Gilabola.com – Chelsea mungkin akan merasa untung usai memenangi perburuan untuk mengontrak Jeremy Jacquet dengan harga mencapai Rp 1,3 Triliun dari Rennes, tapi mereka menghadapi persoalan fisik dan aspek mental yang bisa menjadi risiko jangka panjang.
Raksasa London Barat bergerak cepat untuk mengalahkan Arsenal guna mendaratkan bakat muda Prancis berusia 20 tahun dengan bersedia membayar mahal untuk transfernya, yang jadi rekor penjualan bagi klub Ligue 1 tersebut.
Chelsea melihat Jacquet sebagai investasi jangka panjang di lini belakang, tetapi riwayat cedera adduktor dan kebutuhan peningkatan konsentrasi selama 90 menit menjadi risiko yang tidak bisa diabaikan.
Profil Jeremy Jacquet
- Kebangsaan : Prancis
- Usia : 20 tahun
- Posisi : bek tengah
- Tinggi : 1,9 meter
- Penampilan musim ini : 17
Dalam beberapa tahun terakhir, terutama sejak Todd Boehly masuk, raksasa London Barat memprioritaskan transfer pemain muda dengan proyek jangka panjang, meski pengalaman di level tinggi masih kurang.
Terbaru, mereka bersedia menebus Jacquet dari Rennes dengan harga mencapai hampir Rp 1,3 Triliun, padahal pemain tersebut baru menjalani musim penuhnya di tim utama klub Ligue 1 tersebut.
Memang, setelah sempat dipinjamkan ke Clermont Foot selama setahun, dia kemudian kembali ke Rennes pada awal tahun 2025, dan kemudian menjalani musim penuh pertamanya di musim ini dengan 17 penampilan di semua kompetisi.
Sekarang, dia langsung naik level begitu cepat setelah Chelsea kabarnya telah menebusnya mencapai Rp 1,3 Triliun, angka yang jauh di atas harga pasar sang pemain yang hanya Rp 348 Miliar.
Cedera yang Mengiringi Musim Jacquet
Sebenarnya, ada risiko besar dari keputusan Chelsea untuk mengontrak Jacquet, karena bek berusia 20 tahun ini diketahui bermain sepanjang musim dengan masalah cedera adduktor.
Memang cedera itu tidak cukup parah untuk menghentikannya tampil di Ligue 1 untuk Rennes, tetapi cukup membatasi intensitas latihan dan menit bermain di kompetisi lain.
Masalah ini membuat Jacquet harus ditangani secara hati-hati oleh staf pelatih Rennes. Pada laga Coupe de France menjelang Natal, perannya bahkan dibatasi demi mencegah kondisi memburuk.
Selain faktor fisik, Jacquet juga mengakui masih memiliki pekerjaan rumah dalam hal mental permainan. Dia menilai gaya bermainnya yang terlihat santai kerap disalahartikan sebagai kurang serius.
Jacquet menjelaskan bahwa ketika menguasai bola, dia cenderung bermain tenang dan rileks. Namun, dia juga menyadari perlunya meningkatkan konsentrasi sepanjang pertandingan dan dalam setiap duel, apalagi nanti bermain di liga seintens Premier League.
Sepak bola Premier League akan menuntut konsistensi mental yang jauh lebih tinggi daripada di Ligue 1. Kesalahan kecil dapat berujung fatal, dan Jacquet perlu mempersiapkan mentalnya dengan lebih baik jika tidak ingin terjatuh.
Pendapat Kami
Chelsea membeli Jacquet untuk investasi jangka panjang, bukan kebutuhan saat ini, jadi mereka harus bisa menangani bek 20 tahun itu dengan baik agar masalah cedera adduktor tidak menjadi serius dan mempengaruhi perkembangannya.

