Christian Eriksen Sudah Muak dengan Sepak Bola Inggris

Christian Eriksen Sudah Muak dengan Sepak Bola Inggris

Gilabola.com – Christian Eriksen merasa dianggap sebagai kambing hitam atas penurunan performa klub Liga Inggris, Tottenham Hotspur.

Gelandang berusia 27 tahun yang sempat nyaris ke AC Milan itu telah resmi berseragam Inter Milan dengan mahar sebesar Rp303 miliar. Kontrak Eriksen di The Lillywhites sejatinya akan kadaluarsa pada musim panas nanti dan pernah berkata akan hengkang tidak lama setelah Tottenham takluk di final Liga Champions.

Tawaran dari Manchester United dua kali merapat padanya tapi ia memilih meninggalkan Liga Inggris pada jendela transfer Januari demi mencari tantangan baru.

“Suasana di Inggris dalam beberapa tahun terakhir sangat riuh. Setelah apa yang saya katakan pada musim panas, pertanyaan publik hanya ‘kapan dia akan hengkang?’,” aku Christian Eriksen pada BBC Sport.

Christian Eriksen heran dengan perkataan fans Tottenham Hotspur

Advertisement
RatuCasino77
RatuCasino77
SBOTOP
SBOTOP

“[Pertanyaan-pertanyaan publik di] setiap pertandingan adalah ‘apakah dia sudah hengkang? Kenapa dia belum pergi?’. Tentu saja banyak orang membicarakannya.”

“Setiap fans yang saya temui di jalanan seakan-akan berkata ‘Terima kasih, selama tinggal dan semoga beruntung’, tapi saya masih ada di Tottenham. Hal itu sedikit aneh. Demi kebaikan pikiran dan tubuh saya, saya mencari tempat baru dan memulai lagi segalanya.”

“Saya tidak berkata bahwa itu [pertanyaan-pertanyaan dari suporter tersebut] mempengaruhi saya. Di Inggris, ketika kontrak Anda akan kadaluarsa, seakan-akan Anda diminta untuk hengkang saat ini juga. Pada akhirnya saya melakoni 30 pertandingan yang rasanya seperti laga perpisahan.”

“Jika kontrak Anda akan berakhir, Anda akan menjadi kambing hitam. Tentu saja saya melakukan wawancara. Saya pun bersikap jujur. Saya merasa harus bersikap jujur.”

“Saya disalahkan untuk berbagai hal. Saya membaca [berita] jika saya pemain buruk di ruang ganti pemain sejak saya meminta untuk hengkang. Tidak ada gunanya saya tetap berada di Inggris.”