Absennya Danny Welbeck dari skuad terbaru Thomas Tuchel untuk timnas Inggris menimbulkan tanda tanya besar, terutama setelah performa impresifnya di level klub.
Pelatih asal Jerman itu memanggil total 35 pemain untuk agenda internasional bulan Maret. Angka tersebut sama dengan usia Welbeck saat ini, yang justru berstatus sebagai pencetak gol terbanyak asal Inggris di Premier League musim ini.
Keputusan yang Mengejutkan
Pengumuman skuad pada Jumat lalu mengejutkan banyak pihak, bukan hanya karena jumlah pemain yang sangat besar, tetapi juga karena tidak adanya nama Welbeck di dalamnya.
Awalnya, keputusan Tuchel terlihat membingungkan. Namun, ia menjelaskan bahwa rencananya adalah mengistirahatkan 11 pemain inti yang sudah memiliki “kepercayaan” darinya saat laga uji coba pertama melawan Uruguay, sebelum kembali dimainkan dalam persiapan menghadapi Jepang.
Dalam kelompok pemain inti tersebut terdapat kapten Harry Kane, yang telah menjadi penyerang utama Inggris selama lebih dari satu dekade dan tengah tampil tajam bersama Bayern Munich musim ini.
Peran Pelapis yang Sulit
Menjadi pelapis Harry Kane bukanlah tugas yang mudah. Minimnya kesempatan bermain di posisi tersebut bahkan disebut-sebut menjadi salah satu faktor yang mendorong Jamie Vardy pensiun dari timnas pada 2018 di usia 31 tahun.
Meski begitu, Welbeck belum menyerah. Pemain berusia 35 tahun itu terakhir kali membela Inggris pada September 2018, namun tetap bertekad untuk kembali.
Dalam wawancara dengan TNT Sports, ia menegaskan akan terus berusaha setiap hari demi mendapatkan tempat di skuad Piala Dunia.
Bukti di Lapangan
Tak lama setelah pengumuman skuad, Welbeck memberikan respons terbaiknya di lapangan. Pada Sabtu malam, Welbeck mencetak dua gol untuk Brighton & Hove Albion saat menghadapi Liverpool.
Dua gol Welbeck membuat total golnya di Premier League musim ini menjadi 12 gol.
Penampilan itu secara langsung menyoroti kelemahan dalam pendekatan Tuchel. Jika tujuan pemanggilan skuad besar adalah untuk memberi kesempatan kepada kandidat potensial menuju Piala Dunia, maka tidak masuk akal jika pencetak gol Inggris terbanyak di liga justru tidak diberi kesempatan.
Keputusan yang Dipertanyakan
Tidak dipanggilnya Welbeck terasa seperti bentuk ketidakadilan. Hal ini mungkin menjadi alasan di balik selebrasi golnya yang menunjukkan gestur menutup telinga, seolah merespons kritik atau keputusan yang merugikannya.
Namun yang lebih penting, waktu tampaknya tidak lagi berpihak kepadanya. Piala Dunia akan dimulai kurang dari tiga bulan lagi. Jika hingga saat ini ia belum mampu meyakinkan Tuchel, maka peluangnya semakin kecil.
Situasi ini mirip dengan yang dialami Trent Alexander-Arnold, yang juga tidak dipilih tanpa alasan yang benar-benar jelas.
Tuchel menyebut keputusan memilih pemain seperti Jarrell Quansah, Djed Spence, dan Tino Livramento sebagai “keputusan olahraga”, meskipun hal tersebut dipertanyakan mengingat pengalaman Alexander-Arnold di level klub dan internasional.
Kesempatan yang Hilang
Kemungkinan besar alasan yang sama berlaku pada Welbeck. Ia mungkin dianggap tidak sesuai dengan profil pemain yang diinginkan Tuchel sebagai pelapis Kane, terutama dalam situasi ketika striker utama membutuhkan dukungan atau mengalami penurunan performa seperti yang terjadi di Euro 2024 saat Ollie Watkins tampil sebagai pahlawan di semifinal.
Namun performa Welbeck terbaru justru menunjukkan sebaliknya. Ia tidak hanya tajam dalam mencetak gol, tetapi juga menunjukkan kerja sama tim dan pemahaman ruang yang sangat baik.
Hal ini memperkuat anggapan bahwa skuad besar Inggris justru masih kurang luas dalam memberi kesempatan.
Realita yang Menyakitkan
Seharusnya, eksperimen Tuchel bisa diperluas dengan memberi Welbeck kesempatan langsung untuk membuktikan kemampuannya.
Namun kenyataannya, ia harus melewatkan periode internasional ini tanpa kesempatan, sementara pemain lain mendapat panggung untuk menunjukkan kualitas mereka.
Dan yang paling menyakitkan, tidak ada penjelasan yang benar-benar memuaskan terkait absennya namanya.

