
Tottenham Hotspur kembali berada dalam situasi genting di Liga Inggris untuk kali kedua dalam dua musim terakhir. Posisi mereka di papan bawah membuat klub London Utara itu harus menoleh ke belakang, dengan ancaman degradasi yang kini tidak lagi terdengar mustahil. Dalam kondisi seperti ini, peran pemimpin di lapangan menjadi sorotan, terutama setelah serangkaian insiden yang melibatkan kapten tim, Cristian Romero.
Thomas Frank, yang ditunjuk untuk membenahi Spurs setelah era Ange Postecoglou berakhir, kini menghadapi tekanan besar. Dengan 13 laga tersisa, Tottenham berada di peringkat ke-15, hanya berjarak enam poin dari zona degradasi. Situasi tersebut semakin rumit karena performa sejumlah tim di bawah mereka justru sedang menanjak.
Latar Belakang Krisis Tottenham Musim Ini
Ange Postecoglou memang sempat mempersembahkan trofi Liga Europa pada musim 2024/25, namun finis di posisi ke-17 Premier League membuat manajemen klub mengambil keputusan tegas untuk mengakhiri kerja sama. Thomas Frank kemudian dipercaya membawa Spurs kembali ke jalur yang benar.
Namun, perjalanan Frank sejauh ini jauh dari kata meyakinkan. Tottenham kesulitan menjaga konsistensi, dan kini terancam terlibat langsung dalam persaingan bertahan di kasta tertinggi Inggris. Lebih buruk lagi, sang manajer harus kehilangan salah satu pemain seniornya dalam beberapa laga penting ke depan.
Masalah Besar di Balik Ban Kapten Cristian Romero
Kepergian Heung-min Son pada bursa transfer musim panas membuat Frank harus menunjuk kapten baru. Tanggung jawab itu diberikan kepada Cristian Romero, dengan keyakinan bahwa bek asal Argentina tersebut memiliki kualitas kepemimpinan dan bisa memberi contoh lewat sikapnya di lapangan.
Namun, penilaian tersebut mulai dipertanyakan. Sepanjang musim ini, Romero dua kali menerima kartu merah, sebuah catatan yang jelas merugikan tim. Insiden pertama terjadi pada Desember saat Tottenham kalah di kandang dari Liverpool, ketika Romero diusir keluar lapangan usai dianggap menendang Ibrahima Konate.
Kartu merah kedua datang dalam laga melawan Manchester United pekan lalu. Tekel tinggi Romero terhadap Casemiro membuat Tottenham harus bermain dengan sepuluh pemain di Old Trafford, memperberat beban rekan-rekannya. Dua insiden itu menambah daftar panjang, dengan total enam kartu merah yang diterimanya dalam empat setengah tahun berseragam Tottenham.
Gaya bermain agresif yang kerap tak terkontrol tersebut dinilai telah merugikan tim pada momen-momen krusial, sekaligus menimbulkan pertanyaan besar soal kelayakannya sebagai pemimpin di lapangan.
Micky van de Ven, Opsi Kapten yang Dinilai Lebih Tepat
Tottenham bukan klub asing dengan figur kapten berpengaruh. Heung-min Son pernah membawa tim meraih kejayaan Eropa dan mengakhiri penantian trofi selama 17 tahun. Harry Kane pun dikenal sebagai pemimpin yang memimpin lewat contoh di lapangan.
Dalam konteks saat ini, Romero dianggap gagal memenuhi standar tersebut. Situasi itu membuka peluang bagi Micky van de Ven untuk mengambil peran lebih besar. Bek asal Belanda tersebut merupakan rekan duet Romero di jantung pertahanan dan telah menjadi bagian penting sejak bergabung dari Wolfsburg pada musim panas 2023 dengan nilai transfer 40 juta pound, setara sekitar Rp800 miliar.
Pada usia 24 tahun, Van de Ven sudah mencatatkan 82 penampilan dan disebut-sebut sebagai salah satu aset terpenting klub. Pada Januari lalu, nilainya bahkan dilaporkan mencapai 100 juta pound atau sekitar Rp2 triliun. Thomas Frank sendiri telah memasukkannya ke dalam kelompok pemain inti kepemimpinan, dan Van de Ven kerap dipercaya mengenakan ban kapten ketika Romero absen.
Performa Van de Ven musim ini juga mencerminkan konsistensi. Ia mencatat akurasi umpan 89 persen, menciptakan 0,2 peluang per 90 menit, serta menyumbang empat gol dari 23 penampilan liga. Dalam aspek bertahan, ia memenangi 1,2 tekel, 1,3 duel udara, dan melakukan 3,5 pemulihan bola per pertandingan. Kecepatannya yang menonjol kerap menjadi penyelamat di situasi berbahaya.
Kontribusinya di dua sisi lapangan menunjukkan sosok bek yang tidak hanya solid, tetapi juga berani mengambil tanggung jawab. Dalam kondisi Tottenham yang membutuhkan stabilitas dan ketenangan, Van de Ven dinilai memiliki karakter yang lebih sesuai untuk memimpin tim.
Saatnya Keputusan Tegas dari Thomas Frank
Peran kapten di Tottenham menuntut lebih dari sekadar status atau agresivitas. Klub membutuhkan figur yang mampu menjaga disiplin, memberi rasa aman, dan mendorong tim keluar dari tekanan. Sejauh ini, Cristian Romero justru kerap menjadi sumber masalah.
Dengan ancaman degradasi yang semakin nyata, Thomas Frank dihadapkan pada keputusan penting. Mengalihkan ban kapten kepada Micky van de Ven bisa menjadi langkah strategis untuk menata ulang kepemimpinan di lapangan dan memberi Tottenham peluang lebih besar untuk bertahan di Premier League.
Biar nggak ketinggalan update terkini, yuk follow kami di Google News di sini!