Gilabola.com – Aksi bocah Brasil menggebrak Selhurst Park, penalti kontroversial, dan kartu merah mengubah nasib Chelsea di laga panas ini.
Selhurst Park mendadak sunyi. Bukan karena hawa dingin Bukan karena angin malam London.
Melainkan karena satu kesalahan kecil yang berubah menjadi mimpi buruk bagi Crystal Palace.
Chelsea datang tanpa Cole Palmer. Datang dengan tekanan. Datang dengan misi mengakhiri rentetan hasil imbang yang membosankan.
Namun, justru seorang bocah 18 tahun dari Brasil yang mencuri panggung.
Namanya Estêvão. Dan malam itu, ia benar-benar “maksimal”.
Chelsea Hampir Terpuruk di Menit Awal
Laga baru berjalan delapan menit.
Benoit Badiashile kehilangan bola di area sendiri. Jean-Philippe Mateta dan Ismaila Sarr langsung menghukum.
Sarr mengirim umpan matang. Mateta menembak.
Robert Sanchez harus berjibaku. Ujung sepatunya menyelamatkan The Blues.
Chelsea nyaris kena mental lebih awal.
Enzo Fernandez membalas dengan tembakan melambung. Moises Caicedo mencoba peruntungan dari jarak jauh, masih melenceng.
Pelan-pelan, pasukan Liam Rosenior mulai menemukan ritme.
Andrey Santos melakukan tekel krusial. Ismaila Sarr kembali mengancam. Namun, Sanchez tampil sigap.
Pertanyaannya, sampai kapan Chelsea bisa bertahan?
Blunder Fatal yang Membuka Pintu Neraka
Jawabannya datang di menit ke-34. Jaydee Canvot melakukan backpass yang terlalu santai.
Kesalahan kecil. Dampak besar! Estêvão menyambar bola. Tyrick Mitchell mencoba mengejar. Terlambat.
Dengan kaki kiri, sang remaja melepaskan roket ke gawang Dean Henderson.
Gol! Selhurst Park terdiam. Chelsea tersenyum.
Estêvão bahkan hampir menambah gol sebelum turun minum. Henderson harus bekerja ekstra keras.
Palace mulai goyah. Kepercayaan diri mereka runtuh perlahan.
Gol Cepat, VAR Panjang, Penalti Panas Babak kedua baru berjalan empat setengah menit.
Dan Estêvão kembali muncul. Kali ini sebagai kreator.
Ia menyodorkan bola ke Joao Pedro. Adam Wharton terpeleset. Henderson kembali tak berdaya.
Skor 2-0! Chelsea makin nyaman.
Tekanan berlanjut. Joao Pedro menembak dari jarak dekat. Bola mengenai tubuh Canvot, lalu menyentuh lengannya.
Wasit Darren England menghentikan laga. VAR bekerja. Penonton menunggu. Tegang. Gelisah. Setelah penundaan panjang, keputusan keluar.
Handball tidak disengaja. Penalti tetap diberikan. Kartu kuning. Tanpa kartu merah.
Enzo Fernandez maju. Dengan tenang dan akurasi tinggi, bola meluncur ke pojok kanan bawah dan GOL!
Skor 3-0! Laga berakhir? Belum sepenuhnya!
Kartu Merah yang Mematikan Harapan Palace
Masalah Palace makin menumpuk. Menit ke-73, Adam Wharton kembali melanggar. Kartu kuning kedua. Kartu merah.
Sepuluh pemain. Misi comeback praktis terkubur. Brennan Johnson sempat mengancam. Gagal.
Baru di menit ke-88, Chris Richards menyundul bola hasil kemelut di depan gawang Sanchez. Gol hiburan.!
Terlambat. Terlalu sedikit.
Peluit panjang berbunyi. Chelsea menang 3-1.
Palace kini tanpa kemenangan dalam 11 laga di semua kompetisi.
Opini Gilabola: Estêvão Bukan Sekadar Bintang Dadakan
Tanpa Cole Palmer, banyak yang meragukan kreativitas Chelsea. Namun, Estêvão justru muncul sebagai jawaban tak terduga.
Keberanian, kecepatan, dan instingnya membuat lini belakang Palace porak-poranda.
Lebih dari itu, Chelsea terlihat lebih fleksibel. Joao Pedro lebih bebas. Enzo lebih dominan. Caicedo lebih stabil.
Kami juga menilai, Rosenior mulai menemukan formula yang tepat untuk laga tandang. Pressing lebih disiplin. Transisi lebih cepat. Mentalitas lebih kuat.
Jika Estêvão bisa menjaga konsistensi, bukan tidak mungkin ia akan menjadi senjata utama The Blues di paruh musim ini.

