hearts. Rentetan lima laga tanpa kemenangan, termasuk empat kekalahan, menjadi alasan utama.
Padahal, Thelin sempat mencatat sejarah dengan 13 kemenangan beruntun di awal masa jabatannya. Namun musim ini justru dimulai dengan enam kekalahan beruntun di liga, terburuk dalam 26 tahun. Sempat bangkit dengan delapan laga tanpa kalah, kejatuhan berikutnya tak terhindarkan.
Sehari berselang, Celtic mengambil langkah ekstrem dengan memecat Wilfried Nancy pada 5 Januari, hanya 32 hari dan delapan pertandingan setelah ditunjuk. Ia resmi menjadi manajer dengan masa jabatan terpendek dalam sejarah klub.
Nancy kalah enam kali dari delapan laga, termasuk menjadi manajer Celtic pertama yang kalah di dua laga awal. Kekalahan 3-1 dari Rangers di kandang sendiri memicu protes suporter dan menjadi laga terakhirnya.
Selama masa singkat itu, Celtic juga kalah dari Hearts, Roma di Liga Europa, St Mirren di final Piala Liga, serta Dundee United. Dua kemenangan Nancy hanya datang saat menghadapi Aberdeen dan Livingston.
Keputusan Nancy memaksakan skema 3-4-3 sejak awal, tanpa melanjutkan momentum positif dari pelatih interim Martin O’Neill yang menang tujuh kali dari delapan laga, dinilai fatal. Celtic kini tertinggal enam poin dari Hearts dan sejajar dengan Rangers.
Kepala Operasional Sepak Bola Paul Tisdale juga meninggalkan klub, sementara O’Neill kembali ditunjuk sebagai pelatih interim hingga akhir musim.
Manchester United dan West Brom Tak Ketinggalan
Masih pada 5 Januari, Manchester United memecat Ruben Amorim setelah 14 bulan menjabat. Keputusan ini diambil usai konferensi pers panas, di mana Amorim menuntut menjadi “manajer, bukan pelatih” dan meminta direktur sepak bola Jason Wilcox untuk “melakukan tugasnya”.
Statistik Amorim menjadi yang terburuk dalam era Premier League Manchester United: rasio kemenangan 32%, rata-rata 1,23 poin per laga, hanya 24 kemenangan dari 63 pertandingan, serta 15 kemenangan dari 47 laga liga.
Manajemen menilai respons Amorim dalam rapat internal bersifat emosional dan negatif. Penolakannya mengubah sistem 3-4-3 membuat kepercayaan runtuh. Hasil imbang 1-1 melawan Leeds menjadi pemicu akhir.
United kini berada di peringkat keenam dan menunjuk Darren Fletcher sebagai manajer interim. Klub disebut membuka opsi menunggu hingga musim panas, dengan rencana membawa Ole Gunnar Solskjaer sebagai caretaker.
Sehari kemudian, West Bromwich Albion menutup daftar pemecatan awal tahun dengan memberhentikan Ryan Mason pada 6 Januari. Kekalahan 2-1 dari Leicester membuat West Brom mencatat 10 kekalahan tandang beruntun, rekor terburuk klub.
Mason hanya memenangkan 9 dari 27 laga, membuat West Brom berada di posisi ke-18 Championship, tertinggal 10 poin dari zona play-off. Catatan tandang sangat buruk, dengan 11 kekalahan dari 14 laga di luar kandang.
Meski menandatangani kontrak tiga tahun pada Juni, Mason gagal memenuhi target promosi. James Morrison kini ditunjuk sebagai pelatih interim.
Pandangan Gilabola.com
Pendapat kami, gelombang pemecatan manajer awal 2026 ini memperlihatkan bahwa prestasi jangka pendek dan stabilitas internal kini sama pentingnya dengan trofi.
Manajer tak lagi dinilai hanya dari hasil akhir musim, tetapi dari cara mereka mengelola tekanan, relasi dengan petinggi klub, dan kemampuan beradaptasi. Sepak bola modern semakin kejam, dan awal 2026 menjadi bukti bahwa waktu bukan lagi kemewahan bagi seorang pelatih.
