Dua Dosa Lampard, Penyebab Werner & Havertz Gagal Bersinar di Chelsea

Gilabola.com – Sudah habis 4,3 Trilyun, tapi Chelsea malah terdampar di urutan kesembilan. Wajar saja Roman Abramovich yang merasa sudah habis duit banyak akhirnya hilang kesabaran pada Frank Lampard dengan pengusaha Rusia itu memang dikenal suka hasil yang instan dan gonta-ganti pelatih.

Seperti kata mantan bos Chelsea Guus Hiddink, soal transfer pemain memang bukan semata-mata tanggung jawab seorang pelatih, tapi bagaimana mendapatkan hasil dari para pemain hasil rekrutan tersebut, itu sepenuhnya tanggung jawab utama sang manajer.

Menurut transfermarkt, duo Jerman Kai Havertz dan Timo Werner adalah dua rekrutan termahal musim panas Frank Lampard, masing-masing dibeli senilai 1,37 Trilyun dari Leverkusen dan 907 Milyar dari RB Leipzig. Tapi, justru keduanya yang paling flop di antara rekrutan lainnya.

Advertisement
K9Win
K9Win

Pada akhirnya bos 42 tahun itu kini digantikan manajer asal Jerman Thomas Tuchel yang kehilangan pekerjaannya di Paris Saint-Germain, dengan dia diharapkan menjadi sosok yang tepat untuk mengembalikan kecemerlangan duo Der Panser, Kai Havertz dan Timo Werner.

Tentu saja seperti kata-katanya sendiri, Frank Lampard patut menyesali karena tidak diberi waktu lebih seperti Ole Gunnar Solskjaer di Manchester United, tapi kegagalan duo rekrutan termahal Chelsea di musim ini bagaimanapun akhirnya menjadi dosa yang harus ditanggung sang legenda besar yang menjadi manajer di Stamford Bridge.

Salah Beli

Ada laporan yang menyebut bahwa Frank Lampard berdebat dengan dewan klub soal transfer Declan Rice. Sang manajer ngotot ingin merealisasikan transfer, tapi dewan yakin bahwa Chelsea sudah punya banyak stok di posisi yang sama dengan Rice, yakni pos gelandang bertahan seperti N’golo Kante, Jorginho, Mateo Kovacic, dan bintang muda Billy Gilmour. Sementara, ada area lain yang lebih butuh untuk diupgrade.

Anggapan serupa layak disematkan pada transfer Kai Havertz dan Timo Werner. Mantan bintang Leverkusen merupakan tipe no.10 klasik, tapi Chelsea sebenarnya sudah punya Mason Mount. Sementara karakter eks striker RB Leipzig tidak benar-benar sesuai dengan filosofi permainan 4-3-3 The Blues. Jadi apakah pembelian kedua bintang muda mahal Jerman itu benar-benar sesuai yang dibutuhkan Frank Lampard untuk meningkatkan skuadnya?

Salah Posisi

Akhirnya untuk mengakali keduanya, Frank Lampard harus memainkan duo Jerman di tempat yang tak semestinya. Kai Havertz dalam banyak kesempatan dimainkan di posisi no.8 yang membatasi bakatnya, sementara Timo Werner bermain sebagai penyerang kiri.

Selama di Leverkusen, Havertz kebanyakan bermain dalam peran no.10 (25 kali) selama musim 2019/2020, dan tak pernah sekalipun bermain di peran no.8. Sementara Werner, seperti kata Tony Cascarino, bukan tipe striker yang bisa bermain sendirian di pos no.9 apalagi penyerang kiri. Dia tipe striker seperti Michael Owen, yang butuh striker pendamping umumnya dalam formasi 4-4-2. Di Leipzig, penyerang Jerman biasanya diduetkan dengan Yussuf Poulsen.

Pada akhirnya kini menarik untuk dinantikan apakah Thomas Tuchel, yang juga menyukai formasi 4-3-3, bisa menebus dosa-dosa Frank Lampard tersebut dan menghidupkan kembali performa duo Jerman Kai Havertz dan Timo Werner yang transfer gabungannya menghabiskan hampir 2,3 Trilyun.