Dari Calon Peraih Ballon d’Or ke Label Flop di man United: Kisah Anthony Martial di Old Trafford

Anthony Martial dan label flop di Old Trafford kembali jadi perbincangan setelah pernyataan mengejutkan dari Diogo Dalot. Pemain Manchester United itu menyebut Martial sebenarnya bisa saja menjadi pemain terbaik di dunia—jika memang ia menginginkannya.

Ucapan tersebut langsung memantik reaksi, mengingat perjalanan Martial bersama Setan Merah jauh dari kata konsisten.

Bakat Besar yang Tak Sepenuhnya Meledak

Martial datang ke Manchester United sebagai remaja dengan harga fantastis pada era Louis van Gaal. Saat itu ia tercatat sebagai remaja termahal dalam sejarah sepak bola. Ekspektasi pun membumbung tinggi.

Awalnya, ia memberi harapan. Gol debutnya ke gawang Liverpool menjadi momen yang tak mudah dilupakan. Sentuhan pertamanya, keberanian menantang bek lawan, hingga penyelesaian akhir yang tenang membuat banyak orang yakin United telah menemukan bintang masa depan.

Namun perjalanan sembilan tahunnya di klub Liga Inggris itu berjalan naik turun. Martial beberapa kali tampil tajam, tetapi lebih sering tenggelam dalam periode panjang tanpa gol. Sepanjang kariernya di Old Trafford, ia hanya sekali mampu menembus lebih dari 20 gol dalam satu musim.

Meski demikian, Dalot yang kerap berhadapan langsung dengannya saat latihan punya pandangan berbeda.

Pengakuan Dalot yang Mengejutkan

Komentar itu muncul ketika Diogo Dalot diminta menyebutkan tim impian lima lawan lima versinya. Ia memilih Cristiano Ronaldo dan secara mengejutkan memasukkan Martial sebagai tandem di lini depan.

Rio Ferdinand yang mendengar pilihan tersebut langsung heran. Ia mengakui Martial memang punya bakat besar, tetapi tidak menyangka Dalot akan memilihnya.

Dalot lalu menjelaskan alasannya. Menurutnya, apa yang dilakukan Martial di pertandingan memang terlihat, tetapi kualitasnya di sesi latihan jauh lebih mengesankan. Ia mengaku sering kewalahan ketika harus menjaganya.

Dalot juga menyinggung soal konsistensi. Ia menyebut Martial kadang seperti “terlepas” dari permainan. Namun jika benar-benar fokus dan menginginkannya, Dalot yakin Martial bisa dengan mudah menjadi pemain terbaik di dunia.

Ia bahkan menggambarkan bagaimana dalam latihan, Martial mampu melakukan hal-hal yang membuat rekan setim terpukau. Ada momen-momen tertentu yang membuat sesi latihan seolah harus dihentikan karena kualitas individunya begitu menonjol. Dalot menambahkan, Juan Mata juga pernah menunjukkan kualitas serupa di United.

Pernah Disebut Calon Peraih Ballon d’Or

Rio Ferdinand kemudian membagikan cerita lain. Ia mengungkap bahwa Michael Carrick, yang sempat menjadi pelatih interim United, pernah sangat memuji Martial saat pertama kali bergabung. Bahkan Carrick disebut pernah mengatakan bahwa Martial memiliki potensi untuk memenangkan Ballon d’Or.

Sayangnya, potensi itu tak pernah benar-benar terwujud.

Kesulitan Martial berlanjut hingga ia dipinjamkan ke Sevilla. Di sana pun ia tetap kesulitan menemukan ketajamannya di depan gawang. Pada 2024, kontraknya bersama Manchester United habis dan tidak diperpanjang.

Setelah meninggalkan Inggris, ia melanjutkan karier ke Yunani bersama AEK Athens. Namun kebersamaannya hanya bertahan satu tahun sebelum akhirnya pindah lagi, kali ini ke klub Meksiko, Monterrey.

Kisah Martial di Old Trafford pun menjadi gambaran klasik tentang bakat besar yang tak selalu berujung pada pencapaian maksimal.

Biar nggak ketinggalan update terkini, yuk follow kami di Google News di sini!