Chelsea kembali kehilangan poin di Premier League untuk pertama kalinya di era Liam Rosenior setelah bermain imbang 2-2 melawan Leeds di Stamford Bridge. Hasil itu terasa pahit karena The Blues sempat unggul dua gol dan berpeluang menembus empat besar klasemen.
Chelsea kini berada di peringkat kelima, tertinggal satu poin dari Manchester United. Ini menjadi laga liga pertama di mana Rosenior gagal meraih kemenangan sejak menggantikan Enzo Maresca. Dari 10 pertandingan yang sudah ia pimpin dalam 30 hari terakhir, tujuh di antaranya berakhir dengan kemenangan.
Namun, perdebatan muncul soal apakah benar telah terjadi perubahan signifikan di tubuh Chelsea.
Performa Masih Naik Turun?
Pundit Sky Sports, Paul Merson, menilai Chelsea belum menunjukkan perbedaan nyata dibanding era Enzo Maresca. Menurutnya, masalah utama tim masih sama, yakni ketidakmampuan menjaga konsistensi sepanjang 90 menit.
“Chelsea tidak berubah sejak Enzo Maresca ada di sana. Mereka tidak bisa memainkan performa penuh selama 90 menit,” ujar Merson.
Ia menilai Chelsea tampil sangat impresif di babak pertama melawan Leeds. Pergerakan para pemain seperti Palmer, Pedro, Santos, dan Fernandez disebutnya sangat hidup. Namun setelah Leeds memperkecil kedudukan menjadi 2-1 dan kemudian menyamakan skor menjadi 2-2, permainan Chelsea dinilai kehilangan arah.
Merson menyoroti tidak adanya sosok yang mampu menenangkan situasi saat momentum berubah. Ia juga menyinggung peluang emas yang gagal dimanfaatkan Palmer dari jarak sekitar dua meter yang melambung di atas mistar.
Di tengah jadwal berat yang menanti, Merson memperkirakan perjuangan Chelsea untuk finis di zona Liga Champions akan sangat menantang.
Rosenior Klaim Ada Perubahan Jelas
Berbeda dengan penilaian Merson, Rosenior menegaskan bahwa progres sudah terlihat meski waktunya terbilang singkat.
“Saya harap orang-orang bisa melihat perkembangannya, mengingat kami sudah memainkan 10 pertandingan dalam 30 hari,” kata Rosenior.
Ia menyebut telah ada perubahan jelas dalam pendekatan permainan yang ia inginkan, meskipun tetap menekankan bahwa target utamanya adalah tiga poin setiap pekan.
Rosenior bahkan merasa timnya mengendalikan laga sepenuhnya. Ia mengaku hampir tidak mengingat adanya peluang berarti dari Leeds sepanjang pertandingan.
“Permainan kami saat menguasai bola, tekanan kami, energi kami, semuanya sesuai dengan yang saya inginkan. Itu yang membuat hasil ini terasa sangat pahit karena kami tidak menang,” ujarnya.
Masalah di Momen Kritis
Chelsea kehilangan kendali setelah Lukas Nmecha mencetak gol lewat titik penalti sebelum Leeds menyamakan kedudukan dalam rentang lima menit.
Rosenior menilai masalahnya bukan pada taktik atau struktur tim, melainkan keputusan yang kurang tepat di momen krusial. Ia enggan menyalahkan individu dan menyebutnya sebagai tanggung jawab kolektif.
“Anda selalu akan mengalami periode di mana tidak mendominasi permainan. Hal yang sulit diterima adalah mereka mencetak dua gol dalam lima menit,” katanya.
Dari 10 laga di bawah arahannya, Chelsea mencetak 24 gol, termasuk lima gol ke gawang Charlton di Piala FA. Mereka juga sempat bangkit dari ketertinggalan 0-2 untuk menang 3-2 atas West Ham di kandang. Namun, hanya dua kali mereka mampu mencatatkan clean sheet.
Rosenior mengaku sudah mengetahui aspek apa yang perlu dibenahi.
“Saya baru satu bulan di sini. Saya merasa sudah tahu apa yang harus kami perbaiki. Ini soal memastikan kami memiliki waktu untuk mengerjakannya,” ucapnya.
Hasil imbang melawan Leeds menunjukkan Chelsea memiliki potensi besar, tetapi juga menegaskan bahwa konsistensi masih menjadi pekerjaan rumah. Dengan persaingan papan atas yang semakin ketat, setiap kehilangan poin bisa berdampak besar pada peluang mereka finis di zona Liga Champions.

