Burnley harus menerima kenyataan pahit setelah kalah 3-4 dari Brentford di Turf Moor dalam laga yang diwarnai tujuh gol, dua gol dianulir, dan keputusan VAR hingga menit ke-100. Tuan rumah sempat bangkit dari ketertinggalan tiga gol, namun sepakan Mikkel Damsgaard pada masa injury time serta gol Ashley Barnes yang dibatalkan menjadi pembeda dalam pertandingan ini.
Kekalahan ini terasa menyakitkan karena Burnley sebenarnya berhasil mengubah arah laga setelah babak pertama berjalan buruk. Namun pada akhirnya, detail kecil dan keputusan teknologi video asisten wasit menentukan nasib mereka.
Babak Pertama yang Membuat Burnley Terpojok
Brentford langsung memanfaatkan celah di lini belakang Burnley sejak awal. Pada menit ke-10, Mikkel Damsgaard lepas dari penjagaan di tepi kotak enam meter dan menanduk sepak pojok Dango Ouattara menjadi gol pembuka.
Tim tamu yang melakukan lima perubahan susunan pemain tampil lebih tajam. Kevin Schade sempat membuang peluang emas pada menit ke-24 ketika hanya berhadapan dengan Martin Dubravka, tetapi satu menit berselang Igor Thiago tidak melakukan kesalahan. Ia memanfaatkan umpan terobosan Damsgaard, unggul dalam duel fisik, lalu menempatkan bola ke sudut bawah gawang.
Gol ketiga datang pada menit ke-34. Lemparan jauh Michael Kayode tidak mampu diantisipasi dengan baik oleh pertahanan Burnley. Lucas Pires sempat menyapu sundulan Sepp van den Berg di garis gawang, tetapi Schade menyambar bola muntah untuk membuat skor menjadi 3-0.
Suasana stadion berubah tegang. Suporter tuan rumah melontarkan cemoohan, bahkan sebagian meneriakkan protes kepada pemilik klub, Alan Pace. Burnley tampak kehilangan arah sampai akhirnya sebuah momen di penghujung babak pertama memberi harapan.
Umpan silang tembakan Jaidon Anthony terlalu cepat untuk diantisipasi Kayode, yang justru membelokkan bola ke gawang sendiri melewati Hakon Valdimarsson. Kiper Brentford itu baru menjalani start keduanya di Liga Inggris karena Caoimhin Kelleher absen setelah pasangannya melahirkan.
Gol tersebut setidaknya menjaga peluang Burnley tetap hidup sebelum turun minum.
Perubahan Babak Kedua dan Momentum Comeback
Scott Parker melakukan dua pergantian saat jeda dengan memasukkan Lesley Ugochukwu dan Lyle Foster menggantikan Josh Laurent serta Jacob Bruun Larsen. Perubahan itu segera memberi dampak.
Belum dua menit babak kedua berjalan, Anthony kembali mengirim ancaman dari sisi kanan. Tembakannya di tiang jauh lagi-lagi mengenai Kayode dan masuk ke gawang sendiri. Skor berubah menjadi 3-2 dan atmosfer stadion kembali bergairah.
Burnley yang sebelumnya pernah bangkit dari ketertinggalan dua gol saat mengalahkan Crystal Palace kini kembali percaya diri. Tekanan demi tekanan akhirnya berbuah pada menit ke-60. Hannibal Mejbri mengirim umpan silang dalam dari sisi kiri, dan Zian Flemming menyundul bola dengan presisi ke dalam gawang.
Kedudukan 3-3 membuat pertandingan berubah menjadi terbuka. Ugochukwu sempat melihat tembakannya dibelokkan tipis ke luar lapangan, sementara Flemming nyaris mencetak gol keduanya ketika Brentford terlihat goyah.
Dua belas menit sebelum waktu normal berakhir, Flemming sempat kembali mencetak gol setelah menyambar umpan Anthony. Namun setelah pemeriksaan VAR yang cukup lama, gol itu dianulir karena bahu Anthony dinilai berada dalam posisi offside pada prosesnya.
Gol Injury Time dan Gol Penentu di Menit 100
Ketika kedua tim terus mencari gol penentu, Brentford yang justru menemukan celah lebih dulu. Pada menit ketiga injury time, Rico Henry mengirim umpan dari sisi kiri yang disambut Damsgaard dengan sepakan ke sudut bawah gawang. Skor berubah menjadi 4-3.
Burnley belum menyerah. Saat pertandingan memasuki menit ke-100, Ashley Barnes yang kini berusia 36 tahun mencetak gol yang diyakini sebagai penyama kedudukan. Namun selebrasi itu tak bertahan lama. VAR kembali terlibat dan memutuskan Barnes mengontrol bola dengan tangan sebelum mencetak gol. Keputusan tersebut membatalkan harapan tuan rumah.
Peluit akhir disambut sorakan dari tribun, kali ini sebagai bentuk dukungan kepada tim yang dinilai tampil penuh semangat meski hasil akhir tidak berpihak.
Kekalahan ini memperlihatkan dua sisi Burnley dalam satu pertandingan. Mereka rapuh di fase awal, tetapi mampu bangkit dan menekan hingga detik terakhir. Namun di level kompetisi seperti ini, detail kecil dan ketepatan momen menjadi penentu. Pada laga dengan tujuh gol dan dua yang dianulir, satu sentuhan tangan dan satu keputusan VAR cukup untuk mengubah satu poin menjadi tangan kosong.

